Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

23. World We Used to Know

5 1 0
                                        

"Ocean blue eyes looking in mine.
I feel like I might sink and drown and die."

-Violet Damara-

"Pikirkan bagaimana cara keluar dari sini!" tegas Violet dengan suara dinginnya. Ia telah menghabiskan satu mangkok mie, dan di dalam pikiranku membayangkan ia memandang lurus dengan wajah serius.

Jadi, aku melakukan hal yang sama sembari menopang dagu. Sekilas memang tampak berpikir, bahkan memijit dagu, tapi pada akhirnya aku menoleh pada Violet. Berharap gadis itu memiliki ide cemerlang.

"Aku punya ide!" serunya tiba-tiba sembari mengangkat sendok dan garpu.

Aku terenyak dan langsung menegang membayangkan garpu dan sendok yang melayang. Namun, kesadaranku bertanya, "Apa?"

Ia malah menggerakkan sendok dan garpu, mengarahkan ujungnya ke arahku. Aku mulai mengerti maksudnya dan tersenyum miring.

"Menarik!"

Kami pun beraksi melalui pintu belakang, Violet maju lebih dulu dengan pisau di kedua tangan. Hanya aku yang merasa ini lucu, karena ia menyembunyikan pisau di belakang tubuhnya yang transparan dengan posisi terarah ke bawah, jalannya pun mengendap-endap. Dua penjaga yang berada tepat di pintu belakang rumah sebelum menuju ke kolam itu menoleh. Pintu kaca tersebut mempermudah aku untuk mengawasi mereka. Mereka pun saling menatap sekilas, lalu mengetuk earphone di telinga dan seakan berbisik.

Gadis yang merasa kehadirannya mulai diketahui oleh musuh itu, langsung mengacungkan pisau ke arah mereka. Berjalan maju dengan tempo cepat, membuat kedua penjaga itu mundur perlahan. Sebelum sampai ke ruang ganti di sudut kolam, nereka langsung menutup pintu. Dengan satu pisaunya, Violet memberi isyarat agar aku ke sana. Segera aku berlari keluar dari rumah, lalu langsung menggandeng tangannya. Pisau mengacung ke bawah, selanjutnya aku pun membawanya pergi dari sana dengan cepat. Sesekali mataku mengedar ke sekeliling. Harap-harap cemas penjaga lainnya akan langsung menuju ke sini, tapi sebelum itu terjadi kamu sudah berada di luar pintu belakang dengan napas terengah.

Violet langsung melepaskan pisau, membiarkannya jatuh ke tanah, "Berhasil!" serunya.

Aku tersenyum, lalu mengangguk, "Ayo pergi!" seruku. Tempat pertama yang kutuju adalah taman kota Paris, di mana kolam dengan air mancur, burung merpati, dan pepohonan Cemara ditata begitu apik.

Benar, sesampainya di sana gadis ceria yang seindah semesta itu berlari ke arah burung merpati. Burung-burung itu awalnya terbang menjauh, tapi kembali lagi mengelilinginya seakan mengikuti tubuh Violet yang tengah menari dengan indahnya. Aku tersenyum dari kejauhan memandanginya, meski transparan aku bisa mengetahui tarian indahnya karena burung-burung itu membentuk tubuh indahnya.

"Dia indah tanpa harus memperlihatkan wujudnya," gumamku. Mataku berbinar menatapnya, tak lekang bibirku pun melengkung.

"Kennn!" serunya disusul tawa ceria yang terdengar usai melakukan satu putaran, lalu menghadap ke arahku.

Hanya kunaikkan alis, lalu melangkah mendekat. Tangannya terulur, aku segera menautnya.

Deg!

Debar jantungku tak karuan saat ia menarikku, membawaku berlari ke arah kolam air mancur. Di dalam air hanya ada bayangan wajahku, tetapi dengan satu sentuhan tangan gadis itu berhasil membuat ikan-ikan mas berkumpul. Sekelebat wajah cantik berkulit putih, rambut panjang berwarna brown, mata abu-abu, dan bibir merah muda tengah tersenyum ke arah air.

"Menyenangkan bukan?" tanyanya.

Hanya anggukan yang menjawab, aku menoleh memandangnya. Membayangkan wajah itu secara nyata tengah tersenyum padaku, benar saja jantungku berdebar kencang dibuatnya.

Ia yang tadinya memainkan air dengan sedikit membungkuk, kini menggengam tanganku dan menegakkan tubuh. Aneh, tapi aku merasa ia memandang sendu ke air mancur di hadapan.

"Ken, terima kasih sudah mengenalkanku pada cinta. Jika bukan cinta, bagaimana aku menyebut perasaanmu yang seakan terhubung denganku hmm?" tanyanya.

Pernyataan itu membuatku menyadari sesuatu, sejenak aku memikirkannya begitu dalam.

"Entahlah, tapi aku merasa aku dilahirkan untukmu," jawabku singkat sekaligus dingin. "Bayangan tentang penelitian manusia transparan, tentang seorang gadis seindah cahaya terakhir senja atau warna violet, dan sisi gelap yang kamu rasakan terus saja datang setiap malam." Penuturanku membuatnya mengembuskan napas panjang, lalu hening beberapa saat.

"Baiklah, selanjutnya apa yang akan kita lakukan?" tanyanya.

"Sebenarnya aku ingin mengajakmu bertemu Doktor Forc, tapi ia hanya ada di gereja saat jam dua belas. Harapanku Doktor Forc bisa menyelimutimu dengan cairan lilin yang ada, jadi kamu akan terlihat dengan mudah dan bisa seperti manusia lainnya. Tapi, dari sekarang masih ada banyak waktu sebelum itu, apa kamu punya ide untuk keadaan ini?" tanyaku sembari menoleh ke arahnya.

"Ehm, bagaimana kalau ke perpustakaan, aku ingin membaca beberapa buku," ungkapnya.

"Ide bagus!" Segera kusetujui karena di dekat sini juga ada museum besar. Aku jarang membaca buku, bukan hobiku. Namun, kupikir akan menarik kalau aku melakukannya bersama Violet. Setidaknya menemaninya membuatku tenang.

Kami pun langsung menuju ke perpustakaan dengan nuansa kuno itu. Bangunan serba putih dari batu marmer itu tak megah, tapi cukup untuk mendapatkan suasana tenang dan hangat. Kami pun langsung memilih tempat di pojok, di sela rak buku untuk bersembunyi. Usai mendapatkan buku yang ingin dibaca, kami duduk berdampingan bersandar pada tembok. Ya, temboknya memiliki jendela panjang, jika dihitung dari bawah mungkin jarak tembok dengan jendela sekitar dua meter saja. Tirai putih pun menjuntai, tepat di belakang kami.

Buku yang kuambil adalah karya Lain Taylor berjudul "Strange The Dreamer" atau kekuatan pemimpi. Sains fiksi selalu menarik di mataku, jadi tak akan bosan aku membacanya, tak berat pula. Berbeda dengan Violet yang kulirik mengambil buku non-fiksi. Buku berjudul "A Brief History of Time" oleh Stephen Hawking. Tidak heran jika ia memiliki pengetahuan yang luas, bacaannya tak main-main, penyuka sejarah terbaik.

Saat sudah membuka buku pun ia begitu serius membaca, berbeda dengan aku yang sesekali meliriknya. Ia sama sekali tak bergerak atau meresponsku. Tangannya membalik buku perlahan, bunyinya syahdu. Benar-benar gadis yang pengetahuannya tinggi, aku sudah hampir lelah membaca, tetapi ia masih dalam posisinya.

Aku mencoba melakukan mengusiknya dengan pertanyaan, "Apa yang kamu sukai dari buku sains hemm?"

Tak ada jawaban.

"Violet," panggilku.

"Sejak lahir aku dilahirkan untuk sains," jawabnya singkat. Jelas dan benar, memang ia putri dari seorang peneliti.

"Ya, tapi apa kamu tidak lelah membacanya?" tanyaku lagi.

"Kennn, diamlah!"

Maka aku memilih diam dan membaca buku di tangan, sampai kurasakan kepala seseorang jatuh di bahuku. Refleks aku menangkup kepala Violet, membenarkan posisinya dan merangkulnya. Bisa kurasakan helai lembut rambutnya yang terurai, "Apa kau lelah?" tanyaku sembari menyentuh pipi gadis itu.

Tak ada jawaban, sepertinya ia memang lelah dan sedang tertidur. Segera aku mengambil alih bukunya, menutup, dan menyisihkannya. Sejenak menghela napas, lalu bersandar pada dinding dan menyamankan diri.

"Ya, bagaimana pun akan kutemani kamu melewati hari-hari paling melelahkan seperti saat ini. Maaf, ya, jika harus datang ke kota ini sendirian. Aku akan menebus semua penderitaanmu setelah bertemu dengan Doktor Forc nanti," bisikku, lalu mengecup keningnya.

"Ken, I love you, hanya kamu yang tahu duniaku. Sekalipun aku manusia transparan selama ada kamu di sampingku, aku mampu," gumamnya yang belum sepenuhnya terlelap.

"Aku yakin, pasti ada jalan untuk kita. Pasti ada cara untuk menghadapi masalah ini dan mewujudkan keinginanmu. Aku tidak tahu tentang perasaanku, tapi akan kuusahakan yang terbaik untukmu, Violet."

Evanescent [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang