Penting !
© Cerita ini hanya fiksi belaka. Kesamaan nama, tempat dan waktu tidak melatari cerita sejarah apapun.
Sabrina sedang sibuk berkonsentrasi mengayunkan pedangnya, dengan lihai melompat dari satu sisi ke sisi lainya guna menghindari sabetan pedang kayu yang dilayangkan Morington. Seperti biasa, rutinitas pagi Sabrina dimulai dengan latihan pedang bersama Morington. Saat ini matahari sudah beranjak semakin tinggi. Menandakan waktu telah memasuki siang hari.
Sudah hampir dua minggu semenjak kepergian ayahnya menuju estat Grand Duke Cavendish untuk menyusul kakak tiri beserta ibu tirinya. Desa-desu mengenai pembatalan pertunangan kakak pertamanya akibat pemberontakan rakyat telah menyebar cepat di kediaman Duke of Avondale dan tentu saja menimbulkan kehebohan yang cukup inklusif.
Raja mengutus Grand Duke Cavendish secara langsung untuk ditugaskan memimpin pasukan guna mencari keberadaan penguasa wilayah yang sempat melarikan diri sebagai bentuk keseriusan dalam menangani permasalahan yang terjadi. Sayangnya, mereka semua tidak tau, jika mereka tidak akan pernah menemukan penguasa wilayah dalam kondisi hidup-hidup. Pria berdosa itu tidak lagi bernyawa, sudah pasti penyebabnya karena pria itu tewas ditangan utusan Sabrina.
Sabrina mundur perlahan, dengan cekatan mengambil ancang-ancang memutar tubuh kesamping. Gerakan memutarnya yang sangat cepat berhasil mengecoh penglihatan Morington sepersekian detik. Tangan kanannya yang memegang pedang kayu direntangkan lurus tepat kearah belakang tengkuk Morington. Sebagai tanda jika kali ini Sabrina telah berhasil menyudutkan gurunya dalam duel.
"sepertinya kali ini saya yang menjadi pemenangnya master" kata Sabrina dengan bangga. Suatu pencapaian yang tidak mudah. Tidak sia-sia waktu yang telah ia habiskan untuk berlatih pedang pagi dan malam hari pada beberapa minggu terakhir. Sampai-sampai tubuhnya mati rasa diberbagai titik akibat pukulan dari pedang kayu yang selalu mengenainya di awal-awal.
"perkembangan anda selalu membuat saya terkejut Lady Melville. Saya sungguh kaget mengetahui lady bisa menguasai teknik berputar seperti itu di waktu relatif singkat" Morington tidak habis pikir dengan kemampuan Sabrina yang jauh diatas rata-rata orang lain. Bahkan seorang pria belum tentu bisa langsung menguasai teknik tersebut. Di mata Morington, Sabrina terlihat seperti bukan manusia biasa.
"terima kasih atas pujiannya master. Semua ini tidak lepas dari bimbingan beserta kemampuan mengajar anda yang sungguh hebat" Sebagai murid sudah sepatutnya untuk bersikap sopan kepada guru. Sehebat apapun dia kelak tentunya itu semua tidak lepas dari jasa Morington.
Morington tertawa. Tidak mengira setelah latihan panjang, Sabrina tidak pernah sekalipun melupakan kodratnya yang merupakan seorang lady. Morington pikir wanita itu akan terlihat menyerupai wanita gagah nan perkas, tetapi tebakannya justru meleset. Sebaliknya, penampilan Sabrina semakin terlihat anggun dari hari ke hari.
"apa Lady Melville sudah memiliki seorang tunangan?" tanya Morington setelah memutuskan untuk menyudahi pelatihannya.
Alis Sabrina mengerut samar. Merasa tidak asing denger pertanyaan dengan nada seperti itu "tidak. Saya belum memiliki seorang tunangan master" jawab Sabrina jujur. Setelah pesta yang Sabrina datangi dua minggu lalu, tak henti-hentinya surat lamaran masuk ke kediaman Duke of Avondale yang ditujukan kepadanya. Tidak sedikit bahkan bangsawan yang memiliki gelar tinggi dan hampir seusia dengan ayahnya ikut melamar Sabrina. Tak diragukan lagi Sabrina tentu saja menolak semua lamaran yang ada tanpa menunggu ayahnya kembali terlebih dulu. Terlebih lagi Sabrina sudah bertekad tidak akan menikah di kehidupannya kali ini. Setelah membalaskan dendamnya, Sabrina berharap dirinya dapat kembali ke zaman dimana dirinya berasal. Sabrina tidak ingin selamanya menetap di tempat asing ini.
"benarkah? Saya tidak menduga akan hal itu. Sebagai guru saya mengharapkan jodoh yang terbaik untuk anda Lady Melville" Morington tersenyum penuh arti.
Sabrina tak membalas, ia hanya mengangguk kecil sebagai tanggapan. Saat ini dirinya harus segera bersiap-siap untuk melanjutkan sesi pembelajarannya bersama Madam Beatrix.
"master. Sepertinya saya harus segera pergi" Sabrina telah selesai merampungkan peralatan untuk berlatihnya. Mentapa Morington sejenak sembari meminta izin pergi terlebih dulu.
Morington yang mengetahui jadwal Sabrina yang selalu padat setiap harinya hanya dapat menggelengkan kepala tak habis pikir. Sabrina memang berbeda dari kebanyakan lady. Disaat bangsawan-bangsawan wanita lainnya disibukan dengan acara minum teh atau pesta kebun. Tidak berlaku untuk Sabrina yang hari-harinya dihabiskan untuk berlatih dan belajar.
Sabrina pergi terlebih dulu setelah mendapat persetujuan dari Morington. Buru-buru mendatangi perpustakaan (tempat dimana biasanya Sabrina gunakan untuk belajar bersama Madam Beatrix) tanpa sempat mengganti pakaiannya terlebih dulu. Kini ia mengenakan celana hitam dipadu kemeja putih dengan rambut terikat rapi, tentunya itu adalah pakaian wajib Sabrina saat berlatih pedang. Untung saja Madam Beatrix tidak terlalu mempermasalahkan pakaian Sabrina ketika ia datang. Madam Baetrix lebih menghargai ketepatan waktu dibanding segalanya.
Sabrina membungkuk hormat, meminta maaf atas pakaiannya yang tidak mencermintakan seorang lady yang elegan.
Hari ini seperti biasa Sabrina akan mempelajari ilokusi (tutur kata) terlebih dahulu, karena, jika seorang pria menggunakan pedang sebagai senjatanya, berbeda dengan wanita yang menggunakan kemampuan lidahnya untuk bertarung. Kemampuan dalam menguasai pembendaharaan kata dan mengelolah kalimat sindiran halus sudah menjadi hal wajib untuk dikuasai oleh wanita bangsawan. Jujur saja, Sabrina tidak menyukai pembicaraan yang selalu menyisipkan kata-kata kiasan dalam berinteraksi. Sayangnya, konsekuensi menjadi lady ialah harus pandai dalam bertutur kata halus dan sopan. Tidak boleh asal bicara apalagi berkata jelek. Menegur seseorangpun ada etika tersendiri.
Sabrina sedang asik membaca buku yang diwajibkan untuk dihapal sesegera mungkin oleh Madam Beatrix ketika suara Matilda dengan sopan menginterupsi.
"mohon maaf atas kelancangan saya yang menggangu anda My Lady, akan tetapi saya memiliki kabar yang sangat penting" kata Matilda dengan takut-takut melirik Sabrina dan Madam Beatrix secara bergantian.
"katakan. Kabar apa yang begitu penting hingga kau beranggapan harus mengatakannya saat ini juga" Sabrina melirik Madam Beatrix. Wanita berumur itu hanya menampilkan wajah datar. Tipikal wanita bangsawan yang tidak banyak bicara tetapi sekali bicara berhasil membungkam semua mulut yang ia anggap sebagai musuh.
"My Lady diundang yang mulia ratu secara langsung untuk afternoon tea di istana mawar besok sore" kata Matilda sambil menunduk dalam.
Sabrina yang sudah memprediksikan cepat atau lambat hal tersebut akan terjadi hanya bisa menghembuskan nafas lelah. Sudah jelas niat ratu mengundangnya dalam acara minum teh itu. Undangan minum teh bersama Ratu adalah bentuk perhatian bagi orang-orang terpilih untuk mengenal mereka lebih personal. Biasanya ratu hanya mengundang wanita bangsawan yang berstatus sebagain calon tunangan atau tunangan pangeran untuk minum teh bersama. Kalau ratu mengundang wanita diluar status itu sudah dipastiakan ratu tertarik dengan orang tersebut.
Sabrina tersenyum kalem sebelum melirik Madam Beatrix untuk meminta pendapatnya. Siapa sangka, wajah Madam Beatrix yang biasanya datar kali ini tersenyum. Ada sepercik kebanggan dari sorot mata tuanya.
"bagaimana menurut Madam? Apa saya memerlukan suatu hal khusus ketika menghadiri undangan minum teh yang mulia ratu? Saya rasa Madam Beatrix lah orang yang paling tau apa yang harus saya lakukan nanti" Sabrina berkata terlebih dulu. Memancing pendapat Madam Beatrix.
Madam Beatrix tersenyum. Sosoknya terlihat jauh lebih bersemangat dari hari-hari biasanya "dengan senang hati saya akan mengajarkan segala hal yang Lady Melville perlu ketahui dan butuhkan" katanya yang sukses membuat Sabrina tersenyum.
Sepertinya belajar etika kebangsawanan tidak terlalu buruk. Pikir Sabrina.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
What the Lady Wants
Historical FictionTerbangun ditubuh seorang putri bungsu Duke Melville entah Sabrina harus merasa beruntung atau sial
