"Darahmu mengalir dalam darahku, jadi tetaplah berada di sisiku selamanya dengan cinta yang sama mengalir derasnya."
-Ken Zinagar-
"Leya, Leya! Itu dia!" seru seorang perempuan berambut lurus, hitam, dan panjang. Mata sipit dan tajam menunjukkan jika dirinya memiliki garis keturunan Jepang. Tangannya tertuju pada ruang laboratorium di mana seorang laki-laki tengah melakukan pengamatan pada senyawa.
Pandangan Leya, gadis dengan rambut pirangnya yang digelung asal serta poni di depan memandang ke laboratorium dengan mata berbinar. Tentu pandangannya jatuh pada sosok berkacamata dengan blazer putih. Perlahan senyum terkembang di bibir mengamati sosok yang melihat cairan di gelas beker, lalu mencatatnya di kertas yang ditempelkan di meja dada.
"Dia sangat tampan, dia tipeku," ungkap Leya sembari menoleh ke temannya, keduanya tertawa lalu berjalan perlahan melewati pintu laboratorium. Sampai dari arah yang berlawanan seorang gadis dengan rambut panjang berwarna brown, paras cantik ala gadis China yang matanya begitu indah dengan bagian bawah mata yang sedikit menonjol sebagai ciri khasnya.
Gadis itu berlari masuk ke laboratorium, "Zey! Maaf, aku terlambat!" serunya dengan napas tersengal sembari tersenyum pada laki-laki di dalam sana.
Leya yang masih penasaran memperlambat langkahnya dan melihat ke laboratorium dari jendela-jendela kaca itu. Pandangannya tak bisa lepas dari Zey yang bukannya menjawab, tapi malah mengikat rambut perempuan itu dengan lembut.
"Itu Alana, mahasiswa terbaik di fakultas kita, dia sangat cantik dan baik hati. Kabarnya mereka juga dekat dan menjadi pasangan terbaik," ungkap teman Leya yang langsung mengubah suasana hati gadis itu. Tatapannya berubah tajam pada dua orang di laboratorium yang sedang bersenda gurau itu.
***
"Apa Maksudmu? Kau akan menjadikanku tumbal?" tanya seorang lelaki dengan mata birunya yang indah. Tubuh kekar dengan kaos lengan tiga perempat warna navy, jeans abu-abu yang melengkapi tampilan kuatnya.
"Ck!" Mama berdecak, ia menggebrak meja di mana ada dokumen yang terbuka. Laki-laki tadi yang memegang pulpen di atas kertas tersebut pun menggeser posisi tangannya, lalu memandang Mama. "Kita butuh uang! Anak kita sudah tujuh bulan, sebentar lagi perlu biaya banyak untuk kelahirannya. Aku hanya akan digaji setelah percobaan ini dan kamu juga akan mendapatkan uang lebih banyak untuk kehidupan kita selanjutnya jika bersedia menjadi percobaan!" tegasnya sembari menatap tajam sosok ayahku itu.
"Baiklah, akan aku tandatangani, tapi bagaimana jika percobaan gagal dan nyawaku menjadi taruhannya?" tanyanya.
Mama terdiam, mulutnya terbungkam rapat. "Andai kamu tak menghancurkanku, tentu hidupku akan lebih baik," batinnya sembari mengepalkan tangan.
"Ayah," panggilku lirih. "Jadiz itu yang dirasakan mama," simpulku Dalma hati. Perlahan kesadaranku kembali, tapi belum sepenuhnya. Sulit untuk membuka mata, tapi aku bisa melihat peralatan doktor di meja yang digunakan untuk menjahit lukaku. Air mataku luruh tanpa alasan. Hingga kudengar suara bising.
"Darah AB!" teriak dokter, dengan cepat salah seorang perawat berlari keluar dan meneriakkan hal yang sama. Tak lama, ia kembali dengan kabar buruk.
Napasku terengah.
"Stok darah AB kosong, Dok!"
Doktor meletakkan peralatan ke meja, lalu bergegas keluar.
"Di antara kalian siapa yang golongan darahnya AB?" tanyanya sedikit lantang, tapi aku tak mendengar jawaban. Bahkan suara mama yang kuharap menjawab dengan antusias pun tak terdengar. Aku kecewa. Mataku kembali terpejam dengan rasa pusing yang hebat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Evanescent [TAMAT]
Fiksyen Sains/evanes·cent/ (adj) Arti:lekas menghilang dan hanya bertahan dalam kurun waktu singkat. Oradour San, Prancis menjadi laboratorium seorang peneliti terkenal yang berhasil membuat organ manusia transparan. Namun, seseorang juga harus menjadi bahan uji...
![Evanescent [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/247088297-64-k90631.jpg)