+++++++
Jimin sedang bersantai di balkon teras lantai dua rumah keluarga Park. Rose yang baru saja keluar dari kamar segera menghampiri Jimin.
"Jangan memang wajah masam di depanku" ujar Jimin saat menatap Rose yang kini sudah duduk di sofa di depannya.
Rose merenggut, saat ini dirinya benar benar kesal, sangat.
"Jangan terlalu memikirkannya, kita pasti akan mendapatkan apa yang akan kita cari" ujar Jimin lagi. Rose, Jimin dan Jennie tak mendapatkan apapun yang mereka cari kemarin. Dan itu membuat Rose kesal, karena informasi yang mereka dapatkan sangat akurat, tapi setelah sampai di tempat itu tak ada apapun yang mereka bertiga dapatkan.
"Jennie dan Taehyung belum kembali?" Tanya Rose. Jennie memang kemarin meminta ijin untuk menyusul Taehyung.
Jimin menggeleng. "Kemungkinan mereka akan kembali besok lusa"
"Memang mereka kemana?"
Jimin menghela nafasnya. "Memangnya mereka tidak mengatakan sesuatu padamu?"
"Mereka hanya meminta izin untuk pulang ke rumah mereka karena ada masalah keluarga"
"Itu kau tahu"
Rose mencabik mendengar perkataan Jimin. Rose berpikir kalau Jimin tahu sesuatu tentang sepasang suami istri itu.
"Belum saatnya kau mengetahui tentang Jennie dan Taehyung yang sebenarnya" batin Jimin
"Kau sibuk hari ini?"
Rose menggeleng. Jimin kemudian beranjak dari duduknya dan menghampiri Jimin.
"Ayo kita berkencan hari ini" ujar Jimin dan membuat Rose melotot.
Jimin terkekeh akan reaksi Rose. "Kita jalan jalan, mereflekskan otak kita sebelum menyusun rencana selanjutnya, istriku"
"Memangnya kita akan kemana?" Rose menatap Jimin. "Aku tidak ingin pergi, sebelum kau menentukan ke mana kita akan pergi, aku tidak ingin hanya berkeliling kota saja"
Jimin kembali terkekeh. "Aku ingin membawamu ke suatu tempat, jadi bersiaplah, kita akan pergi beberapa menit lagi"
"Beberapa menit? Kenapa tidak sekarang saja?"
"Kau memangnya tidak ingin mengganti pakaianmu?"
Rose menatap pakaiannya dan kemudian menatap Jimin. "Aku masih cantik menggunakan pakaian ini"
"Bukan begitu, aku pikir kau ingin berganti pakaian, jadi--
"Baiklah, tunggu disini, aku akan mengganti pakaianku"
Rose beranjak dari duduknya dan segera menuju kamar dan meninggalkan Jimin yang menggelengkan kepalanya menatap punggung Rose.
+++++
Jimin membawa Rose ke sungai han Yang berada di kota Seoul Rose menyerit saat melihat Jimin membawanya ke sana.
"Kenapa kita kemari?" Tanya Rose menatap Jimin.
"Di sungai ini tempat kenangan keluarga ku" ujar Jimin dan membuat Rose terkejut.
"Aku ingin memperkenalkanmu pada mereka"
"Ayah, Ibu, Karina, kalian harus bahagia di sana. Tidak perlu mencemaskan ku di sini, aku hidup dengan baik" ujar Jimin dengan mata yang kini sudah berkaca kaca.
"Dan wanita yang saat ini bersamaku, dia Rose, istriku"
"Tolong lindungi kami berdua dari atas sana, karena aku dan Rose saat ini tengah berperang untuk membalas orang orang kejam yang telah membunuh kalian dan juga Ibunya"
Jimin menyeka air matanya dan kemudian tersenyum pada Rose.
"Hatiku kini sedikit lega"
Rose melangkah mendekat dan memeluk Jimin.
Dan Jimin tentu saja terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Rose.
"Kau dan aku saat ini satu, kita harus saling menguatkan" ujar Rose.
Jimin mengangguk dan kemudian membalas pelukan Rose.
"Kau benar, kita harus saling melindungi"
Rose melepaskan pelukannya dan menatap Jimin tepat di manik matanya.
"Saat ini hanya kau yang ku percaya Jimin"
Tangan Jimin terangkat mengelus pipi Rose dan kemudian mengelusnya.
"Aku juga hanya mempercayaimu Rose"
"Kita harus kuat, untuk bisa membalas orang orang yang sudah membunuh orang terkasih kita"
Rose mengangguk. "Kau tahu, saat aku melihat wajah Alex , aku ingin sekali membunuhnya"
"Jimin, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa mengendalikan diriku untuk bersabar saat melihat pembunuh Ibuku setiap harinya"
"Hatiku terbakar amarah saat melihat Ayahku-- tidak dia bukan lagi Ayahku, Alex park hanya seorang pembunuh di mataku saat ini"
Jimin menatap mata Rose yang terbakar amarah. Jimin tahu itu, karena Jimin juga pernah merasakan apa yang saat ini Rose rasakan.
"Kau harus mengendalikan amarahmu, kalau tidak rencana kita akan sia sia"
Rose mengangguk.
"Aku juga sudah mendapatkan informasi dari orangku, Alfin sedang mempersiapkan sebuah pesta untuk menghabisi kita"
"Pesta yang akan berlangsung besok malam itu?"
Jimin mengangguk.
"Aku dan Devan sudah menambah beberapa orang di rumah Jeon , dan kita berdua harus berhati hati di sana"
"Terutama dirimu" ujar Rose. "Pamanmu itu pasti ingin sekali menyingkirkanmu secepatnya"
"Kurasa begitu, aku akan mencoba menghubungi Taehyung dan Jennie agar mereka bisa kembali besok pagi, agar ada yang menemanimu besok di pesta itu"
+++++
Pesta yang di adakan di kediaman Jeon saat ini sudah di gelar. Berbagai rekan bisnis Alfin sudah mulai berdatangan, termasuk keluarga park.
Rose dan Jimin saling berpandangan, mereka berdua mempersiapkan diri cukup matang untuk menghadiri pesta ini. Mereka berdua kemudian menatap sekelilingnya.
"Berhati hatilah" bisik Jimin pada Rose
"Tuan Park"
Alfin datang menghampiri Alex bersama dengan Jaka di belakangnya. alfin menjabat tangan Alex seraya tersenyum.
"Terima kasih sudah datang ke pestaku ini, kalian jangan sungkan untuk menikmatinya"
"Terima kasih tuan Jeon, pestanya sangat mewah"
Alfin tertawa pelan. "Aku sudah mendengar itu di setiap tamuku yang datang malam ini"
"Kalau begitu nikmati pestanya, aku akan menyapa tamu yang lainnya"
Alfin kemudian berlalu, tapi mata Jimin masih mengikuti setiap pergerakan Alfin .
Sementara itu di luar kediaman Jeon, Devan, Jennie dan Taehyung sudah tiba, mereka berhasil masuk ke dalam rumah Jeon.
"Kita berpencar?" Tanya Devan
Taehyung menggeleng. "Aku tidak bisa membuat Jennie dalam bahaya, aku akan bersama istriku" ujar Taehyung
"Baiklah, hubungi aku jika kalian mendapatkan sesuatu"
Taehyung mengangguk.
"Tunggu"
Taehyung dan Devan menatap Jennie yang bersuara.
"Ada apa Jennie?"
Jennie menatap Taehyung yang kemudian melirik keatas rumah Jeon , Taehyung dan Devan yang mengerti segera melihat keatas sana.
"Sniper"
Jennie yang tadi menatap sekelilingnya tak sengaja melihat seseorang dari atas atap rumah.
"Apa Rose atau Jimin akan di habisi dengan di tembak?"
"Aku sudah meminta beberapa anak buahku untuk mengecek bagian atas rumah dan sebagiannya lagi tetap diarea pesta untuk melindungi Rose dan Jimin"
"Kita harus membuat Rose dan Jimin meninggalkan kediaman Jeon sekarang"
"Tidak Taehyung, saat ini kita harus melawan dan menunjukan pada mereka kalau lawan yang mereka hadapi bukanlah lawan yang lemah" ujar Devan dengan tangan terkepal. Devan dan Jimin memang sudah beberapa kali berhadapan dengan Alfin yang berakhir dengan kekalahan. Tapi saat ini, Devan tidak ingin mengalami kekalahan lagi.
"Kita ubah rencana" ujar Jennie
"Apa maksudmu Jennie?" Taehyung menatap istrinya bingung
"Kita kacaukan saja pestanya"
Taehyung dan Devan saling berpandangan. Beberapa saat kemudian sebuah senyum miring terbit di sudut bibir mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Semoga kalian suka
Jangan lupa vote nya byee
KAMU SEDANG MEMBACA
REVENGE AND LOVE || Jirose [END]
Teen Fiction"aku bahkan bisa memberikanmu uang lebih banyak" "yak! Apa maksud perkataanmu itu" "asal kau mau menikah denganku, bukan guci itu saja yang ku ganti. Kau juga akan mendapatkan uang yang sangat banyak"
![REVENGE AND LOVE || Jirose [END]](https://img.wattpad.com/cover/246653382-64-k342264.jpg)