Bab 26 (letter)

11K 1.2K 50
                                        

Penting !
© Cerita ini hanya fiksi belaka. Kesamaan nama, tempat dan waktu tidak melatari cerita sejarah apapun.

"aku mendengar dari para pelayan kalau kau sedang berlatih bersama Sir Morington? Tidakkah kau malu Sabrina? Kau seorang lady! untuk apa kau mempelajari keterampilan seperti pria?" cecar ibu tiri Sabrina pada sore hari saat mereka semua sedang menikmati waktu minum teh. Mereka yang dimaksud tentu saja Sabrina, ibu tiri dan kedua kakak tirinya beserta Ayah Sabrina. Ayah Sabrina memaksa putri-putrinya untuk berkumpul bersama setelah sekian lama terpisah. Percaya atau tidak hal tersebut Sabrinalah yang mengusulkan sendiri kepada ayahnya. Sabrina memiliki tujuan lain dibaliknya.

Sabrina menghembuskan nafas perlahan. Sabrina melirik ayahnya sejenak. Memastikan reaksi apa yang sedang diperlihatkan ayahnya. Umpan Sabrina berhasil ditangkap dengan baik oleh ibu tirinya "benar ibu. Beberapa minggu lalu jika bukan karena Matilda mungkin saya tidak akan ada disini lagi" tutur Sabrina lamat.

Ayah Sabrina urung mengangkat cangkir tehnya ketika mendengar nada memprihatinkan dari kalimat yang Sabrina tuturkan. Perhatiannya beralih kepada Sabrina.

"apa maksud ucapanmu nak?" tanya ayah Sabrina dengan alis mengerut dalam.

Sabrina menggosok pelan matanya. "seseorang... berniat mencelakaiku ayah bahkan orang itu hampir menusukku dengan benda tajam. Jika bukan karena Matilda mungkin aku sudah mati saat itu" Sabrina berkata diikuti raut wajah penuh ketakutan. Tangannya saling meremas kuat. Tubuhnya sedikit bergetar bak orang trauma. "itulah alasan sebenarnya saya ingin belajar beladiri"

Ayah Sabrina seketika gusar "apa?!Benarkah itu Sabrina? Berani sekali orang itu mengincar putriku!" ayah Sabrina memanggil keras nama kepala kesatria kediaman Duke of Avondale. Selaku orang yang bertanggung jawab dalam keamanan putri-putri duke.

Orang yang dipanggil ayahnya tidak lama kemudian datang menghadap. Memberi salam kepada ayahnya dan setelahnya berdiri tegap.

Ayah Sabrina bangkit dari kursinya. Melangkah penuh amarah menghampiri pria berkisaran usia 30 tahun tersebut. Sabrina tentu mengenal dengan baik kepala kesatria. Lantaran barak latihan para kesatria dengan bangunan utama kediaman Duke of Avondale tidak terpaut jauh. Sabrina membenci pria itu karena masih memiliki hubungan darah dengan ibu tirinya dan juga pria itu sama busuknya seperti ibu tiri Sabrina. Dua orang itu tentu saja merupakan komplotan. Memangnya bagaimana bisa pria itu menjabat menjadi kepala kesatria jika tidak menyingkirkan kepala kesatria terdahulu yang diasingkan ayahnya karena telah gagal melindungi ibu kandung Sabrina. Semua itu tentu saja terdapat konspirasi dibaliknya.

Sang kepala kesatria kediaman Duke of Avondale tidak bereaksi apapun. Seperti siap dengan segala sesuatu yang akan dilakukan ayah Sabrina.

BUKK

Terdengar suara kencang pukulan berasal dari tinjuan keras cekaman tangan duke yang mengenai telak wajah kepala kesatria. Sampai-sampai membuat sudut bibir kepala kesatria robek dan mengeluarkan cukup banyak darah. Ayah Sabrina tak tanggung-tanggung meninju pria itu dengan tenaga penuh. Sabrina sedikit puas akan pemandangan di depannya. Satu kali ia disakiti maka orang terdekat dari ibu tiri atau kakak tirinya harus mendapat balasan yang setimpal.

"BAGAIMANA SELAMA INI KAU MENJAGA PUTRIKU LEWIS?! Apa perlu kuingatkan nasib kesatria yang gagal dalam menjalankan tugasnya huh?!!!" teriak ayah Sabrina yang disaksikan hampir semua pelayan dan kesatria kediaman Duke of Avondale. Kebanyakan orang yang menyaksikan kemarahan duke mendadak menciut. Sabrina mengetahui dari Matilda jika terakhir kali ayahnya marah besar ialah saat mendapati kematian ibu kandung Sabrina. Bahkan ayahnya nyaris membunuh kesatria yang ditugaskan menjaga khusus ibu kandungnya. Ayah Sabrina memang menjadi sosok yang sangat mengerikan jika marah. Apalagi menyangkut orang-orang yang ia sayangi.

What the Lady WantsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang