Dikunjungi Pak Kepsek

631 22 0
                                        

Kehidupan di kampung agak sedikit berbeda dari kehidupan di kota. Selain itu, lingkungan dan pola pikirnya juga agak berbeda. Akan tetapi, satu yang pasti sama. Baik hidup di kota maupun di kampung sama-sama harus memperjuangkan kesejahteraan hidup.

Hari berganti hari lagi. Kami sudah mulai terbiasa dengan kehidupan yang amat sangat sederhana. Kedua putriku juga sudah jarang komplain perihal menu makanan sehari-hari.

Hari ini, usai mengantarkan kedua putriku ke sekolah, aku hendak ikut suami ke kebun Pak Harjono untuk membantu memanen kacang tanah. Orang-orang di kampung ini biasa menyebutnya sebagai "derep".

"Mas, aku ikut, ya? Lagi pula, aku sudah selesai masak, mencuci, dan bersih-bersih rumah."

Mas Yudis yang baru selesai memakai kaos lengan panjang lusuh itu pun tersenyum memandangku. "Kamu sudah memasak, mencuci, dan bersih-bersih rumah, kan?" tanyanya, dan aku mengangguk. "Itu artinya kamu sudah cukup melakukan pekerjaan sebagai seorang istri. Jadi, urusan mencari uang, biar aku saja."

"Tapi, Mas—"

Mas Yudis menyentuh pipiku. "Kamu di rumah saja. Nanti kalau putri kita pulang, bagaimana? Kerja di kebun itu enggak bisa ditentukan jam kerjanya. Kalau rampung cepat, ya, alhamdulilah. Kalau enggak, ya, bisa sampai sore. Nanti gimana kalau putri kita nyariin, terus kalau mereka ingin makan siang?"

"Aku sudah bawain mereka bekal, kok, Mas. Tadi, aku juga kasih kunci duplikat rumah ini ke Savina. Aku sudah bilang sama anak-anak bahwa aku tidak menjemput mereka ketika pulang sekolah nanti," jelasku. "Lumayan, kan, kalau aku ikut bekerja. Biar nambah penghasilan kita," ujarku tersenyum sumringah.

Mas Yudis melepaskan tangannya dari pipiku, kemudian menghela napas panjang. Dia menunduk sebentar, lalu mengangkat kepalanya dan menatapku dalam. "Terima kasih banyak, ya, atas pengertianmu. Kamu istriku yang sangat hebat. Mau diajak hidup susah di kampung ini saja aku sudah sangat bersyukur. Maafkan aku, ya, Santi. Aku belum bisa ngasih nafkah yang banyak buat kamu," kata suamiku sedih.

"Mas, bukan begitu maksudku."

"Santi." Tampak kedua mata itu berubah teduh. "Santi, sesusah apapun kehidupan kita sekarang, aku tidak akan pernah membiarkan kamu dan anak-anak kelaparan. Jadi, kumohon ... percayakan padaku untuk urusan nafkah. Aku akan bekerja apa saja yang penting halal."

Aku menjadi tak tahan untuk segera memeluk suamiku yang kulitnya mulai kehitaman karena sering terbakar matahari itu. "Sejak menikah denganmu. Aku tidak pernah merasa sedikitpun untuk tidak percaya padamu, Mas."

"Jangan percaya padaku. Nanti musrik," canda Mas Yudis balas memelukku.

"Semangat, ya, Mas."

"Pasti, Sayang."

Mas Yudis mencium keningku, kemudian pamit untuk pergi bekerja.

***

Pukul setengah dua belas siang, ketika aku tengah menunggu Mas Yudis dan anak-anak pulang, tiba-tiba terdengar suara sepeda motor berhenti di halaman rumah. Sesaat kemudian, terdengar suara ketukan pintu.

Aku pun berjalan untuk membukakan pintu. Dan betapa terkejutnya mendapati kedua putriku sudah berdiri di depan pintu bersama seorang lelaki yang kukenal.

"Assalamualaikum, Bunda," ucap kedua putriku seraya mencium punggung telapak tanganku bergantian.

"Assalamualaikum, Bu Santi." Lelaki itu turut mengucapkan salam seraya tersenyum.

"Waalaikumsalam," jawabku. "Loh, kalian pulang sama Pak Kepala?"

"Iya, Bun. Pak Kepala bilang mau mengantar kami. Bunda enggak jadi ke kebun?" tanya Savira.

Rumah Idaman (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang