20. Feel My Feelings

496 57 120
                                    

Memasuki unit apartemennya, Silvanna langsung mencuci mukanya. Ia teringat pada kecuekan Granger akhir-akhir ini sekaligus memikirkan Zilong yang kembali hadir di hidupnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Memperhatikan dirinya sendiri yang memang belum sempurna.

Keluar kamar mandi, Silvanna dikagetkan dengan kemunculan Granger di unit apartemennya. Cowok itu langsung mengapit Silvanna di dinding di antara 2 pintu kamar di unit apartemen itu. Silvanna menelan ludah saat menatap mata Granger yang menajam ke arahnya.

"Dari mana aja?" tanya Granger

"Abis nemenin Nana. Kamu kan tau sendiri kalo hari ini--"

"Kenapa baru pulang jam segini? Ke mana dulu?"

Silvanna mendengus, "Nganterin Nana sama temen-temennya dulu, lah," bohongnya tanpa ingin menatap mata hitam itu.

"Habis itu?" Pertanyaan Granger yang datang bertubi-tubi membuat telinga Silvanna panas.

Tak mau terpojok oleh kekasihnya, Silvanna mendorong tubuh Granger untuk melepaskan diri. Ia menghindari Granger yang masih menunggu jawabannya.

"Kamu ke mana lagi, Silv?" tanya Granger lagi pada gadis yang membelakanginya beberapa langkah itu.

"Aku nggak ke mana-mana lagi, Granger. Kamu ini kenapa, sih?" Silvanna mulai gregetan. Ia berbalik arah setelah menjawab, membalas tatapan dari Granger. 

Granger mengacungkan ponselnya yang tengah memutar sebuah video. Terlihat di sana ada Zilong yang tengah bertengkar dengan Ling serta Silvanna yang berada di tempat yang sama.

Silvanna mengalihkan pandangan, berusaha mencari jawaban sendiri mengapa Granger bisa mendapatkan video itu. Mungkin, karena tangan-tangan iseng orang yang lewat jalan itu lalu mengambil video perkelahian itu.

"Kamu bisa jelasin video ini?" Granger masih berusaha bersikap senormal mungkin. Senormal laki-laki yang tak ingin kehilangan kekasihnya.

"Ya, aku nganterin Nana sama Zilong. Kenapa?" ujar Silvanna kemudian.

"Kenapa kamu nggak bilang dulu kalau mau berangkat bareng Zilong?" tanya Granger.

Silvanna maju untuk membuat jaraknya dengan Granger lebih dekat. "Kenapa? Bukannya kamu sendiri yang nggak bisa nganterin kita?" Silvanna malah balik bertanya. "Kamu sendiri yang batalin, kamu sendiri yang sewot pas aku pergi sama orang lain!"

"Bukannya aku nggak bisa. Aku harus kerja, dan itu buat kamu juga!" kata Granger berusaha menekan amarahnya. "Sekarang jelasin, kenapa kamu bisa pergi sama Zilong?!"

"Kenapa harus dijelasin? Bukannya kamu udah liat ya di video kalo Zilong nolongin kita dari Ling?" jawab Silvanna langsung. "Kamu bayangin, Gran, kalo nggak ada Zilong, kita udah terluka karena Ling terlalu nekat!"

"Kenapa harus Zilong? Kamu nggak minta anter Claude, Lance, atau Hayabusa? Biasanya kan kamu sama mereka kalo nggak bisa sama aku?"

Silvanna kembali menurunkan napasnya pelan. "Mereka juga punya kesibukan, Gran! Mana mungkin aku ganggu mereka terus?!" ujar Silvanna. "Lagian kenapa sih kalau sama Zilong? Bukannya dia client kamu juga?"

"Jangan sangka aku nggak tau soal Zilong!" kata Granger membuat Silvanna segera menarik napasnya. "Zilong suka kan sama kamu?!"

Mata Silvanna sontak membulat. Dari mana Granger tahu soal ini? Apa mungkin Fanny atau Claude yang memberi tahu Granger--karena memang hanya pasangan tengil itu yang tahu masalah ini.

Gadis bersurai krem itu tidak menjawab, lebih tepatnya tidak punya jawaban untuk pertanyaan krusial itu.

"Kamu jangan ngasal, Gran!"

SoulmateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang