Bab 6 (Christopher Nolan Morington)

18.2K 1.7K 9
                                        

Penting !
© Cerita ini hanya fiksi belaka. Kesamaan nama, tempat dan waktu tidak melatari cerita sejarah apapun.

Sabrina melepaskan anak panahnya dengan satu kali tembakan. Anak panah tersebut melesat cepat mengenai titik tengah dari sasaran target dihadapannya yang berjarak kurang lebih 30 meter. Bibirnya menyeringai puas akan hasil yang baru saja dia dapatkan. Suatu pencapaian yang luar biasa dalam waktu pelatihan yang sangat singkat.

"cukup mengagumkan melihat perkembangan anda kurang lebih satu minggu belakangan ini" puji guru memanah Sabrina. Tidak mengira Sabrina akan mengenai titik tengah target yang jaraknya 30 meter.

"semua ini tidak lepas dari pelatihan anda yang disiplin master" Sabrina membungkuk, memberi penghormatan secara tulus.

"bakat anda juga berperan penting Lady Melville. Sebagai guru saya merasa bangga dengan menjadikan anda murid saya. Terlepas dari status anda yang merupakan seorang wanita dan... Lady"

Tepat sehari setelah Sabrina meminta kepada ayahnya untuk diperbolehkan berlatih berpedang, memanah dan berkuda. Keesokan harinya seorang pria berumur kurang lebih sama dengan ayahnya tiba di kediaman Duke Melville, mengaku sebagai guru yang akan mengajarkan keterampilan bela diri. Tak tanggung-tanggung ayahnya Sabrina memilih guru pribadi untuk pengajaran anaknya. Seorang mantan jenderal besar istana yang diberikan gelar Baron oleh sang raja langsung, Christopher Nolan Morington atau sering disapa Sir Morington. Namanya cukup disegani dalam dunia kemiliteran. Sayangnya beliau memilih pensiun dini tanpa ada yang tau penyebab pastinya.

Semula Morington tidak percaya jika murid yang akan dia latih adalah seorang wanita, terlebih lagi bukan wanita sembarangan. Seorang Lady dari keluarga bangsawan ternama sekelas duke. Morington yang memiliki hutang budi dengan kepala keluarga Melville tidak bisa menolak begitu saja tawaran untuk melatih anaknya itu. Dengan berat hati Morington yang dikenal tegas dan disiplin memutuskan untuk melatih putri bungsu Duke Melville. Morigton mengira dengan dirinya memberi pelatihan yang keras kepada Lady Melville, secara perlahan wanita itu akan menyerah dengan sendirinya. Tapi siapa sangka jika Lady Sabrina Melville memiliki tekat baja yang membuatnya pantang untuk mundur. Bahkan Morington sempat menyesali keputusannya yang menilai seseorang dari penampilan luar.

"saya rasa untuk teknik memanah Lady Melville telah menguasai secara keseluruhan dengan baik. Untuk saat ini yang perlu Lady lakukan adalah disiplin berlatih secara terus-menerus" tutur Morington.

"apakah sudah saatnya saya berlatih pedang master? Mengingat master baru saja memuji keahlian memanah saya" tanya Sabrina tanpa sungkan. Walaupun dari segi penampilan luar Morington terkesan garang tapi jelas sekali pria itu sudah menganggap Sabrina seperti putrinya sendiri.

"benar Lady. Sudah saatnya untuk anda berlatih berpedang. Perlu saya ingatkan terlebih dahulu, berpedang lebih sulit dibanding teknik perlindungan diri seperti yang lainnya karena berpedang adalah pertahanan terakhir seseorang. Hidup dan mati dipertaruhkan untuk itu. Jika Lady merasa takut dan tidak mampu. Lady bebas memilih untuk menyerah sekarang" Morington menatap tajam wajah Sabrina demi melihat reaksi apa yang akan diperlihatkannya.

"saya tidak akan menyerah sampai akhir master karena saya sudah bertekad menuntaskan semua ini. Sepertinya jawaban itu yang ingin anda dengar. Bukan begitu master?"

Morington tersenyum puas "baiklah kalau begitu. Saya tekankan mulai malam ini Lady Melville sudah harus menguasai teknik dasar mengayunkan pedang" pesan terakhir Morington kepada Sabrina sebelum ia pamit undur diri.

Siang hari setelah selesai berlatih dengan Morington. Sabrina mengajak Matilda untuk pergi bersamanya menuju pusat kota demi melepas penat beserta stress karena jadwalnya yang padat seminggu terakhir.

What the Lady WantsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang