Penting !
© Cerita ini hanya fiksi belaka. Kesamaan nama, tempat dan waktu tidak melatari cerita sejarah apapun.
Sabrina mengantar para tamunya hingga menaiki kereta kuda masing-masing. Memberikan lambaian singkat dan senyuman semanis mungkin.
Agenda mereka untuk berbelanja bersama terpaksa ditunda. Situasi yang tak memungkinkan antara Josette dan Sabrina membuat para lady memutuskan untuk pulang terlebih dulu, dengan berat hati mereka melewatkan kedatangan kakaknya Sabrina dan juga Grand Duke of Leinster.
Sabrina tentu saja tak keberatan. Sejak awal ia memang ingin menyingkirkan tamu-tamu menyebalkan tersebut. Beruntung akibat insiden Josette mempermudah semua itu. Sabrina tak perlu bersusah payah memikirkan cara mengusir tamunya.
Sabrina merengangkan tangannya sembari berjalan pelan menuju kamar miliknya. Saat ini ia harus segera bersiap menyambut kedatangan ibu tiri beserta kakak-kakak tirinya. Sabrina baru saja selesai berendam dengan cairan susu guna menghaluskan dan mencerahkan kulit.
"Matilda! Segera bantu aku untuk bersiap," pinta Sabrina.
Matilda mengangguk mantap setelahnya memilihkan gaun yang sekiranya pas untuk Sabrina gunakan disituasi sekarang.
Sabrina telah selesai berpakaian dan berias. Memastikan sekali lagi penampilannya melalui cermin dihadapnnya. Seulas senyum puas terbit di wajah cantik Sabrina. Sudah ia katakan jika Sabrina Melville memiliki kecantikan langka sejak lahir. Bola mata hijau Sabrina layaknya batuan emerald beku. Sungguh menawan sekaligus menggoda.
Sabrina melangkah anggun meninggalkan kamarnya menuju ruang tamu. Bergabung dengan para pengikut Duke of Avondale lainnya yang telah tiba sejak tadi. Menuggu kepulangan kepala keluarga dan sanak famili.
Rombongan kereta kuda dengan bendera berlambangkan ciri khas keluarga Duke of Avondale beriringan memasuki gerbang raksasa Duchy of Avondale. Dari jauh Sabrina menatap tajam rombongan tersebut. Dalam hati ia menghitung berapa lama lagi ia harus memulai acting-nya. Tidak ada ketakutan atau kecemasan dari raut wajahnya yang tenang.
Rombongan tersebut telah tiba. Satu persatu keluarga besar Sabrina mulai terlihat. Sabrina setengah berlari menghampiri ayahnya. Menghambur cepat kedalam pelukan ayahnya tanpa peduli akan tatapan membunuh dari ibu tiri beserta kedua kakak tirinya. Orang-orang yang melihat aksi spontan Sabrina terkesiap seketika.
"bagaimana kabar ayah?" tanya Sabrina sesaat setelah melepaskan pelukannya.
Ayah Sabrina mengusap lembut puncak rambut Sabrina. Senyum lebar menghiasi wajah tuanya yang letih. "baik... Hanya merasa sedikit lelah" kata ayahnya.
Sabrina mengerjapkan mata "kalau begitu ayah harus segera beristirahat" Sabrina merangkul tangan kiri ayahnya. Menuntun pelan ayahnya memasuki kediaman.
Baru saja melangkah, mata Sabrina tak sengaja menangkap sosok dari Nigel Cavendish yang berjalan menghampiri mereka. Sabrina menunduk memberi penghormatan kepada Nigel ketika pria itu tepat berdiri dihadapannya. Sabrina mendapati kerinduan dari sepasang bola mata hitam pekat milik pria itu kala memandang Sabrina yang mana membuat jantung Sabrina mulai berdetak kencang tanpa dapat dicegah.
Hell! Sabrina Melville masih mencintai pria itu.
"terima kasih banyak berkat Grand Duke Cavendish keluarga saya terlindungi sepanjang perjalanan" kata ayahnya tulus.
"sudah menjadi kewajiban bagi saya," ujar Nigel sopan. Sabrina tak menyukai Nigel memiliki pemikiran seperti itu. Sudah menjadi kewajiban katanya? Memangnya sepenting dan seberharga apa Isabella iblis itu bagi Nigel?
"jika anda tidak terburu-buru. Anda bisa bergabung bersama kami dalam acara makan siang your highness," tawar ayah Sabrin.
Nigel tersenyum singkat "suatu kehormatan mendapat tawaran makan siang bersama dari Duke of Avondale" tuturnya sembari meletakan tangan dibahu kiri. Sabrina memuji kesopanan pria itu. Walaupun status Nigel dalam sistem peerage lebih tinggi dibanding ayahnya. Nigel tak sekalipun menghilangkan rasa hormatnya kepada seseorang yang lebih tua darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
What the Lady Wants
Fiksi SejarahTerbangun ditubuh seorang putri bungsu Duke Melville entah Sabrina harus merasa beruntung atau sial
