Sambutan Keluarga Besar

220 14 2
                                        

Jarak kadang-kadang menjadi penghalang bagi sebuah hubungan. Meski hal itu sebenarnya bisa diatasi dengan cara berkomunikasi yang baik. Faktanya hal itu sering dirasa tidak cukup. Maka saling bertemu atau berkunjung adalah solusi paling tepat.

...

Kami sudah sampai di stasiun bus. Kami pikir, menggunakan alat transportasi inilah yang paling ekonomis.

Kami mengambil hari Sabtu sore untuk berangkat menuju kota yang terkenal metropolitan itu. Sehingga Savina dan Savira tidak perlu membolos lama dari sekolah.

Dan aku juga sudah membuatkan surat izin kepada wali kelas mereka masing-masing.

Memakai uang seadanya, akulah yang meminta kepada Mas Yudis agar bernegosiasi dengan sopir bus dan membeli dua tiket saja. Dengan begitu kami akan lebih berhemat.

***

Minggu pagi, kami sampai di depan rumah tersebut dengan diantarkan sebuah taksi. Kami turun dengan membawa lelah akibat perjalanan jauh.

Ini adalah kali pertama aku merasakan capek yang teramat sangat. Apalagi di bus, aku duduk sembari memangku Savira, dan Mas Yudis memanggku Savina.

Rumah berlantai dua, dengan pagar yang tinggi, halaman yang cukup luas, dan bangunan yang dari luar bercat putih. Rumah ini yang dulunya—sewaktu kecil hingga tumbuh remaja menjadi tempat favoritku.

Aku sendiri sejak kecil tidak suka bepergian. Keseharianku hanyalah belajar, membaca novel, dan bermain catur dengan papa di rumah. Itulah mengapa, di antara ketiga bersaudara, akulah yang paling dekat dengan papa.

Segera kupencet bel pintu, sehingga tidak lama kemudian perempuan tua berpakaian kebaya santai bunga-bunga, yang selalu khas menggelung rambut panjangnya dengan rapi itu menyambut kami dengan senyuman penuh rindu.

"Assalamualaikum?"

"Waalaikumsalam. Mbak Santi! Ya Allah, embok kangen banget!" Perempuan itu memelukku.

"Mbok Sumi apa kabar?"

"Alhamdulillah, baik. Eh, ini, Non Vira sama Non Vina, masyaallah rindunya embok sama kalian."

Usai bertemu kangen, perempuan yang kerap kami sebut dengan Mbok Sumi itu mempersilakan kami masuk.

"Sini, Mas Yudistira, biar embok saja yang bawa karungnya."

"Ini berat, Mbok. Sudah, biar aku saja," kata Mas Yudis yang tengah membawa masuk sebuah karung berwarna putih, berisi singkong, kacang tanah yang sudah dikeringkan di bawah sinar matahari, dan jengkol.

Kami cuma punya itu sebagai buah tangan.

"Biar Mang Fudin saja kalau begitu."

Suara seorang lelaki bertubuh kerempeng menghampiri kami dari halaman belakang. Lelaki itu sudah hampir sepuluh tahun bekerja sebagai tukang kebun di rumah ini.

"Memangnya Mang Fudin kuat? Berat ini, loh, Mang?" kata suamiku.

"Yang penting tidak seberat istriku, Mas Yudistira." Mang Fudin mengambil alih karung tersebut.

Kami pun tertawa. Mang Fudin pernah mengatakan bahwa istrinya gemuk sekali. Aku sendiri belum pernah bertemu dengan istri Mang Fudin. Mungkin bila dibayangkan seperti Rina—istrinya Pak Parjo.

"Mang Fudin apa kabar?" tanya Mas Yudis seraya merangkulnya.

"Baik, Mas. Mas Yudistira apa kabar?"

"Alhamdulillah, seperti yang Mang Fudin lihat."

Tiga mobil pribadi berjajar rapi di garasi. Yang warna hitam adalah mobil milik papa. Sedangkan dua lainnya, yang putih milik Arinta, dan yang merah milik Mbak Kinanti. Itu artinya, mereka sedang berkumpul di rumah ini.

Rumah Idaman (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang