Penting !
© Cerita ini hanya fiksi belaka. Kesamaan nama, tempat dan waktu tidak melatari cerita sejarah apapun.
Sabrina melahap makanannya dengan nikmat, tentunya setelah memastikan terlebih dulu jika tidak ada racun didalam makanannya. Apapun bisa saja terjadi jika ibu beserta kakak tirinya masih bisa bernafas. Rasa steak daging dipadukan saos barbeque gurih beserta kentang yang direbus lama berhasil menaikan moodnya. Sabrina benar-benar kelaparan setelah menghadapi reunian singkat dengan ibu dan kakak-kakak tirinya. Entah makanan apa saja yang telah masuk ke mulut Sabrina sebelumnya. Sabrina tak terlalu mempedulikan. Sesekali mata Sabrina tak sengaja bersitatap dengan manik hitam Nigel yang memandang Sabrina penuh ketertarikan dari seberang meja. Sepertinya Nigel tak pernah melihat Sabrina makan lahap seperti saat ini.
Nigel Cavendish adalah pria yang cukup pintar menyembunyikan sekaligus mengendalikan ekspresi wajahnya dari penglihatan orang-orang lain. Seperti saat ini, Nigel mengubah raut wajahnya menjadi serius ketika diajak berdiskusi dengan ayah Sabrina.
Sabrina yang melihat hal tersebut tanpa sadar tersenyum geli. Tentunya senyum Sabrina tak luput dari perhatian Isabella dan Elizabeth.
Orang kepercayaan ayah Sabrina, George, menghampiri kursi makan ayahnya. Menghentikan sejenak diskusi mengenai hal apapun antara ayahnya dengan Grand Duke of Leinster. Setelahnya, membisikan sesuatu kepada duke yang spontan membuat ayahnya terbelalak.
"tunggu apa lagi? Persilahakan beliau untuk bergabung!" seru ayahnya yang terdengar jelas di pendengaran Sabrina mungkin juga semua orang.
Tak lama kemudian ayahnya bangkit berdiri. Hal tersebut membuat orang yang ada di meja makan bertanya-tanya.
Namun, kebingungan semua orang mulai terjawab tak kala seorang pria tampan pemilik iris mata biru dengan santai memasuki ruang makan kediaman Duke of Avondale.
"tidak perlu repot-repot menyambutku Duke Melville. Maaf atas kelancanganku yang bertamu saat jam makan siang terlebih tidak memberi kabar sebelumnya" sambar pria yang baru memasuki ruang makan kediaman Duke of Avondale.
Sabrina yang familiar dengan pemilik suara tersebut seketika menghentikan potongan pada makanannya. Menoleh cepat mengikuti arah pandang semua orang. Matanya melebar saat bertatapan dengan pemilik iris mata berwarna biru langit. Berbeda dari putra mahkota yang memiliki iris mata biru layaknya lautan lepas. Pria yang kini dengan seenaknya menempati kursi kosong disamping kiri Sabrina memiliki mata berwarna biru bak hamparan langit luas.
Pria yang baru saja bergabung di meja makan tak lain tak bukan ialah pangeran kedua alias Robert. Sudah berapa hari kiranya Sabrina tak bertemu pria itu? Tanpa sadar Sabrina menghitung dalam hati.
"mohon maaf atas ketidaksopanan kami yang tidak menyambut kedatangan pangeran kedua dengan layak. Jika tak keberatan maukah your highness ikut mencicipi hidangan penutup bersama kami?" tanya ayah Sabrina sopan. Mendengar segala penuturan ayahnya membuat kedua kakak tiri beserta ibu tirinya membelalak tak percaya. Sabrina tertawa melihat raut terkejut mereka. Sepertinya mereka semua tak menduga jika tamu tak diundang tersebut ialah pangeran kedua yang sejak remaja menetap di kerajaan tetangga. Tentu mereka baru mengetahui fakta itu lantaran mereka semua tidak hadir saat pesta penyambutan kepulangan Robert.
"tak masalah. Akupun kesini dengan tujuan menyampaikan pesan langsung kepada Grand Duke of Leinster dari yang mulia raja" Sabrina dapat mendengar nada congkak dari pria disampingnya.
Nigel yang semula tak memedulikan kehebohan yang ditimbulkan akibat kedatangan mendadak Robert segera memberi atensi penuh kepada pangeran kedua. Berdasarkan pengamatan Sabrina, Nigel cukup mengenal sosok pangeran kedua atau Robert.
KAMU SEDANG MEMBACA
What the Lady Wants
Ficción HistóricaTerbangun ditubuh seorang putri bungsu Duke Melville entah Sabrina harus merasa beruntung atau sial
