FINGERTIP 6

302 50 8
                                    

"Nora, siapa pria menyeramkan yang duduk di ruang makan itu?!"

"Dia itu Zion, bodoh!" sahut Flyra dalam hati, membuat Lyra tersadar.

"Hehe... tapi, wajahnya menyeramkan sekali, ya ampun! Bagaimana kau bisa suka dengan pria dingin sepertinya, Fly?" tanya Lyra di dalam hantinya, yang tentu saja hanya dapat di dengar oleh Flyra saja.

"Aku tahu, tapi kesan pertamaku dengannya tidak seburuk yang kau kira!" dalihnya mengelak, Lyra hanya geleng geleng kepala, kemudian mengintip Zion sekali lagi.

"Apa yang kau lakukan?" suara bariton tersebut membuat Lyra yang sedang mengintip gelagapan. Bulu kuduknya meremang ketika mendengar ucapan suaminya.

Perlahan, Lyra masuk ke dalam ruang makan, tanpa Nora yang ternyata sudah menghilang sejak tadi.
Lyra mengutuk Nora dengan sumpah serapahnya dalam hati karena meninggalkannya sendirian bersama harimau di ruang makan saat ini.

"Ah, begini... uhm...."

Lyra tiba tiba tergagap karena masih grogi dan tak berani menatap mata suaminya secara langsung. Sementara itu, Zion yang melihatnya malah merasa risih.

"Langsung ke inti," ujarnya menyela, tak ingin berlama lama.

"Jadi... Zion, kau ingin sarapan bersamaku?" Dari segala pertanyaan yang berada di dalam pikiran Lyra, ia malah menanyakan pertanyaan konyol itu kepada Zion.

"Kau tak pernah memanggilku dengan nama langsung sebelumnya."

Lyra mengabaikan ucapan Zion, namun ia ikut tersentak.
Kemudian, Lyra menarik kursi yang berada di depan Zion untuk ikut menyantap makanannya.

"Fly, kau menyebut Zion seperti apa biasanya?" tanya Lyra dalam benaknya, sembari menikmati makanannya dalam diam.

"Aku biasa memanggilnya Suamiku."

Tiba tiba Lyra terbatuk mendengar balasan Flyra di dalam benaknya. Lyra mencari air, yang ternyata berada tepat di depan Zion.

Lyra ingin mengambilnya, namun ia sangat takut dan grogi ketika berada di dekat Zion seperti saat ini. Sekarang saja ia sudah berdoa berulang kali agar masih selamat setelah makan, apalagi mengambil air di seberang sana, ngeri woy!

Namun sesuatu hal yang sangat mengejutkan terjadi.

Zion berbaik hati menuangkan segelas minuman untuk Lyra. Zion menyodorkan segelas minuman kepada Lyra yang masih terbatuk hingga saat ini.

"Ambil," suruh Zion singkat, tanpa nada ataupun ekspresi khusus.

Lyra mengangkat tangannya perlahan, kemudian mengambil minuman yang disodorkan oleh Zion untuknya. Lupakan dulu soal ketakutannya, saat ini ia hanya butuh air untuk melegakan tenggorokannya!

Segera, Lyra meneguk air yang diberikan oleh Zion hingga habis.

Makan pun berlangsung dengan hening, tanpa ada satupun dari mereka yang angkat bicara.

"Hei, kenapa kau diam saja? Cepat katakan sesuatu kepadanya!" teriak Flyra yang menggema dalam benak Lyra.

"Aku mau mau saja jika topik yang dibahas berkaitan dengan hidupku," balas Lyra dalam hati.

"Sekarang katakan, apa yang suamimu itu sukai?" lanjut Lyra dengan menekan kata suamimu.

"Dia menyukai pekerjaannya, dan juga menyukaiku."

"Halu!" ucap Lyra keceplosan berteriak di depan Zion. Ia pun menutup mulutnya saat sadar bahwa masih ada satu manusia dihadapannya yang sedang melihat aneh kearahnya.

"Ahaha... maksudku dia yang halu bukan kau," kata Lyra sembari cengengesan sendiri, membuat Zion semakin aneh melihatnya.

"Dia?"

Lyra tersentak sekali lagi oleh ucapan Zion. Secepatnya ia memutar otak untuk mencari alasan.

"Hehe, maksudku Nora tadi mengintip di sana," ujar Lyra makin ngawur. Semoga saja Nora tidak bersin di tempatnya berada sekarang.

"Lalu?"

Lyra terdiam saat Zion menatap lurus ke arahnya. Pandangan mereka saling bertemu, membuat mereka berdua saling pandang.

Lyra mengalihkan pandangannya dan berdehem ketika dia sadar akan situasinya. Lyra kembali makan dengan damai, tanpa ada suara jeritan Flyra dalam benaknya.

Sesekali, Lyra mencuri pandang ke arah Zion untuk menghafal muka garangnya namun tampan itu.

Sementara Zion yang merasa terus diperhatikan merasa sedikit risih. Ia pun berdehem keras. "Sarapannya enak. Bukan begitu, Istri?" tanyanya sambil menatap lurus ke arah Lyra yang masih melihatnya dalam diam.

"Istri? Dia memanggilku Istri?" kata flyra.

Lyra yang merasa aksinya sudah diketahui pun hanya bisa nyengir. "Yah, sebenarnya ini masakan pertamaku."

'Dikehidupan ini,' lanjut Lyra dalam hati.

"Jadi, ini semua masakanmu?" tanya Zion lagi, dan Lyra mengangguk cepat mengiyakan.

"Apakah rasanya aneh? Maaf ya, aku tak terlalu berpengalaman-"

"Lumayan."

Lyra menatap Zion sembari cengar cengir sendiri, layaknya orang yang sudah tidak waras. Pasalnya, Lyra tak sanggup lagi umtuk berlama lama di tempat ini, karena tatapan tajam dan sifat dingin Zion yang membuatnya sedikit takut. Walaupun ia sudah dipuji olehnya, tak memungkiri bahwa ia tambah ngeri mendengarkan Zion yang memuji dirinya tadi.

Kini, giliran Zion yang diam diam menatap Lyra dengan tatapan yang sulit diartikan.

Beberapa menit kemudian, keduanya selesai memakan makanan mereka.

Zion berdehem keras, mencuri perhatian Lyra.
"Nanti malam datang ke kamarku," katanya singkat, padat, dan jelas. Kemudian Zion beranjak dari kursinya, meninggalkan Lyra yang masih bergeming sembari melongo tak percaya.

===========

Haloo! Siapa yang setuju aku update 2 kali seminggu?

Mulai besok aku udah luring gaes. So, aku tidak bisa berlama lama berfantasi ria seperti sebelumnya. Dan aku juga hampir kehabisan stok draftku di Fingertip ini T_T

Aku harap kalian dapat memahami keputusanku ini walaupun agak kejam😣.

Tetap tunggu Fingertip ya kawand😔🤘. Aku gaakan ngilang kok suer✌. Aku pun juga ingin segera tamatin cerita ini secepatnya, tapi apa dayaku (♡˙︶˙♡).

Okey sampai jumpa minggu depan, jangan lupa vote dan komennya yah~

Sebelum membaca bab selanjutnya, vote dulu yuk untuk mendukung saya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sebelum membaca bab selanjutnya, vote dulu yuk untuk mendukung saya. 😀✨

FINGERTIP✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang