Chapter 42

623 98 34
                                        

Happy Reading

"Dimonitor?"

Frankenstein mengangguk, mengiyakan.

"Apa? Tapi kenapa? Tidak! Siapa pelakunya?" shock Yoora

Frankenstein mengendikan bahu, tak tahu menahu

"Kalau begitu, semua pembicaraan kita disadap? Ahh Bagaimana ini?! Kenapa kau tak bilang dari tadi?!" panik. Yoora panik


"Jangan terlalu panik" Frankenstein menenangkan

"Bagaimana bisa aku tak panik?! Seseorang sedang memantauku dari jauh!" Yoora menolak untuk ditenangkan

Yoora berjalan mondar mandir, menatap kesegala arah memikirkan jalan keluar

"Aku sarankan kau untuk berhenti berpikir. Pendeteksi nya akan mengirim sinyal" saran Frankenstein kemudian kembali duduk dikursi nya

"Sinyal?"

"Segala sesuatu yang kau pikirkan akan terbaca" ungkap Frankenstein

Tubuh Yoora melemas, sekarang apapun yang dilakukan nya akan percuma.

'Sial! Aku harus bagaimana? Siapa pelakunya?! Apa pelakunya yang mengirimku kema-!'

'Akh! Isi pikiranku! Orang itu pasti tengah mendengarnya!!'

"Kalau masalah ini menimpa Yoora yang kukenal, seluruh alat itu pasti sudah hancur sekarang"

Bisa bisanya Frankenstein berkenang ria disituasi semacam ini

"Hancur? Bagaimana bisa! Alatnya ada didalam tubuhku!" Yoora skeptis

Frankenstein tak menjawab dengan mulutnya, melainkan dengan bahasa tubuh.

Dia memandang Yoora dari bawah hingga keatas, lalu memiringkan kepala sepersekian detik

"Kau mau aku-Apa?!" gagal. Yoora gagal membaca tiap gerakan

"Hancurkan tubuhmu" Frankenstein langsung menerjemahkan

Yoora tak mengerti. Bahasa tubuh yang Frankenstein tampilkan tak sinkron dengan isi mulutnya.

"Permisi sebentar. Kau tahu, bahasa isyaratmu tak mengandung kata 'Hancurkan tubuhmu' sama sekali" Yoora memberitahu

Frankenstein mengangkat alis kemudian tersenyum

"Ah! Maafkan aku. Kalau begitu biarku ubah" ralat Frankenstein

"Hancurkan saja lengan, kaki, mata, telinga, dan otakmu. Setelahnya lempar seluruh bagian dari sana" Frankenstein menunjuk jendela besar didalam ruangan dengan kepalanya

Kepala Yoora mengikuti arah kepala Frankenstein dengan polosnya tanpa rasa curiga. Begitu melihat tujuan yang dimaksud

'Dia sudah gila. Tidak. Memang gila'

Yoora berbalik, menatap Frankenstein seraya tersenyum

"Jangan bercanda" ujar Yoora riang

"Aku tak bercanda" Frankenstein ikut riang

"Aku bukan 'Yoora' yang kau kenal, jadi jangan berharap banyak" pinta Yoora tersenyum

"Kalau begitu, patahkan saja lenganmu. Biar otakmu aku yang urus" suruh Frankenstein

Pria itu dengan tenangnya menyuruh seseorang untuk mematahkan lengannya sendiri

Orang gila mungkin langsung menurut dan KRAK! tangannya patah.

Lost In The World Of NoblesseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang