13. Broken Angel

10 3 0
                                        

"Bunga yang mekar dalam kesulitan adalah bunga yang paling langka dan indah dari semuanya.”

-Ken Zinagar-

Gadis dengan rambut pirang yang tergerai indah, dua sisi rambut diikat pita warna ungu pastel senada kardigan yang digunakan untuk membalut dress putihnya. Dengan telaten gadis itu menuangkan air ke pot bunga Lotus ungu di depannya. Ada tiga bunga Lotus dengan warna berbeda yang mekar indah di hadapan si cantik itu.

Begitu selesai menyirami bunga kesayangannya, ia meletakkan pot dan berjongkok di hadapan bunga itu. Senyum terkembang di wajah saat ia menopang dagu dengan kedua telapak tangan, lama ia memandangi Lotus di hadapannya dengan netra berbinar.

"Bu, Lotusmu mekar begitu indah, jika ayah melihatnya, ia akan bangga. Bu, aku rindu kalian, tapi hanya Lotus yang menjadi obatnya. Aku tidak bisa menemuimu, Bu meski rindu," lirihnya dengan mata berkaca-kaca. Air matanya luruh, tangisan itu pun pecah.

Deg!

Tangisannya semakin pilu, bahkan keadaan ruangan yang kusadari mirip rumah kaca itu menjadi mencekam.

"Lotus itu milikku, Lotus itu mewakili kehadiran ibuku. Aku yang merawatnya sampai sekarang, ayahku juga tetap milikku," racau gadis yang memeluk lututnya dan menangis sejadi-jadinya di hadapan bunga-bunga Lotusnya.

"Violet?"

Wusshhh!

Glodak! Glodak!

Tes! Tes! Tes!

Kriettt!

Srekkk!

Brakkk!

Pyarrr!

Tiba-tiba kekacauan terdengar. Aku yang tadinya terbaring di atas tempat tidur, langsung membelalakkan mata dan bangun. Asal suara itu dari laboratorium, tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke sana. Ternyata tak hanya aku, Doktor Zey yang kamarnya paling dekat pun juga melakukan hal yang sama.

Sampai di ruang laboratorium yang menghitam karena terbakar itu, aku membeku. Bagai terkena badai hebat di pagi buta, semuanya kacau. Bunga Lotus yang telah diteliti Vioni tergeletak di lantai, tercabut dari pot yang pecah dan tanahnya yang berserakan.

"Alana!!!!" Doktor Zey berteriak histeris. "Tidak, Nak, ayah mohon jangan marah. Bagi ayah, bunga ini juga nyawa ibumu. Maafkan ayah," tangis Doktor Zey pilu sembari memunguti bunga Lotus itu.

Aku mengedar pandangan, angin kencang berhembus di jendela. Itu pasti dia, suara tangisnya memang tak terdengar tapi pilunya sampai padaku.

"A-ada apa ini? Astaga!" Vioni yang baru di laboratorium terperanjat, ia berhenti dengan mata terbuka dan tangan yang menutupi mulut. Tak bisa berbohong, ia juga cukup terkejut.

"Ada apa sebenarnya, Ken?" tanya Datta yang juga berada di sampingku.

Vioni langsung mendekati Doktor Zey untuk membantu membereskan kekacauan itu, tetapi malah mendapatkan respons yang tak terduga.

"Jangan sentuh apa pun! Jauhkan tanganmu dari bunga-bunga ini!" bentaknya.

Bagai busur panah yang langsung mengenai hati, bentakan dari Doktor Zey langsung menghancurkan hati Vioni. Mata gadis itu memerah, tangannya yang hendak mengambil pecahan pot urung, perlahan ia mundur.

Evanescent [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang