Bab 36

10.7K 1.1K 61
                                        

Penting !
© Cerita ini hanya fiksi belaka. Kesamaan nama, tempat dan waktu tidak melatari cerita sejarah apapun.

Sabrina menyeruput tehnya dengan anggun. Menikmati segala sensasi manis di lidahnya. Aroma jasmine yang lembut berhasil memanjakan penciumannya. Rasa hangat teh membuatnya sedikit tenang. Walaupun cuaca sedikit menyengat hal itu tak terlalu berpengaruh pada tubuh Sabrina. Sabrina menurunkan pelan cawan digenggamannya hingga terdengar benturan kecil suara antar keramik.

Hari kedua festival berburu baru saja dimulai. Hari pertama festival berburu musim panas berhasil dimenangkan oleh Putra Mahkota Halard dan juga Grand Duke Cavendish yang mendapatkan jumlah hewan buruan sama banyak. Masih ada dua hari untuk keduanya bersaing memperebutkan juara pertama tahun ini.

Banyak yang tak menduga jika Grand Duke Cavendish berhasil menyamai kemampun putra mahkota yang selalu menjadi juara setiap tahunnya.

Saat ini Sabrina bersama dengan kumpulan para lady dan wanita-wanita perwakilan kerajaan tetangga. Menempati kursi-kursi dan meja yang telah disediakan untuk para wanita sembari menunggu para pria yang sedang berburu.

Baginda ratu yang bertugas mengurus ketertiban para wanita sejak jauh-jauh hari telah mempersiapkan sebuah agenda. Tidak seperti baginda raja yang bertanggung jawab pada pemburuan pria.

Baginda ratu mengajak seluruh wanita yang ada untuk menyulam sebuah sapu tangan yang nantinya akan diberikan pada pria terkasih.

Sabrina tentu saja bosan dengan agenda seperti itu. Menyulam bukanlah keahlian yang ia kuasai. Bahkan, baru beberapa minggu ini Sabrina mempelajari teknik-teknik dalam menyulam. Jika bukan karena kondisi tubuhnya yang tidak memadai untuk berburu. Sabrina tentu sejak awal lebih memilih ikut berburu bersama para pria seperti halnya Putri Mahkota Yenerika yang tak pernah absen setiap tahunnya dari kontes berburu. Tidak ada yang pernah mempermasalahkan keikut sertaan Putri Mahkota Yenerika dalam berburu.

Sayangnya, selain tubuh Sabrina yang masih sedikit lemah. Sabrina juga harus menjaga ekspresinya agar telihat terpukul atas kejadian yang menimpa kakak pertamanya. Tidak mungkin di saat ayahnya nampak seperti mayat hidup Sabrina sendiri menunjukan wajah berseri-seri. Semua itu tentu akan menggiring opini yang tak ia inginkan.

Sabrina menyulam sebuah burung kecil di sudut sapu tangan. Tak seperti para wanita lain yang saling berlomba-lomba memperlihatkan kemampuan menyulam mereka, dengan menampilkan sulaman besar serta rumit. Sabrina lebih banyak bersikap santai atau bahkan cenderung tak peduli. Lagipula Sabrina tak berniat memberikan sapu tangan tersebut kepada siapapun.

"aku jauh tak menyukai wanita itu dibanding tak menyukai dirimu" suara Josette yang tepat berada di samping kursi Sabrina tak membuat Sabrina mengalihkan perhatiannya dari sapu tangan. Sabrina tak mengira jika Josette akan kembali bersikap sok akrab dengan dirinya.

"siapa?" tanya Sabrina pelan. Matanya masih setia memperhatikan hasil sulaman.

"Putri Mahkota Yenerika" jawab Josette gamblang.

Sabrina sedikit mengerutkan alisnya. Apa Josette tau jika wanita itu cinta pertama tunangannya? Mengingat tunangan Josette seketika Sabrina terbayang wajah Robert. Sejak hari pertama pemburuan Sabrina sama sekali tak melihat keberadaan pria plin-plan itu.

Sabrina menoleh. Memperhatikan seksama ekspresi wajah Josette, berusaha menilai hal apa yg sedang dipikirkan wanita itu.

"Wanita itu seperti memanipulasi para pangeran" lanjut Josette menggebu.

"meskipun kau pun begitu. Setidaknya kau pernah tulus mengharapkan kebahagiaanku. Tidak seperti Putri Mahkota Yenerika yang sangat terlihat manipulatif" Sabrina sedikit tercengang mendapati Josette yang berbicara terus terang seperti itu. Jika ada yang mendengar obrolan mereka, Josette dipastikan akan dijatuhi hukuman berat karena berbicara buruk mengenai keluarga kerajaan.

What the Lady WantsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang