"Sejauh apapun jarak yang kutempuh, untuk menemuimu aku sanggup memotongnya. Aku akan terbang ke ruangmu tunggu aku di sana."
Hanya gumaman itu yang terngiang di otakku saat berada dalam pesawat. Memandang langit biru yang cerah, sembari bertanya-tanya cahaya apa yang tak tertangkap oleh netraku? Kehangatannya dapat dirasakan tubuh, tetapi tak kujangkau oleh logika. Sinar ultraviolet, apa mungkin karena cerah dan indahnya aku tak boleh menikmatinya?
Semesta punya banyak teka-teki, menghadirkan berbagai misteri yang harus kujawab. Mama dan Paman selalu menyimpan segala hal, tentang ayah, dan masa lalu mereka. Namun, semua itu menjadi bayangan hitam yang senantiasa menghantui. Apa ini pertanda, jika aku yang harus mencari tahu sendiri?
Seakan tak bisa hidup tenang, penelitian itu menghantuiku sejak lahir. Pemahamanku tentang dunia sains yang salah selalu melahirkan ketakutan dan kebencian hebat terhadap ilmu itu. Akankah Doktor Zey dapat meluruskan segala pemikiran burukku tentang ini? Atau Violet yang akan membuatku mencintai ilmu alam?
Pertanyaan-pertanyaan itu terngiang dalam benak, selama perjalanan terus membuatku tenggelam dalam lamunan. Hanya bisa memandang sendu ke luar kaca pesawat yang menampilkan keindahan langit.
Tiba-tiba tangan lembut menggenggam tanganku, memberi perhatian manis dengan senyum manisnya. Vioni, gadis itu begitu cantik dan perhatian, seakan tahu dilema di hatiku. Begitu pun Doktor Zey yang menoleh ke belakang, memastikan aku baik-baik saja.
Tak ingin mereka gelisah aku menoleh dan bergantian menatap keduanya, lalu mengangguk pasti. Begitu mobil Jeep sampai di perbatasan kota Oradour San, aku tidak sabar menginjakkan kaki di sana. Doktor Zey menepuk bahuku, netranya berbinar. Dapat kulihat senyum terkembang di bibirnya meski tertutup masker hitam.
"Wellcome in Oradour San!" sorak Vioni dan Datta sembari merangkul kami dari belakang.
"Doktor, aku berjanji akan mempertemukanmu dengan putrimu." Melihat netra abu-abu itu berbinar aku ingin sekali menghiasnya dengan senyuman. Berhasil. Ia merangkulku dan tersenyum.
"Aku percaya padamu, maaf sudah merepotkanmu, tapi aku takut jika ibu dan pamanmu--"
"Tidak perlu khawatir dengan itu, Dok, aku sudah izin kepada paman jika akan menyelesaikan tugas semester akhir kuliahku di Prancis. Lagi pula Mama dan Paman lebih peduli dengan pekerjaannya ...," ungkapku.
"Yap, ada aku dan Vioni juga yang tentunya meyakinkan mereka, jika kami memang menyelesaikan tugas akhir semester." Datta menegaskan, mengajak kami melangkah lebih jauh. Menyusuri jalan setapak Oradour San, kota tua yang jarang penduduknya-kota yang ditinggalkan.
Namun, tak ingin merasakan kota tua yang penuh kepedihan itu, Doktor Zey mengarahkan sopir Jeep untuk mengantarkan barang-barang kami ke rumahnya. Sedangkan kami lebih dulu ke taman kota dengan taksi umum yang lewat di jalan besar. Berjalan ke jalan raya, melambaikan tangan pada taksi yang lewat dan melaju ke kota.
"Aku ingin mengajak kalian berlibur, temani aku menghirup udara segar kota Prancis lagi," pinta Doktor Zey yang baru beberapa hari terbebas dari penjara. Di usianya dan setelah kehilangan segalanya, ia tetap bisa berpikir jernih menghadapi segalanya. Beberapa tempat di daerah pusat kota Oradour San juga menarik.
Menikmati musik klasik di dekat sungai Seine yang indah. Berjalan menuruni tangga sembari menyaku tangan dan merasakan embusan angin sejuk di Prancis adalah sebuah kebahagiaan yang akhirnya bisa kurasakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Evanescent [TAMAT]
Science Fiction/evanes·cent/ (adj) Arti:lekas menghilang dan hanya bertahan dalam kurun waktu singkat. Oradour San, Prancis menjadi laboratorium seorang peneliti terkenal yang berhasil membuat organ manusia transparan. Namun, seseorang juga harus menjadi bahan uji...
![Evanescent [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/247088297-64-k90631.jpg)