Chapter 41

579 106 18
                                        

Happy Reading

"Berbeda dengan ponselku, begitu terdeteksi. Sistem keamanan langsung menyapa! Kau tahu apa yang dikatakan?!"

'Selamat malam Nona Yoora! Cuaca malam ini agak buruk, Suhu udara mencapai 6°C'

'Silahkan masuk dan hangatkan tubuh anda. Kami akan menyiapkan selimut dan teh. Apa anda ingin camilan?'

"Begitu katanya! Belum lagi, Seira dilarang masuk"

Frankenstein terkekeh mendengar penuturan Yoora

"Jangan tertawa! Aku belum selesai!" kesal Yoora sembari memukul Frankenstein

"Biar kutebak! Saat kau melangkah masuk, selimut dan tehnya sudah disiapkan? Lalu sebuah tangan robot muncul dari langit langit dan mengobati lukamu?" tebak Frankenstein tepat sasaran

Yoora terperangah, tak percaya

"Kau mengintip?!" pekiknya

"Ha? Tentu saja tidak!" tampik Frankenstein

"'Yoora' yang menciptakan semua alat itu. bisa dikatakan sebelum Tao muncul, Dia orang yang bertanggung jawab atas keamanan sekolah dan rumah" Frankenstein mendongkak hendak bernostalgia

"Kau yang benar! Kau tahu Sui dan Yuna menganggapnya orang bodoh! Nilai disekolah nya saja pas passan!!" Yoora seakan tak terima

Sebetulnya ia memang tak terima. Yoora kira, dirinya yang berada disini adalah perempuan bodoh yang mengagumi Frankenstein dan para pria penghuni rumah!

Ternyata dia seorang jenius! Bahkan semua fasilitas yang pernah Yoora nikmati adalah ciptaan nya!!

"Mengenai nilai sekolah, aku yang meminta nya untuk tak terlalu mencolok" beber Frankenstein

"Kalau begitu. Apa ini ada hubungan nya dengan dia yang pemalu?" tanya Yoora

"Pemalu?"

"Yup! Tao bilang -chapter 4- Yoora selalu menunduk tiap menatapnya! Belum lagi, tiap mengeluarkan kekuatan aku harus meminta izin dulu padamu!" Yoora menjelaskan kembali apa yang pernah didengar nya

"HAHAHAHAHA.." seketika Frankenstein tertawa keras

Mendengar, Yoora terperanjat

'Dia sedang cemburu. Pasti! Cemburu! Tak mungkin mereka hanya guru dan murid!'

"Dia bukan malu! Dia sedang mengumpat! HAHAHA" ucap Frankenstein dipertengahan tawa

"D..dia mengumpat?" suara Yoora agak tertahan

Frankenstein tak langsung menjawab dan malah tenggelam dalam tawanya yang membahana

Perasaan yang familiar Yoora rasakan, saat mendengar dan melihat Frankenstein tertawa

Seakan penampakan dan tawa itu pernah dilihatnya. Tapi dimana?

"Tao mengambil posisinya! Dan dia benci itu. Karena itu ia menunduk, agar sumpah serapahnya tak terdengar!"

"Dia belum bisa mengontrol emosi nya dengan baik, Dasar labil!"

Begitu mendengar ejekkan Frankenstein yang terakhir. Yoora langsung menutup mulut, tak percaya

'Sena'

'Dia juga mengatakan hal yang sama! Mereka...'

"Mirip" ceplos Yoora

"Apa? Kau bilang mirip apa?" Frankenstein mendengarnya!

Spontan. Ia segera menghentikan tawanya dan melirik gadis disebelah

Yang dilirik secepat mungkin menggelengkan kepala

"Bukan apa apa" katanya

Frankenstein memang kurang peka, jadi dia biarkan saja persoalan diatas mengambang begitu saja

"Oh! Aku lupa! Aku sedang diinterogasi" ingat Frankenstein

Setelah sepersekian menit puas terbahak bahak, akhirnya dia sadar juga

"Apa pertanyaan selanjutnya?" Frankenstein mengajukan pertanyaan

"Apa yang terjadi sehari sebelum aku muncul disini?" Yoora bicara dengan tatapan kosong

Saat ini wajah Sena tengah memenuhi benak nya. Pertanyaan demi pertanyaan muncul

'Aku masih ragu, kalau kakaklah yang mengirimku kemari'

'Kalau memang dia pelakunya. Apa tujuan nya? Kami masih sedarah, bukan!'

'Tidak! Pasti pelakunya si pengirim pesan! Kakak tetaplah kakak!'

'Tapi, kenapa kakak yang muncul saat aku memberi spoiler?!'

"Hei! Kau mendengarkanku?" ucapan Frankenstein sukses membuat Yoora terlonjak kaget

"Apa?" refleks Yoora

"Kau melamun? Ah sudahlah" Pria itu enggan peduli

"Dengar! Tak ada alasan bagiku untuk menceritakan nya padamu. Itu jawabanku" tolak Frankenstein

"Kau ini bic--oh! pertanyaanku--. Hei! Mana bisa seperti itu! Akukan sudah menjelaskan alasanku sakit kepala?!" Yoora tak terima dengan keputusan

"Jawabanmu terdengar tak masuk akal." cibir Frankenstein

Yoora terhenyak. Apa penjelasan nya yang setengah bohong sudah ketahuan?

"Pemegang kendali atas tubuhmu itu dirimu sendiri, kalau kau begitu ingin membeberkan masa depan kenapa otakmu menolak? Mereka punya pemikiran sendiri?" Frankenstein ada benarnya

Belum ketahuan! Tapi tetap saja. Yoora harus waspada! Ayo siapkan amunisi cadangan!

"Akan lebih masuk akal, jika seseorang menanamkan alat atau kamera didalam otakmu. Agar kau dapat dimonitor dan dihentikan saat mengungkap masa mendatang!"

Sangat masuk akal, penjelasan Frankenstein sangat dapat diterima

"Menyebut kematian sebagai sebab kepalamu sakit. Hei! Saat kau mengungkap keberadaan Loctis dan dia ditidurkan. Kau tak merasakan apa apa, bukan?" Frankenstein menunjuk Yoora

"Aku tak bilang kalau Loctis akan mati" Yoora membantah

"Ah! Kau tak bilang ya." Frankenstein dengan segera menarik jari

"Lantas, kenapa kau berusaha keras untuk membeberkan kematian Lazark? Padahal cukup mengungkap penyerangan Lukedonia saja" heran Frankenstein

"Itu karena aku ingin Lazark tetap hidup. Kalau aku hanya mengungkap pelaku penyerangan, kalian akan menempatkan nya diposisi terdepan tanpa rasa curiga"

"Karena itulah aku berusaha keras menyampaikan nya! Agar kalian lebih waspada" jelas Yoora panjang lebar

Yoora menatap lurus Frankenstein. Gadis itu merasa percaya diri karena kali ini dia jujur

Frankenstein yang mulanya duduk dikursi, bangkit. Dia menghampiri Yoora yang sedari tadi berdiri

"Ada kamera dimatamu, penyadap ditelinga, pelacak dikaki, pendeteksi diotak dan Chip kecil dilengan." jelas Frankenstein seraya menunjuk tiap bagian tubuh yang disebut

"Singkatnya, kau sedang dimonitor"

TBC

Hai! Saya update!

Silahkan Comment bila terdapat typo atau kesalahan lain nya

Silahkan Vote bila menghibur

Adios

Lost In The World Of NoblesseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang