Penting !
© Cerita ini hanya fiksi belaka. Kesamaan nama, tempat dan waktu tidak melatari cerita sejarah apapun.
"silahkan My Lady" seorang pria mengulurkan tangannya pada Sabrina saat akan menuruni kereta kuda. Pria tersebut adalah Daylen. Mata-mata dan juga orang yang Sabrina percayai untuk mendapatkan segala informasi.
Malam ini Sabrina tidak pergi sendiri ke casino. Terlalu beresiko tentunya apabila datang sendiri. Sebelumnya, ia telah meminta Daylen menjadi pasangannya sekaligus sebagai petunjuk arah, dan jika sewaktu-waktu ada yang berniat mencelakai Sabrina setidaknya ada Daylen yang dapat diandalkan.
Pria itu entah bagaiamana muncul tepat setelah kematian ibu kandung Sabrina. Mengaku sebagai orang yang memiliki utang budi dengan mendiang ibu kandungnya. Menawarkan bantuan untuk membalaskan dendam. Sabrina semula tak begitu saja percaya. Bagaimanapun dunia ini masih terlalu asing, begitupun semua orang yang berkaitan dengan dirinya. Bahkan kematian ibu kandungnya sendiri masih merupakan misteri yang belum terpecahkan. Dia tidak boleh begitu saja mempercayai seseorang. Hanya saja apa yang pria itu lakukan demi dirinya membuat Sabrina yakin jika pria itu memang memiliki niat tulus untuk membalas budi mendiang ibu kandung Sabrina Melville. Salah satunya dengan membalaskan dendam kepada orang-orang yang menjadi penyebab kematian ibu kandungnya. Satu hal yang pasti pria itu cukup mengenal bagaiamana Sabrina Melville yang dulu.
"anda banyak berubah My Lady," kata Daylen sembari memastikan tangan Sabrina merangkul tangannya.
"yap... Tidak heran akhir-akhir ini banyak yang mengatakan demikian," balas Sabrina. Pandangannya beralih, menatap cukup terpukau arsitektur gedung mewah dihadapannya. Sebuah bangunan dua lantai yang didominasi warna putih dengan pilar-pilar raksasa penyangganya. Bangunan tersebut selain tinggi juga melebar ke samping. Memberi gambaran betapa luas dan besarnya tempat itu. Ditambah lentera beserta nyala-nyala api membuat casino tersebut semakin nampak berpendar dan mencolok di malam hari. Tidak heran jika casino milik mendiang Earl of Salisbury terkenal sebagai casino terbesar nomor satu di ibukota dan juga paling banyak dikunjungi.
"apapun perubahan itu. Saya menyukai sisi anda yang menyetujui untuk membalas kematian ibu kandung anda." Daylen menoleh sejenak. Seringai licik tercetak jelas di sudut bibirnya "apa anda siap untuk masuk My Lady?" tanya Daylen.
"kapanpun itu," jawab Sabrina dengan wajah dingin.
Sabrina dan Daylen memasuki casino. Tangan Sabrina merangkul mesra tangan Daylen. Saat ini mereka sedang berakting layaknya sepasang kekasih guna mengurangi perhatian orang-orang terhadap Sabrina. Tatapan tajam Daylen berhasil membuat pria-pria yang menatap lapar ke arah Sabrina segera menciut.
Teriakan-teriakan heboh disambut percakapan-percakapan entah mengenai apa menjadi suatu perpaduan yang jelas di dalam casino. Suara tumbukan gelas kaca beserta botol-botol, koin-koin yang dilempar dan berjatuhan. Alunan musik klasik dari orkestra di sudut ruangan berhasil membuat Sabrina merasa cukup familiar. Kebisingan yang Sabrina dapatkan mengingatkannya akan suatu hal. Kehidupannya dulu di masa depan. Sabrina merindukan club malam di masanya. Tempat ini membawa memori sekaligus nostalgik mengenai ingatannya dulu. Sedikit mengobati kerinduannya akan kehidupan Sabrina de Ava.
Sabrina mengenakan terusan gaun malam berwarna hitam dengan model off shoulder yang melekat pas di lekuk tubuhnya yang indah. Mengekspos leher jenjangnya beserta bahu putih mulusnya. Penampilannya malam ini sungguh berani dan juga menggoda. Sabrian tentu tidak lupa mengenakan sebuah topeng berwarna senada dengan gaun yang ia kenakan sebagai bentuk penyamaran. Dia tidak ingin orang-orang yang melihatnya mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Lagipula tidak akan ada seorangpun yang mengira jika Sabrina Melville yang terkenal keluguan serta kepolosannya berada di tempat semacam ini. Untuk itulah Sabrina memutuskan mengenakan gaun seperti ini guna mengecoh perhatian publik. Jika bukan karena Daylen yang berada di sisi Sabrina tentunya sejak tadi Sabrina sudah didatangi pria-pria hidung belang yang ingin sekedar berkenalan atau mencumbu dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
What the Lady Wants
Historische RomaneTerbangun ditubuh seorang putri bungsu Duke Melville entah Sabrina harus merasa beruntung atau sial
