Silahturahmi

201 15 0
                                        

Sedikit berbagi tentang KEUTAMAAN BERSEDEKAH.

Rasulullah SAW bersabda; “Bersegeralah untuk bersedekah. Karena musibah dan bencana tidak bisa mendahului sedekah.”

Dan seperti yang terdapat dalam surat Al Talaq ayat 7:

لِيُنۡفِقۡ ذُوۡ سَعَةٍ مِّنۡ سَعَتِهٖ‌ؕ وَمَنۡ قُدِرَ عَلَيۡهِ رِزۡقُهٗ فَلۡيُنۡفِقۡ مِمَّاۤ اٰتٰٮهُ اللّٰهُ‌ؕ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفۡسًا اِلَّا مَاۤ اٰتٰٮهَا‌ؕ سَيَجۡعَلُ اللّٰهُ بَعۡدَ عُسۡرٍ يُّسۡرًا

(Liyuntiq zuu sa'atim min sa'atihii wa man qudira 'alaihi riquhuu falyunfiq mimmaaa aataahul laah; laa yukalliful laahu nafsan illaa maaa aataahaa; sa yaj'alul laahu ba'da'usriny yusraa)

Artinya: "Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan."

...

Hari ini, aku baru saja membagikan sedikit rejeki yang kami peroleh berupa makanan kepada beberapa tetangga terdekat.

Kemudian, sore harinya, usai kami mandi dan melaksanakan ibadah salat asar berjamaah di rumah, Mas Yudis mengajak kami untuk berkunjung ke rumah sahabat karibnya.

Ya, kami akan bersilahturahmi ke rumah Mas Gunawan dan istrinya—Mbak Farida.

Tidak jauh. Cukup berjalan kaki saja. Lagi pula masih satu kampung dengan rumah kami. 

Oh, iya, kalian masih ingat aku pernah mengunjungi rumah Mbah Mar? Itu, loh, dukun pijet-urut yang terkenal di kampung ini?

Jika rumah Mbah Mar ada di paling ujung timur dusun ini, maka rumah Gunawan ada di paling barat dusun ini.

Setelah berjalan kaki, kami pun sampai di depan sebuah rumah minimalis bercat merah muda. Rumahnya terlihat bagus dan bersih.

Di depan pintu pagar setinggi satu setengah meter, kami bisa melihat seorang lelaki tengah memainkan burungnya. (Burung dalam artian hewan, loh, Gaes? Jangan berpikiran ngeres!)

"Assalamualaikum?" ucap suamiku.

Lelaki yang tengah asyik bersiul, bermain dengan burung-burung di dalam sangkar itu pun menoleh ke arah kami dengan terkejut. "Loh, Yudis! Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balasnya tersenyum girang melihat kedatangan kami.

Ia adalah Gunawan. Lelaki yang mengenakan kaos oblong dan celana pendek santai itu pun bergegas membukakan pintu pagarnya untuk kami.

"Walah, alhamdulilah, kedatangan tamu," ujarnya. "Mari, mari, silakan masuk Yudis, Mbak Shanti, dan ... haduh! Lupa lagi nama kalian." Lelaki itu menepuk dahinya.

"Savina, Om," kata putri sulungku.

"Kalau aku Savira, Om," kata putri bungsuku.

"Wah, iya. Savina sama Savira, ayo masuk! Kebetulan banget kalian datang. Om punya sesuatu untuk kalian."

Aku menyuruh mereka berdua untuk menyalami Mas Gunawan dengan sopan. Mereka pun melakukannya. Setelah itu, Gunawan membukakan pintu masuk rumahnya untuk kami.

"Mari, silakan duduk dulu. Aku mau panggilkan istriku di belakang."

Gunawan pun pergi untuk memanggil istrinya.

Rumah Idaman (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang