Bab 18 (hutan daintree)

13.3K 1.3K 6
                                        

Penting !
© Cerita ini hanya fiksi belaka. Kesamaan nama, tempat dan waktu tidak melatari cerita sejarah apapun.

Tubuh Sabrina berkeringat. Dirinya berguling dari satu sisi ke sisi lain ranjang. Matanya terpejam rapat sembari meracau kalimat-kalimat tidak jelas yang sesekali diselingi isakan tangis.

Matilda yang mendengar nonanya mengigau dalam tidur segera membangunkan. Disentuhnya kepala Sabrina lembut sebelum Matilda memanggil-manggil nama nonanya untuk menyadarkan jika semua itu hanyalah mimpi.

Sabrina yang merasakan sentuhan dalam tidurnya seketika membuka mata. Buru-buru mendudukan diri sekaligus memeluk kedua kakinya yang tertekuk. Wajahnya menelungkup di depan lutut. Nafasnya memburu dengan cepat.

Matilda berinisiatif mengambilkan segelas air di atas nakas tepat di samping ranjang Sabrina.

Matilda menyodorkan segelas air putih kepada Sabrina yang diterima tanpa banyak kata olehnya. Segera Sabrina menenggak habis air tersebut dalam sekali tegukan.

Sabrina tersenyum lemah. Menyuruh Matilda untuk kembali tidur dan tidak perlu mengkhawatirkannya. Bagaimanapun kondisinya sudah mulai membaik.

Salah satu alasan mengapa Sabrina tidak pernah tidur lebih dari 3 jam pada malam hari ialah, apabila ia tertidur lama selalu saja mimpi buruk datang menghantui dalam tidurnya. Membuat Sabrina gelisah luar biasa seperti akan mati secara perlahan. Hal itulah yang membuat Sabrina selalu letih dan lelah setiap harinya. Sabrina kesulitan untuk terlelap nyenyak.

Sabrina menyadari jika Sabrina Melville memiliki gangguan tidur yang cukup parah. Membuatnya tertekan dan mengalami stress berat. Tahap insomnia yang ia punyai dapat dikategorikan ke dalam insomnia kronis.

Sabrina lelah, ingin rasanya mengakhiri semua derita yang ia miliki saat ini juga, akan tetapi mengakhiri semua itu sama saja dengan kematian.

Sabrina bangkit dari tempat tidurnya. Mengambil jubah yang tersampir dikepala ranjang sebelum mengenakannya dengan cepat. Sabrina memutuskan kembali berlatih pedang seraya menunggu fajar tiba.

Setelah mengikuti makan malam di istana beberapa hari lalu. Sabrina mengetahui jika tidak lama lagi akan diselenggarakan festival berburu musim panas antar kerajaan.

Sudah menjadi tradisi, Imperium Delacroix menjadi tuan rumah disetiap tahun. Selain karena kerajaannya yang menjadi peringkat nomor satu di antara ke 4 kerajaan lainnya. Imperium Delacroix juga memiliki sebuah hutan bernama Hallerbos yang terkenal akan banyaknya hewan buruan langka.

Sabrina tidak mengetahui gambaran menyeluruh mengenai festival pemburuan, yang dia tau tentang festival itu selain Imperium Delacroix menjadi tuan rumah setiap tahunnya, putra mahkota Imperium Delacroix juga lah yang selalu menjadi pemenang berturut-turut pada ajang besar tersebut. Kemampuan putra mahkota dalam berburu memang tidak diragukan lagi. Mengalahkan pesainnya yang mayoritas berasal dari negara atau kerajaan lain. Pria itu memiliki kesempurnaan tidak hanya pada fisik melainkan pada kemampuannya juga.

Berhubung keluarga Duke of Avondale tidak memiliki keturunan laki-laki, wajib hukumnya untuk digantikan oleh kepala keluaraga yang sedang menjabat, akan tetapi faktor usia ayahnya yang tidak muda lagi menjadi pengecualian untuk diwajibkan berpartisipasi karena ajang perburuan tersebut dikhususkan kepada muda-mudi calon pewaris tahta atau jabatan. Walau begitu keluarga Duke of Avondale tidak pernah melewatkan festival yang dimana menghadirkan banyak orang-orang penting berkedudukan serta memiliki kekuasaan tinggi. Khususnya bagi ibu tiri Sabrina yang gila akan jabatan. Ajang seperti itu sangat cocok untuk memperluas koneksi.

Sabrina menghembuskan nafas perlahan, menjernihkan pikiran sejenak sebelum mulai mengayunkan pedang. Besar kemungkinan dirinya bertemu bahaya saat festival berburu nanti.

What the Lady WantsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang