Rumah Idaman

850 22 1
                                        

Rumah idaman bagiku adalah ... sebuah rumah yang aman dan nyaman. Rumah yang terbilang sederhana, tetapi cukup untuk menampung kebersamaan keluarga. Rumah yang indah bukan karena bentuknya, tetapi karena penghuninya merasa bahagia dan bersyukur. Rumah yang kokoh bukan hanya karena bahannya, tetapi juga karena kami bisa saling menguatkan di segala suasana, baik suka maupun duka. Rumah yang aman dan nyaman karena kami saling menghargai dan saling menjaga. Serta rumah yang damai dan tentram, karena kami saling membantu dan saling bergandengan tangan, di situasi sepelik dan sesulit apapun.

Inilah rumah idamanku. Terisi akan kisah dan kasih yang hangat. Dan inilah keluargaku yang selalu bersyukur dan sabar. Aku tidak tahu apakah kisahku ini bisa menghibur kalian. Aku hanya ingin menceritakan sedikit kisah, yang kutulis dengan penuh kasih.

...

Allahu akbar ...! Allahu akbar ...! Allahu akbar ...! Laailaahaillallah huwallahu akbar ...! Allahu akbar walillah hilham ...!

Akhirnya, kami tiba di hari yang fitri. Hari besar penuh kemenangan umat islam. Sebab, selama sebulan penuh ramadhan ini, kami baru saja berperang. Berperang melawan hawa nafsu, berperang di dalam kebaikan dan amal perbuatan.

Kami berangkat menuju masjid utama kampung ini bersama-sama dengan membawa perlengkapan alat salat. Ya, kami akan menunaikan ibadah salat ied.

Maha Besar Allah SWT. Kami masih diberi kesempatan untuk merayakan hari kemenangan umat islam—yang rutin dilaksanakan setiap tanggal 1 Syawal—dalam keadaan sehat jasmani dan rohani.

Saat kami sedang berjalan menuju masjid, tiba-tiba saja kami mendengar percakapan dua orang perempuan.

"Wati, aku mau minta maaf, ya, kalau selama ini, aku banyak salah sama kamu."

Suara itu sangat familiar di telingaku.

"Sama-sama. Aku juga banyak salah di masa lalu sama kamu. Mohon maafkan aku juga, ya?"

Aku dan Mas Yudis sama-sama menoleh ke belakang. Dan alangkah terkejutnya, kami melihat Bu Tejo dan Mbak Wati tengah berpelukan, bermaaf-maafan. Kami pun menghentikan langkah.

"Ada apa, Bun?" tanya Savira.

"Ssttt ...." Aku menempelkan telunjuk ke bibirku sendiri, menyuruh kedua putriku diam sebentar.

"Kabarnya, kamu mau menikah, ya? Kapan?" tanya Bu Tejo.

"Minggu depan, Bu Tejo. Hanya acara kecil-kecilan, kok. Yang penting bisa halal," kata Wati.

"Alhamdulillah. Tapi, kalau bisa, jangan kecil-kecil amat, ya? Minimal, ya, siapkan juga makan-makan untuk kami para tetangga," ujar Bu Tejo.

Wati terkekeh. "Insyaallah, Bu Tejo."

"Katanya, habis nikah, kamu mau ikut suami? Terus rumah kamu gimana?"

"Iya, itu benar. Aku mau ikut suami ke Cilacap. Kalau urusan rumah, niatnya mau aku jual sama pekarangannya."

Bu Tejo manggut-manggut. "Kok jadi sedih begini, ya? Harusnya aku, tuh, seneng. Enggak ada yang godain suamiku lagi."

"Ih, Bu Tejo! Baru juga minta maaf, udah mulai lagi," kesal Wati. "Tapi sumpah! Demi Allah! Kalaupun dulunya aku dan suamimu pernah ada ketertarikan, kami tidak pernah melakukan ha-e-ha-e seperti yang kamu tuduhkan itu!" tegas Wati.

"Iya, maaf, maaf. Aku juga percaya, kok, sama kamu. Lagian saat itu aku cemburu banget lihat kalian berduaan di kebun!"

"Iya, itu juga salahku, sih. Mohon dimaafkan, ya?" Wati mengulurkan tangannya.

Rumah Idaman (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang