Bagian 34

22.7K 704 16
                                    

Mereka telah menikah Diana dan Keffan resmi menjadi suami istri. Mereka sekarang sedang membagikan besek untuk tetangga yang ingin pulang. Setelah mereka pulang sekarang tinggalah orang rumah.

''Al, kamu gak bilang kalo Karin kesini.'' Kata Diana setelah acara selesai bahkan sudah berganti baju. Keffan mengobrol dengan Allexe dan Arthur di teras rumah.

''lakimu nanya, punya saudara kah terus kujawab ada si Karin, sahabat dekatnya.'' Cerita Aldi. ''Eh lakimu langsung nanya alamat baru pake helikopter di jemput.'' Akhirnya.

''Ganteng lagi yang bawa hellikopter, kenalin.'' Kata Karin ke Diana Ia memeluk lengan wanita itu sambil menggoyangkannya.

''Lah, aku aja gak kenal, nanti aku tanya suamiku. Tak lama Keffan masuk untuk minta air mineral gelas.

''Mah, minta minum.'' Kata Keffan sambil menunjuk gelas ditangan yang kososng.

''Nah itu,'' Diana berdiri dan mengambilkan air mineral gelas. ''Pah, Karin nanya cowok yang jemput dia siapa?'' tanya Diana. Keffan menatap Karin sambil mencium kepala Diana.

''Akrin namanya, anak buah Allexe. Bujang kok umurnya 29 tahun, pinter bawa kendaraan darat, udara sama laut. Kepala driver dia.'' Jawab Keffan.

''Maksudnya?'' tanya Karin.

''Dia pemimpin kendaraan, jadi kalau kita mau bepergian tinggal kontak dia nanti si Akrin itu yang merintahin anak buahnya. Kebetulan anak buahnya pada sibuk jadi dirinya sendiri yang jemput.'' Cerita Keffan.

''Kayaan mana? Pak Keffan atau Pak Allexe?'' tanya Karin.

''Allexe lah, mantan pemimpin Mafia dia. Banyak usahanya didunia terang dan gelap.'' Kata Keffan di sela canda tertawa.

''Kalau mau sama si Akrin silahkan, asalkan kuat aja sama pendiamnya.''

''Nanti kubuat ribut, Ah...Ah..Ah...'' jawab Karin. Aldi memukul lengan Karin dan wanita itu tertawa lepas.

''Ngomong gak di saring, heran.'' Kata Aldi sambil menatap Karin kesal.

**

Eja bermain dengan Lia dan Lio lalu bersama anaknya Allexe juga. Mereka bermain bersama. Tak lama Eja di samperin teman- teman kampungnya dulu. Mereka berbondong- bondong datang sambil membawa buah dari hutan.

''Eja.'' Panggil Riko. Eja mendongak ia tersenyum senang dan lekas berdiri.

''Wei, ayo main. Ayo.'' Ajak Eja sambil menunjuk area bermainnya.

''Ini kita bawain buah dari hutan, rambai.'' Kata mereka sambil memberikan ke Eja. Eja lansung teringat sama Diana, Eja mengambilnya dan berlari masuk kerumah.

''Umi...Umi... ini teman Eja bawain rambai.'' Eja duduk di depan Diana. Diana mengambilnya sambil tersenyum.

''Makasih sayang, mana temennya suruh masuk makanan gitu.'' Diana berdiri ia mengambil makanan, Eja lantas berlari keluar untuk menemui teman- temannya.

''Teman- teman ayo masuk, dipanggil Umi aku.'' Katanya sambil memanggil mereka tangannya bergerak melambai.

''Wah..'' seru mereka.

''Ini Papahku, sekarang Aku punya Papah. Namanya Papah Keffan. Mirip Eja kan.'' Kata Eja sambil menghampiri Keffan yang duduk di teras bersama kak Louis yang baru datang dan dua temannya.

''Salam kenal Om.'' Kenalnya sambil mencium tangan Keffan. Keffan tertawa sambil mengusap kepala teman Eja yang berjumlah tujuh orang.

''Masukan, ada makanan banyak.'' Kata Keffan.

''Umi...Umi...Umi...'' panggil Eja. "Umi bawa mainan Eja yang banyak kan? Eja mau kasihkan ke mereka. Merkea semua masuk dan dudukan dengan rapih tak lama Diana keluar sambil membawa kotak KFC dan membagikannya ke mereka.

''Wah, ayam restoran. Makasih Umi.'' Pekik mereka sambil tertawa senang, ada yang langsung dimakan dan ada yang untuk dibawa pulang.

''Aku mau kasih ke adikku, pasti dia senang.'' Jawab Dani, teman Eja.

''Makan aja nanti Umi bungkusin lagi.'' kata Diana sambil duduk di hadapan mereka. Eja dari kamar mendorong kontener besar berisi mainannya dari Balikpapan. Aldi segera berdiri dan mengangkat kontener itu untuk dibawa keluar.

''Eja punya mainan, Papah Eja belikan satu truk besar. Ini untuk kalian, boleh dibawa pulang kok kalo kurang nanti Eja bilang ke Papah.'' Katanya bersemangat.

Diana merasa teraru dengan sifat Eja yang sangat sayang dan tidak melupakan teman- temannya. Begitu perhatian seperti ini.

''Beneran...? Makasih ya Eja.'' Mereka langsung mendekati kontener yang buka oleh Aldi dan membiarkan anak- anak itu mengambil mainan yang ia mau. Karena didalam ramai keempat pria dewasa itu masuk dan terkaget melihat anak- anak yang nampak bahagia terutama Eja yang tertawa lepas dan membanti teman- temannya untuk memilih mainan. Allexe dan Arthur menepuk bahu Keffan.

''Anakmu sedari kecil tau arti berbagi, sederhana dan perhatian. Jodohin sama anakku aja deh, Lia.'' Ujar Arthur.

''Sama Resha aja gimana atau Imelda? Aku punya anak gadis dua.'' Ujar Allexe.

Keffan yang berdiri ditengah singa buas dan buaya langsung menggelengkan kepalanya dan menolak.

''Aku tidak ingin besanan dengan kalian berdua.'' Tolak Keffan tak lama ia menghampiri Eja dan Diana. Berkumpul dengan keluarga kecilnya.

Arthur dan Allexe tertawa terbahak- bahak tak lama kak Loius yang dibelakang menepuk bahu keduanya.

''Dimana- mana wanita yang diperebutkan untuk laki- laki. Keponakanku memang tiada duanya.''

''Benar, kamu sangat benar.'' Jawab Arthur membenarkan dan Allexe mengiyakan.

***

Eja keluar bersama kedua orang tuanya untuk menemani mereka yang ingin berpamitan. Allexe dan Arthur harus kembali ke Balikpapan untuk melanjutkan pekerjaan. Istri dan anak mereka juga harus kerja dan sekolah. Kak Louis kembali bekerja juga hingga menyisakan orang rumah.

Rumah kini berantakan untung saja ada Shilla dan karin yang membantunya beresin rumah beserta julak. Perabotan rumah dikembalikan seperti sedia kala. Keffan dan Diana juga harus kembali ke Balikpapan nanti malam karena besok mereka harus melukan beberapa pekerjaan yang terntunda.

Shilla mengemasi sampah minuman dan makanan yang berserakan sedangkan Karin menggulung karpet dan sarung yang dipakai acara sedangkan Aldi mengangkat meja dan kursi untuk dibawa masuk ke dalam rumah. Julak Aluh mencuci gelas dan piring yang dipakai tapi tidak banyak.

Dua hellikopter itu mulai terbang meninggi dan meninggalkan tanah Paser.

''Apa Papah punya hellikopter kaya Papahnya Ia dan Io sama Daelen Pah?'' tanya Eja. Keffan menggengong Eja dan masuk ke dalam rumah sederhana.

''Sure, papah punya tapi bukan di Indonesia.'' Jawabnya sambil mencium anaknya.

''Hah, terus dimana?'' tanya Eja.

''Dubai, luar negeri.''

''Dimana itu?''

''Jauh, harus naik pesawat.''

''Kenapa bisa Dubai?'' celetuk Diana yang tidak sengaja mendengar Keffan berbicara dengan Eja. Keffan berbalik menghadap Diana dan memeluk opinggangnya.

''Aku kepikiran untuk pindah kesana untuk mulai hidup yang baru. Disana perekonomiannya bagus. Disana peluang untuk membuka usaha besar, untuk pendidikan Eja juga sangat bagus.''

''Aku ikut kamu aja, kemanapun kamu berada.'' Jawab Diana. Keffan tersenyum dan mengangguk.

''Kita urus masalah selanjutnya ya.''

''Oke...''

''Setelah semua beres aku dan kamu akan hidup tenang dan bahagia bersama Eja dan adik-adiknya nanti.''

''Tentu saja sayang.'' Jawab Diana.

Eja memeluk keduanya.

Apakah ini takdir mereka bertiga? Diana bisa mendapatkan Keffan seseorang yang dicintainya dengan tulus. 

Diana: The Ex-wife mitressTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang