Penting !
© Cerita ini hanya fiksi belaka. Kesamaan nama, tempat dan waktu tidak melatari cerita sejarah apapun.
Seharusnya Sabrina tau, sebesar harapannya akan suatu hal sebesar itu pula rasa kecewa yang akan didapat jika harapan tersebut tidak terpenuhi. Manusia hanya bisa berencana Tuhan lah yang menentukan. Sabrina tau semua itu, akan tetapi dirinya lupa jika di dunia ini takdir sering kali bercanda.
Setibanya Sabrina dan Morington di luar kawasan Hutan Daintree. Sabrina dibuat kaget sekaligus tidak percaya terhadap kehadiran rombongan lain di wilayah Hutan Daintree.
Rombongan tersebut adalah kumpulan pasukan kesatria istana yang sepertinya hendak berlatih berburu sama seperti dirinya. Dilihat dari perlengkapan mereka kebanyakan membawa panah beserta busur. Seolah bukan hal itu yang terburuk, rombongan tersebut ternyata dipimpin langsung oleh putra mahkota.
Sial, bagaimana bisa sebuah kebetulan berulang kali terjadi dalam hidup Sabrina yang baru.
Sabrina membenahi tudung jubah berwarna abu-abu miliknya, berusaha sebaik mungkin menyembunyikan wajah dari pandangan orang-orang. Pikirannya tidak memprediksi kemungkinan akan bertemu dengan rombongan putra mahkota. Sabrina terlanjur dibuat gembira hingga lalai memikirkan hal lain.
Morington memperlambat laju kuda sebelum perlahan menepi menghampiri rombongan kesatria istana secara terang-terangan. Sabrina tidak tau maksud dan tujuan sebenarnya dari Morington. Untuk sementara Sabrina hanya diam, mengamati terlebih dulu apa yang akan Morington lakukan.
Morington lekas turun dari kuda ketika seorang pria tak lain putra mahkota berjalan seorang diri menghampiri mereka. Mau tak mau Sabrina ikut serta menuruni kuda dibantu oleh Morington.
Mendadak Sabrina mual, tepat setelah kedua kakinya berhasil menapaki tanah.
Morington benar-benar memacu kudanya bak orang kesetanan. Membuat tubuh Sabrina berguncang dan menyebabkan perutnya bergejolak hebat. Tak henti-henti Sabrina berdoa sepanjang perjalanan demi keselamatannya. Sabrina menyerah menunggangi kuda bersama pria tua seperti Morington.
"Christhoper Morington memberi salam kepada putra mahkota. Semoga berkah tuhan selalu melimpah kepada anda" Morington membungkuk hormat. Sedangkan Sabrina memalingkan wajah, berusaha agar tidak dikenali oleh putra mahkota.
Sabrina teringat kembali aksi putra mahkota yang menyudutkannya ke sebuah pohon di istana tempo hari. Jarak mereka begitu intens, sampai-sampai Sabrina masih mengingat jelas wangi tubuh pria itu yang sialannya sungguh menggoda. Aroma woods, amber, bercampur satu dengan musk, menghasilkan wangi yang sangat jantan.
Wajah tampan putra mahkota beserta manik matanya yang memikat ditambah tubuh kekar nan proposional terekam nyata dalam benak Sabrina. Membangkitkan gairah liar dalam dirinya. Jangan salahkan Sabrina jika ia merasakan semua itu. Bagaimanapun Sabrina adalah seorang wanita dewasa. Paham betul mengenai kebutuhan biologis satu itu. Sabrina tak munafik mengakui jika putra mahkota lah fantasi terliarnya. Benar atau tidak, hal tersebut terjadi karena Sabrina mengetahui benar seberapa perkasanya putra mahkota saat tidak sengaja ia mengintip percumbuan panas pria itu dengan Countess of Salisbury.
"cukup panggil aku Halard seperti biasanya," ucap putra mahkota dengan suaranya yang khas, berat sekaligus merangsang. Oke, mungkin hanya Sabrina dan wanita lain diluar sana merasa demikian. Tidak berlaku untuk Morington.
Morington tersenyum lebar "sudah aku duga kau akan tumbuh sehebat dan sekuat ini Halard" Morington menepuk bahu putra mahkota bangga. Layaknya seorang ayah kepada anak laki-laki kesayangannya.
Putra mahkota hanya mengangguk singkat. Pandangan putra mahkota beralih sepenuhnya ke arah belakang tubuh Morington. Sejak tadi matanya menyorot penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
What the Lady Wants
Fiksi SejarahTerbangun ditubuh seorang putri bungsu Duke Melville entah Sabrina harus merasa beruntung atau sial
