Dua gadis bersahabat itu tampak terburu-buru keluar dari sebuah toko aksesoris sambil membawa beberapa jinjingan belanjaan. Entah apa saja isinya, yang jelas kantung-kantung belanjaan itu sudah memenuhi bagasi belakang mobil matic putih milik Odette. Keduanya bergegas masuk ke mobil setelah memastikan tak ada yang tertinggal di sana.
"Client ternyebelin yang pernah gue temui! Gila aja, aksesori salon gue rusak semua gara-gara mantannya dateng dan ngamuk-ngamuk!" gerutu Odette sepanjang perjalanan sambil tetap menyetir dengan baik. "Mana besok mau ada yang sewa dengan konsep yang sama pula."
"Sabar, Dette. Yang penting client lo mau tanggung jawab atas kerusakan itu."
"Iya sih, cuma kita harus nyusun aksesori pengantin dari awal lagi."
"Gue bantuin deh, tapi nanti malem ya," tawar Silvanna.
"Serius?" Odette mendadak semeringah apalagi saat Silvanna mengangguk. "Oke, gue tunggu lo di apartemen gue malam ini!" kata Odette seraya menghentikan mobilnya karena lampu lalu lintas berwarna merah.
Pandangan Silvanna menebar ke segala arah sambil menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau. Saat matanya berpusat pada sebuah halte, Silvanna tertarik pada satu perempuan yang duduk di sana. Dia sendiri seperti kebingungan dan kehilangan arah tujuan.
"Nana?" gumamnya saat memastikan pandangannya. Silvanna masih ingat pada gadis yang hampir ditabrak Odette beberapa waktu yang lalu. Gadis itu masih saja bolos sekolah.
"Siapa, Silv?" tanya Odette yang entah kapan mengikuti arah pandang Silvanna.
"Itu Nana, Dette." Silvanna menunjuk ke arah halte yang ada di sebelah kiri mereka. "Anak SMA yang hampir ketabrak itu."
Odette menangkap kembali ingatannya, "Oh iya, gue inget. Dia bolos lagi?"
Silvanna menggeleng tak tahu. "Tapi dia keliatan lagi bingung. Apa gue samperin aja?" Silvanna meminta saran.
"Mending lo samperin. Mungkin aja dia butuh bantuan lo," usul Odette kemudian.
"Tapi nanti lo nurunin barang gimana?" tanya Silvanna yang tak bisa meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja.
"Gampang, ada Fanny sama porter apartemen gue."
Alasan Odette membuat Silvanna lega untuk meninggalkan Odette saat itu. Ia turun dari mobil itu setelah berpamitan pada Odette. Beberapa detik kemudian, lampu lalu lintas berubah hijau sehingga Silvanna harus buru-buru menepi.
"Nana, kamu ngapain di sini?" tanya Silvanna yang membuat Nana kaget di tempatnya.
"K-kak Silva," katanya terkejut. Ia makin terlihat ketakutan apalagi saat Silvanna duduk di sebelahnya.
"Kamu bolos lagi?" tanya Silvanna.
Nana menggeleng dan tak berani menatap mata Silvanna. "M-maaf, kak. Aku harus pergi," pamit Nana lalu bangkit dari duduknya. Baru beberapa langkah berjalan, ada sebuah kertas yang terjatuh di depan Silvanna.
Silvanna buru-buru mengambilnya sebelum Nana mengambilnya lebih dulu. Silvanna menghindar saat Nana berusaha merebut kembali kertas itu.
Bola mata Silvanna ke sana ke mari selama membaca isi surat itu. Seselesainya membaca isi surat itu, Silvanna menatap Nana yang menunduk.
"Ini surat untuk orang tua kamu, Na. Apa kamu nggak kasih ke mereka?" tanya Silvanna.
"Percuma, kak. Nggak akan ada yang datang," lirihnya kembali duduk.
"Orang tua kamu sibuk?" tanya Silvanna.
Nana diam sejenak, "Orang tuaku udah nggak ada, Kak."
Hati Silvanna bagai tersayat saat Nana menjawab pertanyaannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Soulmate
FanfictionCerita ini merupakan kelanjutan dari novel 'Roommate'. Disarankan untuk membaca Roommate terlebih dahulu agar tidak bingung dalam mengikuti alur ceritanya 😊💘 Silvanna sudah mantap menambatkan hatinya pada sosok mantan roommate menyebalkannya, Gra...