"Anak perempuan tanpa sosok ayah, jika tidak tangguh dan ber-ego tinggi, kemungkinan ia terlahir kuat dan kebencian."
"Violet?" Aku melangkah ke dalam rumah kaca dengan ragu saat mendengar suara tangis seseorang. Berasal dari pojok ruangan tersebut, pasti Violet ada di sana merengkuh diri. Hanya helaan napas yang mewakili perasaanku saat ini, aku pun mendekat dan bersimpuh di depannya.
"Ken," lirihnya sebelum tangisnya semakin pilu. Benar saja, ia semakin sesenggukan dan histeris menangis.
Segera aku membawanya ke pelukan, rasanya sesak itu turut menjalar ke tubuhku dalam sekejap. Hidup tanpa seorang ayah jugalah hal yang aku alami, bahkan aku tidak tahu ke mana ayahku, identitasnya, dan bagaimana keadaannya. Untuk bertanya pada mama tentangnya pun sulit, ia selalu tak punya waktu dan aku yang takut menyakitinya.
Hanya bisa kupeluk erat gadis di dekapanku itu, menenggelamkan kepalanya di ceruk leher, daguku menempel di puncak kepalanya, dan tanganku mengusap lembut punggungnya untuk memberi penenangan.
"Ayah jahat padaku, Ken, aku bukan putrinya. Dia selalu meninggalkanku," isaknya pilu. "Saat aku dilahirkan ia tidak ada, ia meninggalkanku dan ibu. Lalu, saat ia kembali, ia menghancurkan duniaku dan meninggalkanku lagi. Ayah tidak pernah menyayangiku," imbuhnya. Kesedihannya membawaku jauh berkelana ....
Seorang gadis kecil dengan rambut pirang bergelombang, dress putih tulang, dan mata abu-abunya berlari ke arah pintu dengan cerianya.
"Ayahhhh!" serunya yang naik ke gendongan seorang pria paruh baya dengan kemeja biru, pantsuit hitam, tas dan kacamata yang melengkapi tampilannya. Ia dengan penuh semangat memeluk laki-laki yang baru pertama kali ditemuinya itu. Tapi, tak merasa asing, gadis itu begitu nyaman di gendongan sosok yang disebutnya ayah bahkan tak ragu mencium dan memeluknya.
Pemandangan itu pun membuat seorang wanita dengan rambut berwarna putih hampir merata itu tersenyum. "Akhirnya kamu pulang juga, Zey, Violet sudah lama menunggumu." Wanita yang tak lain adalah nenek Violet itu tersenyum dan mendekat.
"Ya, aku akan menetap di sini dan menemani putriku ini," ujar Doktor Zey kala itu. "Maafkan ayah, ya, Nak?" tanyanya sembari menatap sendu gadis kecil itu.
"Ayah Violet sangat tampan!" seru gadis kecil itu sembari menyentuh wajah sang ayah dengan tangan kecilnya. Gaya bicara dan pemikirannya yang menggemaskan membuat Doktor Zey dan neneknya tertawa.
Sejak itu, gadis kecil bermata abu-abu tersebut selalu di samping ayahnya. Merawat bunga, membuat alat, meneliti, hingga melakukan berbagai kegiatan lainnya bersama. Jika tak di gendongan, ia akan duduk di samping sang ayah.
"Ayah, aku di sini, jangan pernah pergi." Begitu rasa takut kehilangannya akan seorang ayah.
Lagi-lagi aku dibuat menghela napas membayangkan kejadian itu, ia bercerita dengan suaranya yang masih parau. Benar tangisan itu tak lagi terdengar saat cerita ia layangkan pada pertemuan pertamanya dengan sang ayah. Namun, dari suara yang terdengar, aku tahu kesedihan mendalam dan tangisnya. Pasti air mata itu masih mengalir bahkan terus memenuhi mata indahnya. Kini, tak ada lagi suara hingga kurasakan sosok itu benar-benar luruh ke arahku.
Ia tertidur, maka aku segera membopongnya ke dalam kamar. Begitu selesai membaringkan hingga menyelimutinya di kamar sang ibu, aku keluar. Setelah menutup pintu dan berjalan ke ruang keluarga pun sudah disambut dengan Doktor Zey.
KAMU SEDANG MEMBACA
Evanescent [TAMAT]
Science Fiction/evanes·cent/ (adj) Arti:lekas menghilang dan hanya bertahan dalam kurun waktu singkat. Oradour San, Prancis menjadi laboratorium seorang peneliti terkenal yang berhasil membuat organ manusia transparan. Namun, seseorang juga harus menjadi bahan uji...
![Evanescent [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/247088297-64-k90631.jpg)