Layaknya merpati yang terbang jauh, lalu kembali kepada rumahnya. Kami pun demikian. Setelah menginap selama dua malam di Jakarta, Selasa sore kami berangkat dari stasiun bus Jakarta menuju kampung halaman.
Kami membawa banyak oleh-oleh dari Jakarta. Bukan karena kami sengaja membelinya. Tapi kakakkul—Mbak Kinanti, dan adikku—Arinta, yang memberikannya kepada kami untuk dibawa pulang kampung.
Ada sekardus buah apel, sekardus dodol Betawi, sekardus kue talas Bogor, sekardus susu kotak anak, dan sekardus snack anak. Banyak sekali, ya?
Mas Yudis membeli empat tiket untuk kami. Alasannya karena kasihan melihatku kelelahan memangku Savira sepanjang perjalanan seperti ketika berangkat ke Jakarta. Lagi pula, barang bawaan kami juga banyak sekali.
Dan Rabu pagi kami sampai di rumah menggunakan jasa ojek yang mengantarkan kami sampai di depan rumah.
***
Hari selanjutnya, kami sudah segar kembali. Mengusir rasa lelah akibat perjalanan jauh, memang harus dengan beristirahat seharian penuh. Dan kami melakukannya kemarin.
Akan tetapi, hari ini sudah bukan waktunya lagi untuk bermalas-malasan.
"Kakak, Adik, ayo bangun! Sudah pagi, ayo salat subuh berjamaah!" Aku menepuk lembut punggung mereka.
"Masih, ngantuk, Bun," rengek si sulung.
"Kemarin, kan, kalian sudah beristirahat seharian. Sekarang, sudah waktunya kita beraktivitas normal lagi. Ayo bangun! Kalian juga, kan, harus kembali bersekolah. Sudah tiga hari, loh, kalian ketinggalan pelajaran sekolah," kataku membujuk mereka.
"Iya, iya, deh, Bun." Savina pun bangkit, mendudukkan dirinya sebentar, disusul adiknya.
Setelah mengusir rasa sebal dan kantuk, mereka pun beranjak mengikutiku menuju kamar mandi alam di belakang rumah kami, yaitu sumur alias tempat permandian kami.
Langit masih agak gelap. Baru pukul setengah lima dini hari. Sang dewi malam juga masih tampak menyinari alamnya.
Mas Yudis sudah mengisi di wadah-wadah seperti ember dan bak mandi kami dengan air sumur yang ditimbanya secara manual.
Savina dan Savira buang air kecil terlebih dahulu, kemudian mencuci muka masing-masing. Sementara aku mengisi satu ember yang bagian bawahnya sedikit dilubangi kecil—itu adalah sarana tempat atau wadah air wudhu kami.
***
Setelah menunaikan ibadah salat subuh, Savira dan Savina hendak menuju kamar lagi, tetapi aku memanggilnya.
"Eh, kalian! Jangan tidur lagi, ya? Lebih baik kalian duduk dulu. Tunggu bunda menyiapkan sarapan pagi untuk kalian. Mengerti?"
"Masih ngantuk, Bun?" rengek Savira.
"Ayo semangat! Ini sudah pukul lima pagi. Bunda akan menyiapkan air hangat juga untuk mandi kalian berdua."
Meski dengan wajah malas, akhirnya kedua putriku pun menuruti perintahku.
***
Usai sarapan pagi dengan menu nasi goreng—karena bahan yang ada di dapur tinggal beras dan telur—kedua putriku yang sudah berseragam rapi pun pamit untuk pergi ke sekolah.
"Kalian bawa ini, ya?" Aku mengulurkan dua kantong plastik kepada mereka.
"Itu apa, Bun?"
"Susu kotak sama snack. Bagikan ke teman-teman sekelas kalian, ya? Itung-itung bagi-bagi rejeki," kataku.
"Baik, Bun," jawab mereka antusias.
Mereka pun mengambil kantong plastik tersebut. Kemudian mencium punggung telapak tanganku dan Mas Yudis. Setelah itu, mereka berangkat ke sekolah dengan semangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah Idaman (Tamat)
Romance👨👩👧👦🌻🌿🏡🌄 Ini hanyalah kisah kecil dariku .... Setiap orang tentu bercita-cita untuk memiliki RUMAH IDAMAN masing-masing. Sama, aku pun. Akan tetapi, tahukah kalian bahwa sebuah rumah idaman itu tidak harus rumah yang mewah. Tidak harus r...
