Penting !
© Cerita ini hanya fiksi belaka. Kesamaan nama, tempat dan waktu tidak melatari cerita sejarah apapun
Sepulang dari pusat kota Sabrina diberi tahu oleh George jika ayahnya ingin makan malam bersama.
Sabrina beberapa malam terakhir memang tidak pernah absen untuk makan malam bersama ayahnya. Selain untuk menarik perhatian ayahnya, Sabrina juga tidak mungkin melewatkan peluang dimana kedua kakak tiri beserta ibu tirinya sedang tidak berada di rumah.
Setelah membersihkan diri dilanjut mengenakan pakaian dan berias seadanya dibantu oleh Matilda. Tidak lama kemudian Sabrina telah siap. Sebelumnya Sabrina menyempatkan untuk tidur sejenak demi mengurangi kantung matanya yang menurut Matilda sangat parah. Kali ini tubuhnya benar-benar terasa segar seperti terlahir kembali. Dengan anggun dan percaya diri Sabrina berjalan menuju aula makan yang letaknya cukup jauh dari kamar tidur miliknya.
Sabrina datang lebih awal dibanding ayahnya. Dia lebih suka menunggu seseorang daripada meminta orang lain menunggu. Makan malam kali ini dijadwalkan lebih cepat atas permintaan Sabrina karena ada tugas yang harus Sabrina kerjakan mulai malam ini.
Tidak lama kemudian ayahnya tiba di ruang makan diikuti oleh orang kepercayaan ayahnya. George. Mengambil tempat duduk tepat dikepala meja dengan George yang setia berdiri di samping kursi Duke. Ayahnya tersenyum sekilas melihat putrinya yang luar biasa cantik walaupun dengan riasan sederhana.
"bagaimana perkembangan pelatihan dan pembelajaranmu?" tanya ayahnya sebelum menyantap hidangan pembuka yang baru saja diletakan pelayan.
"Sir Morington mengatakan saya cukup berbakat dan Madam Beatrix merasa puas dengan kecepatan saya dalam menghafal" kata Sabrina jujur. Madam Beatrix adalah istri seorang Baron yang dipilih oleh ayahnya untuk menjadi pengajar etika kebangsawanan Sabrina. Berbeda dari pelatihan bela diri yang setiap hari. Pembelajaran kebangsawanan hanya dijadwalkan 5 kali dalam seminggu.
Sabrina dapat dikatakan amat telat dalam mempelajari hal-hal dasar yang wajib diketahui seorang bangsawan. Anak bangsawan lainnya dari usia remaja sudah diwajibkan untuk menguasai hal tersebut. Tetapi itu semua wajar bagi Sabrina yang baru memasuki kediaman Duke of Avondale 3 tahun yang lalu. Sebelumnya ia dibesarkan seorang diri oleh ibunya yang berasal dari kalangan rakyat jelata.
"kau memang anak yang luar biasa" puji ayahnya yang dibalas dengan senyuman malu-malu oleh Sabrina. Tentunya itu semua hanyalah akting semata.
Mereka berdua mulai menyantap hidangan yang diletakan para pelayan. Walaupun sesi makan malam ini hanya dihadiri oleh Sabrina dan ayahnya. Hidangan yang tersaji sangatlah banyak. Bagi bangsawan setingkat Duke hal tersebut sudahlah biasa.
"besok malam akan diadakan pesta di istana" kata ayahnya setelah selesai menyantap hidangan utama.
"apa saya diperbolehkan untuk datang ayah?" tanya Sabrina sebatas pertanyaan formalitas, nyatanya dari jauh-jauh hari ia telah menyiapkan sebuah gaun cantik untuk pesta di istana.
"kau wajib datang karena kau adalah putri seorang duke. Apa kau keberatan jika ayah menjadi pendampingmu di pesta nanti?"
"tidak... Tentu saja tidak ayah. Justru Sabrina merasa senang jika ayah mengajak ke pesta bersama"
Ayah Sabrina tersenyum. Merasa puas dengan jawaban putrinya yang tidak pernah mengecewakan "baiklah... Sebagai gantinya ayah telah menyiapkan seorang designer. Besok pagi dia akan memperlihatkan gaun-gaun jadi yang bisa kau kenakan di pesta"
Sabrina sudah memprediksi hal tersebut sebelumnya. Sebagai duke tentu saja nama baiknya tidak ingin jatuh lantaran memiliki anak yang tidak tau cara berpenampilan.
KAMU SEDANG MEMBACA
What the Lady Wants
Ficção HistóricaTerbangun ditubuh seorang putri bungsu Duke Melville entah Sabrina harus merasa beruntung atau sial
