Bersih-Bersih Rumah Baru

915 32 0
                                        

Rumah kecil, dengan atap yang sudah minta diperbaiki. Bagian depannya sangat sederhana, hanya berupa sebuah pintu, dengan dua buah jendela kayu di samping kanan dan kiri. Teras yang kecil, dengan lantai yang masih berupa cor. Sangat sederhana bila dideskripsikan.

"Bismillahirrahmanirrahim ...."

Mas Yudis memasukkan kunci yang diberikan Gunawan kepadanya. Kemudian pintu berbahan kayu itu terbuka. Dan terpampanglah kondisi rumah yang lumayan kotor dan berantakan. Wajar saja, kata Gunawan, pemilik rumah ini sudah setahun lebih meninggalkan rumah dan menetap di perantauan tanah Kalimantan.

Sebenarnya, kami—aku dan Mas Yudis—sempat berpikir untuk pergi ke Kalimantan. Mas Yudis akan bekerja di kebun sawit milik Pak Broto—seseorang yang suamiku kenal. Sedangkan aku akan turut bekerja sebagai tukang cuci pakaian di sana—atau bekerja apa saja yang penting halal.

Namun, Mas Yudis berubah pikiran. Ia merasa tidak tega kepadaku dan kepada anak-anak. Kabarnya, cuaca di Kalimantan cukup panas. Bukan itu saja, sih, alasan utamanya. Selain itu, tempatnya terlalu jauh. Akan mahal ongkos menyeberangi lautan, apabila kami ingin sesekali singgah ke rumah kedua orang tuaku di Jakarta.

"Hacih!" Mas Yudis langsung bersin.

"Hacih!" Dan aku pun.

Debu-debu kotor langsung menyapa indera penciuman kami. Padahal baru membuka pintu, belum juga masuk. Mungkin karena saking tidak terawatnya rumah ini.

"Kalian di luar dulu, ya? Bunda dan Ayah akan membersihkan rumah ini," kataku kepada kedua putriku.

Mereka mengangguk mengerti seraya menutup hidung menggunakan tangan. Semburat kecewa masih tergambar jelas di wajah kedua putriku.

"Assalamualaikum ...."

Aku dan Mas Yudis masuk, untuk bersama-sama membersihkan rumah. Lantainya yang masih berupa cor-coran itu sangat ... dan sangat kotor. Aku kebingungan karena tidak menemukan sapu satu pun.

"Mbak Santi, nyari sapu, ya?" tanya Gunawan yang rupanya belum beranjak pergi.

"Iya," jawabku.

"Biar kuambilkan dari rumahku, ya? Mbak Santi tunggu sebentar," katanya.

Gunawan bergegas pergi untuk mengambilkan sapu untukku.

Aku berjalan menuju sebuah pintu. Kubuka pelan-pelan, dengan mengucap, "Assalamualaikum ...."

Oh, rupanya itu adalah sebuah kamar. Ukurannya kecil. Rumah ini memang kecil, jadi wajar saja kalau keadaan di dalamnya pun serba kecil.

Berantakan. Benar-benar rumah kosong yang menyeramkan. Aku tidak tahu apakah tidur di kamar sekecil dan semenakutkan ini akan dapat menemukan kenyamanan? Aku tidak yakin. Tapi dibandingkan harus tidur di kolong jembatan, rasanya aku lebih memilih tinggal di sini. Setidaknya kami tidak kepanasan dan tidak kehujanan, bukan?

Sebuah kasur kapuk tergeletak di atas lantai. Aku menghampirinya. Kusentuh permukaan kasur itu. Lembab. Dan tiba-tiba kurasakan lengket di sekitar jemari tanganku. Apa ini? Kulihat ada noda hitam di sekitar permukaan jari telunjukku. Dahiku mengernyit. Kudekatkan telunjuk ke lubang hidung, mengendusnya. Bau. "Hoek!" Perutku tiba-tiba saja mual. Rupanya itu adalah tai tokek, atau tai cicak, mungkin. Baunya menyengat sekali.

"Santi, kau tidak apa-apa?" Mas Yudis melongok dari ambang pintu. Wajahnya agak cemas memperhatikanku.

"Tidak apa-apa, Mas," jawabku.

"Kau kenapa? Mabuk perjalanan?" tanyanya.

"Bukan mabuk perjalanan, Mas. Tapi mabuk tai cicak," kataku seraya menunjukkan jariku yang terkena tai cicak atau tokek, entahlah. Aku tidak bisa membedakannya. Kecuali kalau si tokek atau si cicak itu membuang kotoran langsung di depan mataku, tentu aku bisa membedakannya.

Rumah Idaman (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang