22. Unforgettable

5 1 0
                                        

"In another side of my life, i miss you harder, and I will see you soon."

"Ken ...." Bibirnya bergumam memanggil namaku dengan suara lembut itu, bersamaan dengan tetesan air hujan semalam yang luruh dari atap. Binar mata abu-abunya yang indah memandang Lotus di hadapan, jemari lentik menyentuh bunga warna merah maroon yang baru mekar itu. Senyum terkembang di bibirnya, terlihat sempurna sampai mengucapkan kalimat paling indah, "Aku merindukanmu ...."

Debar jantungku tak karuan dibuatnya begitu membuka mata di tengah malam, tetapi yang kudapati kini hanya langit-langit kamar yang gelap. Pandanganku pun mengedar ke sekeliling, benar aku ada di kamarku sendiri. Jam pun masih menunjukkan pukul 03.40 pagi, tapi aku terbangun. Tak seperti biasanya, meski aku beralih memiringkan badan ke kanan, sulit untuk tidur.

Mataku terbuka lebar dan pikiranku dipenuhi oleh Violet sampai angin dingin menerpa tirai. Disusul suara lembut yang memanggil namaku, "Ken ...."

Rasa hati ingin berteriak, tapi hanya bisa refleks menatap tajam ke arah jendela. Walau aku penakut pada hantu, tetapi dengan kesadaran penuh aku masih memikirkan Violet. Mungkin saja gadis transparan itu yang datang. Tapi, bagaimana bisa dari Oradour San ke Paris? Aku segera bangun dengan posisi duduk di atas ranjang dan badan kucondongkan ke kanan, tepatnya arah jendela yang tirainya diterpa angin.

"Vi-Violet?" tanyaku terbata sambil menunggu jawaban.

"Ya, aku datang ke sini untuk menemuimu, kenapa kamu tidak kembali?" tanyanya dengan suara lembut itu.

Aku menghela napas lega, lalu beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arahnya. Mencoba menerka di sisi mana ia, sampai aku memposisikan diri ada di hadapannya. Tanganku meraba ke udara sampai sebuah tangan menggenggamnya.

"Aku di sini," katanya.

Senyum terkembang di wajahku, "Maafkan aku ...." Hanya kalimat itu yang mewakili rasa bersalahku saat ini.

"Why? Apa yang terjadi?" tanyanya dengan nada cemas.

Dengan kepala tertunduk, aku menjawab, "Mama mengetahui semuanya dan melarangku untuk pergi," ungkapku dengan tatapan sendu.

"Ehm, tak apa, ya sudahlah lupakan soal penelitian itu. Aku hanya merindukanmu, apa aku boleh tinggal di sini untuk beberapa hari dan merasakan kehidupan di kota?" tanyanya dengan antusias.

Seketika wajahku sumringah, "Benarkah? Tapi, bagaimana ...?"

"Ya, aku pikir tidak buruk untuk menikmati hidup seperti orang normal walau aku transparan. Seperti katamu, aku bisa menggunakan cairan lilin, mengenakan pakaian, dan jadi manusia normal seperti itu." Begitu ringan ucapannya, padahal itu pernah menjadi luka paling dalam baginya.

"Are you okay?" tanyaku dengan mata berkaca-kaca.

"Aku pikir tenggelam dalam kesedihan, trauma, dan penderitaan ini tidak akan pernah mengubah apa pun. Dan Ken, setelah kamu datang, aku hanya memikirkan bagaimana cara untuk berada di sampingmu, bisa dilihat olehmu, bisa menghabiskan waktu bersamamu, bisa melakukan berbagai hal denganmu. Aku hanya ingin itu," ungkapnya yang membuat air mataku menetes, tapi bibirku tersenyum. Hal sederhana yang membuatku terharu.

"Ya, kamu bisa melakukan itu, ah bagaimana perjalananmu ke sini?" tanyaku sembari mengerutkan dahi dan menaikkan alis, pemikiran yang sedari awal muncul tapi belum sempat kutanyakan.

"Aku hanya menumpang kendaraan yang akan ke kota tanpa mereka tahu, begitu pula saat aku naik bis ke sini," ungkapnya dengan polos.

Aku menyukai karakternya yang tidak dingin dan misterius, tetapi terbuka, ceria, dan polos seperti ini. Tak bisa kutahan senyum untuk jawabannya yang ia berikan. Childish, tapi menggemaskan.

"Bagaimana kamu bisa tahu alamat rumahku?"

"Aku sudah meminta pada ayah sebelumnya, awalnya dia tidak berniat memberikannya karena tak ingin aku pergi begitu saja. Tapi, pada akhirnya ia menulis alamatmu di secarik kertas dan aku menyimpannya," jawabnya yang membuatku tak menahan rasa gemas.

"Baiklah, ayo berbicara sambil duduk," ajakku sembari menariknya ke atas tempat tidur. Aku duduk bersila menghadapnya, tangannya masih kugenggam. "Ya, lucu sekali, apa kamu sudah makan?" tanyaku pada akhirnya.

"Belum," jawabnya singkat dengan nada lirih, terdengar sedih.

"Mau makan mie?" tawarku, tak ada jawaban, tapi pasti ia mengangguk karena setelahnya aku ditarik untuk bangkit. Kami pun menuju dapur id jam tiga pagi. Sejenak, ia tampak bingung, mondar-mandir tidak jelas dari langkah kaki yang kudengar, sampai akhirnya bertanya.

"Di mana Mamamu?" tanyanya.

"Oh itu yang membuatmu cemas, ia tidur di apartemen besarnya," balasku sembari tersenyum miring, sedang tanganku sibuk menyalakan api. Kemudian, mengambil sayuran dan mie dari kulkas.

Violet mendekat, ia berbisik, "Tapi, banyak penjaga di depan."

"Ya, hanya menjagaku agar tidak keluar, jadi kamu aman," balasku tanpa cemas sedikitpun, lebih fokus pada memasak mie. Mencuci sayuran hijau dan mengirisnya. Begitu air masak, menuangkan mie. Bumbu kupisahkan, aku pun mengambil dua mangkok. Sejenak melirik Violet yang tak ada suara lagi, "Daripada diam, bantu aku menyiapkan bumbunya, aku akan menggoreng telurnya!" perintahku.

Segera gadis itu mendekat, meraih gunting dan mengupas bumbu satu-satu kemudian menuangkannya. Melihatnya aku tersenyum.

"Menakutkan juga ya melihat benda-benda bergerak di udara sendiri," godaku sembari tersenyum miring, lali meliriknya yang langsung menghentikan kegiatannya. Dari gunting yang terarah padaku, sepertinya ia melirikku dengan tajam.

"Kennnn!" peringatnya.

Tawaku pun tak bisa kutahan membayangkan ia marah. Tawa kami pun pecah. Aku memecah telur, menuang ke panci penggorengan yang telah kusiapkan, lalu membiarkannya matang. Beralih ke mengaduk mie sampai matang, lalu membaginya ke dua mangkok yang sudah siap dengan bumbu. Violet pun membantu mengaduk mie, aku beralih membalik telur. Begitu matang, aku melengkapi mie dengan tolong telur.

"Siap!" sorak kami disusul tawa bahagia, aku merangkulnya.

"Kamu mau minuman dingin?" tanyaku.

"Ya, bir menarik disandingkan dengan mie," jawabnya.

Kuangguki dan langsung melenggang ke lemari es mengambil dua kaleng bir, lalu membawanya. Violet pun membawa dua mangkok mie yang telah siap ke meja depan televisi. Tanpa menyalakan TV, kami pun mulai menikmati makan malam dengan hangat. Selagi makan aku mengingat sesuatu, liontin batu amethyst.

"Violet," panggilku.

"Hemm?" tanyanya.

"Kamu kehilangan hal paling penting bukan?" tanyaku.

Sejenak ia terdiam, mungkin memikirkannya sampai pada akhirnya tak mendapat jawaban dan balik bertanya, "Kehilangan apa?"

Aku langsung mengeluarkan liontin amethyst itu dari saku, selama ini aku menyimpan dan membawanya ke mana-mana. Tangan transparan itu menyentuh liontin kalung tersebut.

"Kalung ini ... bagaimana kamu mendapatkannya?" tanyanya.

"Berputar, aku akan memakaikannya," pintaku. Ia sedikit bergeser membelakangiku, dengan arahan tangannya pun aku melingkarkan kalung ke lehernya, kemudian mengancingnya.

"Terima kasih," katanya.

"Nyonya Amelia yang menyimpannya, mama Vioni menemukannya saat kebakaran di laboratorium. Sebenarnya ia mencarimu waktu itu, ia juga berniat membantu percobaan mengubahmu menjadi manusia normal kembali," jelasku.

Tak ada respons dari Violet, sepertinya ia tak senang mendengarnya.

"Doktor Forc mengatakan batu amethyst mengandung senyawa penting sebagai bahan pengubah sel transparan manusia menjadi normal kembali, bahan yang tidak diketahui oleh Doktor Zey. Doktor Forc telah menelitinya," ungkapku.

"Ehm, aku baru tahu soal itu, aku begitu ingin menjadi normal kembali untukmu. Bagaimana kalau kita kembali ke Oradour San untuk percobaan itu?"

Evanescent [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang