-15- Pelukan Rindu

1.3K 81 13
                                    

"I'm back!" ucap Wiltson bersemangat dengan bibir yang dipoles lipstik berwarna merah pekat.

Wanita rambut hitam lurus sedikit berantakan itu membawa tas belanja warna-warni di lengannya. Lalu berjalan dengan santai ke arah Annie. Gadis itu berada di dalam kamar bersama dengan maid yang sedang menyisiri rambut coklat gelombangnya. Dia memakai dress selutut berwarna toska bermotif bunga putih, dengan bagian bawah dada, dan lengan sedikit mengembang, dress ini milik sang tuan rumah, Wiltson.

Wiltson menatap gadis itu dengan mata terbuka lebar seperti terkejut, lalu senyum manis muncul seketika dari bibir wanita itu. "Astaga maaf harus memakai pakaian milikku, jujur saja aku tidak menyangka dress ini akan terlihat sangat cocok di tubuhmu." puji Wiltson.

Setelah salah satu maid selesai merapihkan rambut Annie, ia memilih berjalan dan menundukkan badannya kepada Wiltson, lalu segera keluar dari ruangan.

Annie memilih bangun dari kursinya. "Tidak apa-apa nyonya Wiltson, dress ini sangat nyaman!" ungkap gadis itu lalu tersenyum.

"Nyonya?" Wiltson tertawa seketika sambil memegangi perutnya. "kau bukan pembantuku, panggil saja aku Mom Wiltson."

Gadis itu menyelipkan beberapa helai rambut dibelakang telinga kanannya. Wajahnya tersipu malu karena salah memanggil sebutan sang pemilik rumah. "Baik, m-mom," jawab Annie dengan ragu.

"Hey, ada apa dengan lenganmu, sayang?" ucap Wiltson dengan penuh kekhawatiran.

Dia segera berjalan ke hadapan Annie, dan meraih tangan kanan gadis itu. Dilihatnya bekas luka goresan diiringi dengan beberapa lebam yang masih sedikit tersisa di beberapa bagian goresan. "Christopher's?" Wanita tua itu berusaha membaca goresan-goresan yang membentuk beberapa huruf di lengan Annie.

Nafas Annie seketika memburu, ekspresi wajahnya terlihat ketakutan mengingat kejadian-kejadian itu. Di hempaskan lengan gadis itu dari Wiltson, Annie menyembunyikan kedua tangannya ke belakang tubuhnya. "Luka ini sudah lama, mom. Kau tak perlu mengkhawatirkan itu," ungkap Annie dengan suara pelan.

"Chris yang melakukan itu, bukan?" tanya Wiltson memastikan, "aku tau itu pasti sangat menyakitkan."

Mata hijau gadis itu berkaca-kaca. Bibir bagian bawahnya ia gigit kuat-kuat, tidak tahu harus menjawab apa. Semua yang dikatakan Wiltson itu benar, Chris yang telah melakukan ini kepadanya, dan tentu saja luka yang ada dilengannya sangat menyakitkan. Gadis ini harus menahannya semua rasa sakit dilengan maupun ditubuhnya selama tinggal dirumah sakit.

Wanita berambut hitam itu meraih tubuh Annie dengan kedua tangannya, dipeluknya tubuh gadis itu erat-erat. Air mata itu akhirnya menetes, sudah tak bisa dibendung. Ingatan-ingatan buruk itu seketika kembali menghantui pikirannya.

"Tenanglah." Wanita tua itu berbisik di sebelah telinga Annie. "Aku akan membantumu sebisaku."

○●○●○

"Aku telah mengantarkan lalu membiayaimu berobat dirumah sakit, dan sekarang kau minta aku mengantarkanmu ke Los Angeles?" teriak kakek tua itu di hadapan Chris, "tidakkah kau memiliki urat malu? Kau bahkan tidak mengucapkan terima kasih!"

Pria berbalut perban dibagian dada dan telapak tangannya itu memutarkan matanya dengan malas. Dia baru saja mendapatkan beberapa jahitan ditubuhnya akibat luka tusukan dan peluru beberapa saat yang lalu, dan sekarang ia dengan terpaksa harus mendengarkan ocehan pria tua yang ada di depannya.

"Sedari-tadi aku memintamu mengantarkanku ke Los Angeles, bukan rumah sakit. Salahkan telingamu yang mulai keriput itu!" ucap Chris tak mau kalah.

"Kau mau ke Los Angeles dengan tubuh seperti tadi? Mungkin saja kita bisa sampai dalam waktu satu hari penuh, tapi ku jamin kau sudah tak bernyawa di tengah jalan!" Kesal Amir sambil mengacungkan telunjuknya ke wajah pria yang jauh lebih muda darinya. "Bahkan kau tak mau dioperasi tulang punggung karena terlalu lama menghabiskan banyak waktu, kau mau suatu saat tanganmu mati rasa karena itu?"

Your Eyes [SLOW UPDATE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang