04. I'm Back

419 66 55
                                    

Silvanna menggeret kopernya untuk masuk ke sebuah peron di stasiun kereta Kota Azrya. Ada ransel tempat barang-barang kebutuhannya selama perjalanan di gendongannya, serta di tangannya ada buket bunga berukuran sedang yang diberikan Zilong padanya di malam sebelumnya.

Sambil menunggu kereta, ia duduk di kursi peron sambil memandangi buket bunga itu. Semoga, tak ada masalah atas keputusannya semalam.

- Flashback -

"Aku tertarik sama kamu, Silvanna," ungkap Zilong tanpa basa-basi membuat detak jantung Silvanna mendadak berhenti. "Awalnya kamu memang terlihat biasa, namun setelah melihat keaktifan kamu, inisiatif, dan kecerdasan kamu, aku simpulkan kalau aku mulai menyukaimu!" lanjutnya. "Kamu perempuan yang luar biasa."

Di malam yang bertabur bintang itu, Silvanna bak melihat petir di ujung langit. Mengagetkan.

Melihat Silvanna yang seakan kehilangan kata-kata, Zilong segera memberikan buket bunga berukuran sedang itu. "Ini buat kamu."

Silvanna masih bingung harus bagaimana. Yang jelas, pikirannya kacau saat ini.

"Silvanna, ada masalah?" tanya Zilong kemudian ketika melihat gadis itu belum juga mengeluarkan kata-kata.

"Mohon maaf, Pak. Bukannya saya lancang, tapi saya tidak bisa," tolaknya secara halus.

"Apa karena ancaman Aurora?" tanya Zilong yang seakan tahu kelakuan Aurora pada Silvanna selama ini.

"Aku sering lihat dia sinis padamu. Dari situ, aku tahu kalau Aurora tidak menyukaimu," kata Zilong. "Kalau memang benar itu alasannya, aku akan mengambil langkah tegas untuk memecatnya."

Silvanna lantas menggeleng. "Bukan itu alasan utamanya, Pak." Silvanna mencoba jujur. "Saya tidak bisa menerima bapak karena... saya sudah bertunangan."

Zilong menarik napas dalam seraya menjatuhkan buketnya ke meja. Ia menengok ke arah lain untuk menyamarkan rasa kagetnya.

"Sejak kapan?" tanya Zilong yang mencoba tenang.

"Enam bulan yang lalu, Pak. Dan kami sudah berpacaran selama kurang lebih dua tahun."

Kini Zilong yang terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Penolakan Silvanna begitu mengoyak hatinya. Belum pernah ia ditolak oleh perempuan manapun yang diinginkannya. Inilah penolakan pertama yang diterimanya.

"Apa buktinya, Silvanna." Zilong masih belum menyerah. Ia masih menginginkan bukti dari Silvanna yang bisa meyakinkannya.

Silvanna mengangkat tangan yang salah satu jarinya disemati cincin emas putih simbol pertunangannya. "Ini cincin pertunangan saya dengan kekasih saya, Granger Chanter."

- Flashback off –

Mengenai buket itu, Zilong yang meminta Silvanna membawanya pulang. Anggap saja, bunga itu sebagai reward kecil atas prestasi yang dicapai Silvanna selama magang di StarTV. Apapun alasannya, ia tidak ingin bunga itu. Ia membawa pulang buket itu hanya untuk menghargai Zilong sebagai atasannya, bukan untuk tujuan yang lain.

Saat pengumuman kedatangan keretanya terdengar dari pusat informasi, Silvanna bersiap dan mengecek barang-barangnya. Dan ketika kereta itu berhenti, ia menghampiri seorang petugas kereta yang berdiri di depan pintu gerbongnya. Gadis petugas itu tersenyum ramah padanya.

Silvanna lantas memberikan buket itu pada petugas berseragam biru itu. "Saya tadi menemukan buket ini di kursi tunggu. Saya pikir, sayang untuk dibuang begitu saja. Saya rasa, bunga cantik ini lebih baik Anda simpan di tempat yang terbaik."

SoulmateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang