BAB 11

349 26 0
                                        

Entah ini kebetulan yang terlalu sering atau memang alam sedang ingin mendekatkan Elle kembali dengan seorang Catra Hanani. Dua orang itu kembali disatukan di sebuah proyek oleh Harriet Bell, Managing Director studio mereka.

Catra menatap perempuan di sampingnya yang sedang memeriksa sesuatu di buku catatannya. Mereka baru saja menyelesaikan meeting dengan Arts and Humanities Research Council, partner untuk proyek baru mereka.

"Apa kamu belum lapar, Elle?"

Elle akhirnya mengalihkan perhatiannya, ia melihat ponselnya sebentar. Catra tersenyum kecil, wanita itu jelas memakai jam tangan di tangannya, tapi Elle tetap menggunakan ponsel untuk memeriksa waktu. An old habbit.

"Oh, waktu benar-benar berjalan cepat saat kamu sibuk. Ayo, kita makan siang." Elle langsung merapikan seluruh berkas dan buku di hadapannya.

"Kamu ingin makan apa? Kalau tidak salah aku sempat melihat restoran Indonesia di sekitar sini. You miss Indonesian food, don't you?" tanya Catra yang lebih dulu bangkit dari kursinya.

Perempuan itu menatap Catra ceria, tentu saja dia sangat merindukan masakan Indonesia. Negara kelahiran ibunya itu memiliki cita rasa yang selalu menjadi makanan nomor satu di hati seorang Grizelle.

"Apa kamu perlu bertanya lagi? Tentu saja. Ayo, akan aku pastikan untuk memesan lebih dari satu makanan kali ini," jawab Elle antusias, matanya bahkan berbinar ketika ia membayangkan hidangan khas Indonesia yang akan ia santap siang ini.

Catra tertawa saat memandang wajah Elle. Dia selalu suka melihat wanita itu bersemangat.

__

"Oh, so heavenly," ucap Elle sambil menutup matanya, ia tengah menikmati setiap kunyahan di mulutnya. Wanita itu memesan rendang, dan ayam goreng sambal sebagai menu makan siangnya.

Catra yang juga menikmati makan siangnya ikut tersenyum. Ia mengakui jika masakan Indonesia punya cita rasa yang spesial.

"Kapan terakhir kali ke Indonesia, Elle?" Catra bertanya.

Sambil masih meneruskan makannya, Elle menjawab, "Sudah lebih dari setahun sepertinya, sebelum aku dan Alden menikah. Kami dating untuk meminta restu nenek di Jakarta, saat itu."

"It's quite long ago, then." Elle mengangguk. Wanita itu terlalu sibuk dengan makanannya saat ini.

Catra meneguk sodanya sebentar. "Hey, kamu tahu kan betapa aku mengagumi Alden. Apa aku boleh bertanya sesuatu tentang Alden?"

"Of course. Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Bagaimana seorang Alden Arslan. Please, don't get me wrong, Elle. Maksud aku, sebagai seorang musisi tentu saja." Catra benar-benar penasaran. Ia tidak pernah melupakan betapa terkejut dirinya saat mengetahui mantan kekasihnya, adalah istri dari musisi favoritnya, Alden Arslan.

Elle meminum teh botolnya sebentar, "Kalau tentang bagaimana Alden bekerja sebagai seorang musisi, dia banyak menghabiskan waktunya di studio untuk itu. Dia sering pulang larut malam, tentu saja. Sepertinya, saat dia berada di studio or with his members, kreatifitasnya lebih mengalir."

"Are you okay with that?" Tanya Catra hati-hati.

"Kamu tahu aku kan, Catra. I always enjoy being alone. Jadi, kalau Alden jauh dariku untuk bekerja, aku akan jauh darinya untuk menikmati waktu sendiriku."

Elle menyambung ucapannya lagi, "and then when both of us are done with time without each other, we will back together. I know it sounds silly, tapi aku tidak bisa terus terusan bersama Alden setiap waktunya. Aku beruntung karena Alden mengerti tentang hal ini, oh bukan, kita saling mengerti dan membutuhkan hal ini kan?"

Best BelovedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang