19. Love Mission

6 1 0
                                        

"Di balik kegagalan ada satu hal penting yang terlewatkan. Satu keajaiban yang akan kutemukan kembali setelah bangkit dari kegagalan itu."

"Untuk membuat manusia transparan kembali normal kita harus mengumpulkan beberapa senyawa. Akan sulit jika aku muncul sendiri mencari beberapa bahan untuk percobaan kali ini, orang akan langsung menaruh curiga. Jadi, bisa kan aku meminta bantuanmu?" tanya Doktor Zey setelah argumen panjangnya.

"Bagaimana aku bisa mendapatkan beberapa senyawa yang Anda maksud?" tanyaku sembari menaikkan satu alis. Bukankah akan sulit untuk orang awam sepertiku?

Ia mengeluarkan kertas dari sakunya, lalu memberikannya padaku. "Sudah kucatat senyawa apa saja yang perlu kamu dapatkan. Tapi, untuk mendapatkannya kamu hanya bisa meminta bantuan pada Doktor Forc, dia sahabatku yang selalu berkunjung ke penjara. Kamu akan kesulitan mencari dan menemuinya, tapi kamu bisa pergi ke gereja di hari Minggu tepat pada jam dua belas siang. Dia akan berada di sana sendirian di saat itu dan tanpa pengawalan. Kamu bisa mendekati dan berbicara dengannya," tuturnya, lalu merogoh saku celana. Mengambil dompet, lalu mengeluarkan salah satu kartu dari sana. "Tunjukkan kartu identitasku padanya dan daftar bahan tadi, dia akan mengerti dan membantumu. Kembalilah ke kota, temui dia di Gereja Castella di jam dua belas siang!"

Kini, aku berdiri tepat di depan gereja Castella sembari melihat jam di pergelangan tangan kiri. Segera kakiku berlari menaiki tangga di hadapan, tetapi begitu memasuki gereja aku melangkah perlahan bahkan berusaha tak mengeluarkan suara. Mengedar pandangan ke setiap duduk yang ada di sebelah kanan dan kiri, sampai pandanganku tertuju pada seorang laki-laki di bangku nomor dua dari depan. Sosok itu mengenakan jas putih, tampak menunduk begitu lama.

Begitu dekat aku duduk di sampingnya, lalu menoleh ke segala arah. Memastikan jika di sampingku adalah Doktor Forc, tetapi memang tak ada orang lain selain laki-laki di sebelahku. Pada akhirnya, aku menoleh padanya yang tenggelam dalam lamunan begitu lama. Hingga kuberanikan bertanya, "Maaf, apa Anda Doktor Forc?" tanyaku dengan suara lirih.

Sosok itu menoleh, wajah polos laki-laki berusia 45 tahunan yang kusut. Dari senyum yang tertahan dan mulutnya yang hampir mengeluarkan kata-kata tapi ragu, serta mata sendu yang berkaca-kaca seakan ada kesedihan yang coba ia sembunyikan.

"Ya?" tanyanya.

Ia mendengar pertanyaanku atau tidak, "Apa Anda Doktor Forc?" tanyaku lagi.

"Ah, maaf aku tidak fokus, iya aku Forc. Ada apa?" tanyanya sembari tersenyum ketir.

Doktor satu ini membuatku bertanya-tanya. Sikapnya juga membuatku sadar akan keganjalan dari kelakuannya. Di gereja sendirian sampai jam dua belas, untuk apa? Hatiku terus bertanya-tanya, tapi mataku memicing ke arahnya seakan tak senang. Akhirnya yang keluar dari mulut bukan niat awalku, tapi rasa penasaranku yang baru saja muncul.

"Kenapa Anda masih di sini sendirian sampai sekarang?" Aku menatapnya intens dengan rasa ingin tahu yang besar.

Namun, ia malah tersenyum dan menjawab, "Entahlah, tapi aku selalu merasa akan ada orang yang menemuiku di sini sebelum aku kembali ke laboratorium. Ah iya, kau sendiri kenapa ke gereja di jam seperti ini?"

"Saya ingin menemui Anda," jawabku mantap setelah tahu jawabannya tadi, mungkin saja ia memang menunggu Doktor Zey menemuinya di sini.

Tatapannya langsung sendu, "Siapa kamu sebenarnya? Bagaimana kamu bisa tahu aku di sini di waktu ini?"

Dengan tenang dan senyum tipis aku tersenyum, "Doktor Zey memintaku menemui Anda, jadi tolong, ya?" Aku memberikan kartu identitas dan kertas berisi list senyawa untuk percobaan manusia transparan Doktor Zey.

Evanescent [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang