Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

25. Beside The Moon

5 1 0
                                        

Moon, a hole of light
Through the big top tent up high
Here before and after me
Shinin' down on me

Moon, tell me if I could
Send up my heart to you?
So, when I die, which I must do
Could it shine down here with you?

"Semua senyawa untuk bahan percobaan kita sudah aku siapkan!" tegas Doktor Forc sembari menunjukkan tas jinjing kunonya.

Aku mengangguk sebagai respons, laki-laki dengan blazer panjang berwarna hitam itu pun membuka pintu mobil sportnya. Usai mengedar pandangan ke sekitar, langsung duduk di mobil sembari memperbaiki posisi kacamata hitam dan maskernya.

"Bagaimana dengan teman-temanmu? Apa mereka ikut juga?" tanyanya.

"Ya, Nyonya Amelia ingin bertemu Doktor Zey, Vioni dan Datta juga ingin membantu. Mereka pergi ke sana besok," jelasku.

Setelah itu, mobil melaju tangan panjang dan kekar itu pun memutar setor dan membawa mobil ke jalanan ramai setelah hujan.

Ya, kota Paris dibasahi oleh hujan menjelang malam dan masih ada beberapa genangan air. Orang yang berlalu-lalang banyak yang berlari karena tubuhnya basah, ada juga yang menenteng payung dan mantel. Sisi gelap kota Paris begitu terasa, tak seperti malam biasanya yang penuh cahaya. Kali ini, cahaya kota tak sehangat biasanya dan suasana sibuk malam hari menjadi mencekam karena langit mendung. Aku menghela napas, bukan soal itu yang kali ini mengusik pikiranku, ada hal yang kukhawatirkan.

"Apa percobaan kali ini akan berjalan lancar?" Itu hanya pertanyaan singkat yang kulontarkan di balik dilema, apa mama tidak akan mengusik? Bagaimana kalau kita gagal dan taruhannya nyawa Violet? Bagaimana kalau ada efek samping yang berbahaya dari batu amethyst? Tatapan mataku tertuju pada Doktor Forc yang menoleh.

"Aku sudah katakan, hidupmu begitu berat dan akan lebih berat saat mengambil keputusan ini. Banyak risiko yang akan kamu ambil, tapi pikirkan apa tujuanmu untuk melangkah sejauh ini," balas Doktor Forc dengan nada dingin dan tatapan tajam serta teduh itu.

Aku menunduk, ya, aku mengerti. Mobil pun melaju lebih kencang saat sudah melewati padatnya kota Paris, aku menyandarkan punggung ke belakang karena merasa lelah. Sejenak memejamkan mata, lalu membukanya dan memandang langit abu-abu itu. Hatiku kembali tenggelam dalam kekalutan.

"Ken, dalam melakukan percobaan, mantapkan hatimu pada tujuanmu bukan pada kemungkinan buruk. Fokuslah dan usahakan percobaan itu sempurna, jauhkan pemikirannya tentang kemungkinannya!" tegas Doktor Forc sembari menepuk bahuku.

"Ya, karena itulah yang akan memengaruhi keberhasilan percobaan tersebut," balasku sembari tersenyum.

Tangan Doktor Forc memutar setor perlahan, tapi tiba-tiba ia panik. Menginjak rem dan membanting setir ke kiri dengan satu putaran tangan, karena tangan lainnya harus menurunkan standar. Melihat pandangan Doktor Forc ke depan sampai memiringkan kepala, aku pun menatap lurus.

"Festival?"

"Kenapa ada festival di sini?" tanya Doktor Forc yang memundurkan mobil, ia memilih memarkirnya di salah satu sisi jalan. Karena jalan dipalang dan dijaga oleh dua satpam. Tidak jauh dari sana memang ada taman kota yang begitu ramai.

"Ken, aku ingin melihat festival," bisik Violet.

Sekilas aku menoleh, lalu mengabaikan dan memilih membuka pintu menyusul Doktor Forc turun. Kami berbicara pada penjaga itu, "Kenapa jalan harus ditutup?" tanya Doktor Forc.

"Maaf, Pak, kami hanya menjalankan perintah, tapi memang biasanya jalan akan ditutup karena dalam festival akan banyak anak-anak yang datang. Selain itu, tadinya juga ada pawai, jadi kami menutupnya demi keamanan," jawab salah satu penjaga.

Evanescent [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang