Bab 29 (dizzy)

10.5K 1.1K 33
                                        

Penting !
© Cerita ini hanya fiksi belaka. Kesamaan nama, tempat dan waktu tidak melatari cerita sejarah apapun.

Sabrina merenung di sebuah sudut kedai dimana semuanya bermula. Kedai Rokes' adalah salah satu tempat favoritnya jika berkunjung ke kota. Bau khas tumpukan buku dipadu wangi aroma camilan manis berhasil membuat mood Sabrina sedikit membaik. Akhir-akhir ini bukan hanya moodnya yang rusak, ia merasa fisiknya semakin melemah. Kurang tidur menjadi faktor utamanya.

Tepat dua hari sejak pembicaraan terakhir dengan ayahnya. Sabrina belum kembali bertemu atau sekedar bertegur sapa setelah kejadian itu. Lagipula orang-orang di rumahnya sedang sibuk mempersiapakan pesta pertunangan Nigel dengan kakaknya Isabella.

Sabrina kembali teringat pembicaraannya dengan Daylen beberapa menit yang lalu mengenai rencana penghancuran pesta tersebut untuk selamanya.

"anda bisa saja terbunuh my lady!" Daylen menatap bergidik ke arah Sabrina. Entah bagaiamana Daylen mendeskripsikan rencana Sabrina yang terdengar gila dan tidak masuk akal. Lebih tepanya misi bunuh diri.

"tidak, jika kau tak mengenai titik vitalku" jawab Sabrina santai. Sudah sejak lama dirinya bermaksud melukai diri sendiri. Gila? Memang! Apapun akan ia lakukan untuk balas dendam.

"baiklah, kita anggap tidak mengenai titik vital anda. Bagaiaman jika anda mati karena kehabisan darah?" tanya Daylen sarkas. Sabrina benar-benar harus dipukul kepalanya untuk mengembalikan kewarasan wanita itu.

"itu tidak aka terjadi. Lagipula jika aku mati itu takdir yang telah digariskan"

"apa anda sungguh benar-benar putus asa my lady? Hingga memilih cara itu?"

"tidak. Sejak awal aku memang telah merencanakan demikian. Kalau aku mati biarlah aku mengentayangi orang-orang yang telah membunuh ibu kandungku"

"huh?! Saya sungguh tidak mengerti sisi bodoh anda masih saja melekat pada diri anda my lady. Baiklah, setelah itu anda mau saya melakukan apa?"

Sabrina menyeringai. Melukai dirinya sendiri tentu saja guna memfitnah seseorang "sebarkan rumor di kalangan bangsawan jika Isabella dan ibunya berniat membunuh Nigel untuk mendapatkan semua hartanya dan juga Isabella adalah perusak hubungan cinta suci antara aku dengan Nigel. Isabella membenci Nigel karena lebih mencintai diriku dibanding dirinya. Isabella menginginkan kematian Nigel yang sayangnya digantikan olehku. Apapun itu jadikan Isabella dan ibunya sebagai dalang dari kematianku"

"lantas bagaimana jika orang-orang tau anda adalah dalang sebenarnya dari kematian anda sendiri?"

"itu semua tidak akan pernah terjadi jika orang yang memanah diriku mati Daylen. Kau harus membunuh orang yang nanti akan memanahku. Lagipula, orang-orang tidak akan pernah mempercayai Sabrina yang bodoh dan polos serta baik hati akan melakukan konspirasi keji seperti itu. Orang-orang lebih memilih mempercayai Isabella yang jahat sengaja membunuh Nigel di pesta pertunangannya sendiri agar orang tidak menaruh curiga padanya. Bukankah begitu?" jelas Sabrina.

"sejujurnya saya tidak terlalu yakin akan rencana anda My Lady dan juga ibu anda yang ada di atas sana pasti tidak akan memaafkan saya jika terjadi sesuatu hal buruk pada anda"

Sabrina sedang memikirkan kemungkinan yang akan terjadi sampai-sampai tak menyadari kehadiran sosok lain di kursi hadapannya. Melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Sabrina. Sembari memanggil nama Sabrina berulang kali.

"apa kau terlalu merindukanku hingga menjadi gila seperti saat ini Lady Melville?"

Mendengar namanya disebut membuat Sabrina kembali tersadar. Sabrina tidak mempercayai kehadiran sosok pria menyebalkan satu itu. Tidak cukup kakaknya yang mencium Sabrina tanpa izin kini adiknya yang tak kalah narsis hadir di depannya.

What the Lady WantsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang