Bab 22 (the real Sabrina Melville)

12.4K 1.3K 38
                                        

Penting !
© Cerita ini hanya fiksi belaka. Kesamaan nama, tempat dan waktu tidak melatari cerita sejarah apapun.

Suara desiran dedaunan dipadu dengan langkah kaki kuda yang menapak pelan beserta bunyi hewan sahut menyahut jauh di dalam hutan sana memenuhi pendengaran Sabrina. Angin bertiup cukup kencang sampai-sampai membuat tubuh Sabrina menggigil kedinginan. Matahari sore tidak lagi sepanas siang tadi. Sabrina berusaha merapatkan jubahnya. Entah mengapa sore ini terasa lebih dingin dibanding hari biasanya.

Sabrina menarik nafasnya dalam setelahnya menghembuskan perlahan. Tubuhnya nyaris limbung jika saja putra mahkota tidak menahannya.

Kondisi Sabrina berangsur memburuk semenjak meninggalkan Hutan Daintree. Pandangan Sabrina tak bisa fokus. Rasa kantuk sering kali menyerangnya. Jika ia tidak mengingat ada seseorang yang sedang mengikuti mereka tadi mungkin saja Sabrina sudah tertidur dari awal perjalanan.

Sabrina dapat merasakan jika wajahnya kini pastilah memucat seperti kapas. Sabrina memejamkan mata sejenak. Berusaha membayangkan hal-hal menyenangkan sekaligus merilekskan diri. Lagipula orang yang mengikuti mereka sepertinya tidak lagi terlihat. Sabrina tau dari sikap putra mahkota yang tak sewaspada barusan.

"ada ide siapa orang yang membuntuti kita?" tanya Sabrina kepada putra mahkota tanpa membuka matanya. Kepalanya ia sandarkan sepenuhnya ke dada bidang putra mahkota. Putra mahkota nampak tak keberatan, sepertinya ia memaklumi segala tingkah laku Sabrina karena tau jika saat ini Sabrina sedang menahan rasa tidak nyaman pada raganya.

"entahlah," jawab putra mahkota singkat.

"saya tau anda berbohong your highness." kebersamaannya dengan putra mahkota sedikit banyak membuat Sabrina hapal gelagat pria itu.

Walaupun menutup mata Sabrina tau jika pria itu sedang menghembuskan nafas lelah.

"orang suruhan Robert, kurasa." mendengar jawaban putra mahkota sontak membuat Sabrina membuka kedua kelopak matanya.

"Robert?! Apa anda yakin dia dalangnya your highness?" tanya Sabrina menyangsikan hal itu.

Putra mahkota menatap tajam Sabrina. Sabrina yang ditatap dengan tajam oleh putra mahkota hanya bersikap tak acuh.

Sedikit banyak Sabrina tau jika putra mahkota sangat menyayangi adiknya itu. Jika tidak demikian kenapa pria itu mau bersusah-susah mengancam Sabrina di awal pertemuan mereka.

"saya tau anda sangat menyayanginya, tapi sepertinya tidak demikian untuk Robert. Robert seperti enggan mengakui anda sebagai kakaknya. Benar bukan yang saya katakan your highness?" Sabrina kembali teringat kemarahan Robert setelah Sabrina mengatakan jika ia menyukai putra mahkota. Jelas sekali pria itu membenci putra mahkota. Entah apa penyebabnya Sabrina tidak ingin tau karena ia tak mau terlalu terlibat dalam permasalahan kakak beradik kerajaan. Sedikit menggoda dan mempermainkan putra mahkota Sabrina rasa tidak masalah.

"aku akan menurunkanmu disini kalau kau terus berbicara" ancaman putra mahkota sukses membungkam Sabrina. Sabrina berdecak sebal mendengarnya.

Akhirnya sepanjang sisa perjalanan Sabrina lebih memilih untuk tertidur dibanding menghadapi sifat sarkas dan dingin putra mahkota. Pria itu tak lebih seperti kebanyakan pria pada umumnya. Seorang pemarah yang tergila-gila dengan seorang janda. Jika bukan karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang menggoda sudah sejak dulu Sabrina menghapus putra mahkota dari tipe pria idealnya.

Tidak tau berapa lama Sabrina tertidur saat dirinya membuka mata ia tidak lagi berada di atas kuda bersama putra mahkota, yang Sabrina temukan adalah pemandangan langit-langit kamar yang akhir-akhir ini sangat familiar. Tentu saja kamar pribadi miliknya di kediaman Duke of Avondale.

What the Lady WantsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang