"Mau apa lo ke sini?" tanya Freya.
"Gue mau nagih janji lo!" tegas seseorang misterius itu yang ternyata bersuara laki-laki.
Freya terus melangkah mundur hingga meja kerja membatasi langkahnya. Mau tak mau kini ia diapit antara meja dan pria misterius itu.
"Janji apa?"
"Janji kalo lo mau ngasih apapun yang gue mau kalau semua rencana lo berhasil!"
Pria itu membuka tudung jubahnya, lalu mengapit dagu Freya di antara ibu jari dan telunjuk kanannya. Pria itu lengsung menghirup aroma leher Freya lalu menggigit telinganya.
"Cukup, Ling! Hentikan ini!" Freya lekas melepaskan diri dengan mendorong Ling kuat-kuat. Ia menghampiri gagang telepon untuk memanggil seseorang.
Gagang telepon itu ditepis Ling hingga menggantung di depan meja.
"Percuma, Fre. Nggak ada orang lain lagi di kantor ini selain kita," kata Ling dengan senyum iblisnya.
"Mana mungkin!"
"Gue udah pasang pengumuman palsu. Gue suruh semua karyawan lo pulang, tanpa ada yang tersisa seorang pun di sini!"
Freya melotot mendengar perkataan Ling barusan. Bisa-bisanya cowok sipit itu membajak akses kantornya untuk menyebar informasi palsu.
"Kurang ajar!" sahut Freya dari tempatnya.
Ling menarik Freya lalu membantingnya ke tembok dekat pintu. Begitu tangan Freya hendak menggapai gagang pintu, Ling langsung mengunci dan mencabutnya. Ling kembali membanting Freya ke tembok lalu mencekik lehernya.
"Kerjaan gue berat. Jadi, ini bakalan sebanding dengan apa yang harus lo bayarkan." Ling berbisik di telinga Freya yang sudah terancam itu.
"Tapi, mana mungkin. Lo jangan macem-macem, Ling!"
"Kalo lo nolak, siap-siap aja semua rencana busuk lo bakal kebongkar semua!"
Mendengar ancaman itu, Freya terdiam. Ia memaksa untuk melepas cengkraman tangan Ling di lehernya. Setelah terlepas, Ling malah membantingnya ke sofa yang ada di ruangan itu. Ling mematikan lampu untuk memulai aksinya.
***
Tujuan Vexana menyambangi kota Celestial hanya satu, mencari tahu kebenaran kabar buruk yang didengarnya mengenai Granger dan Silvanna akhir-akhir ini. Sejujurnya, kabar ini begitu mengguncang Vexana. Ia hampir tidak percaya kalau hubungan anak asuh dengan pacarnya akan berakhir bencana seperti ini.
Dengan tubuhnya yang gemetar karena termakan usia, Vexana berusaha berdiri dari tempat tidurnya meski harus berpegangan ke nakas. Lututnya terasa begitu sakit. Namun, ia harus segera mengobrol dengan Silvanna.
Meski pelan, Vexana berhasil meraih gagang pintu lalu membukanya pelan. Namun sesampainya ia di ambang pintu, beberapa pasang mata memandangnya.
Silvanna langsung bangkit untuk membantu Vexana duduk di sofa bersama kedua orangtuanya, Zilong, dan juga Dyrroth.
"Nenek ini siapa, Silvanna?" tanya Nyonya Aurelius sambil memberikan ruang untuk Vexanna duduk.
"Bibi Vexana, Ma. Pengasuhnya Granger waktu kecil," sahut Silvanna pelan. Ia khawatir kalau mamanya masih sensitif mendengar kata Granger di sana.
"Apa kabar, Nyonya Vexana?" tanya Tuan Aurelius dengan sopannya.
"Saya baik-baik saja, Tuan," sahut Vexana dengan nada gemetarnya.
Suasana hening setelah mendengar jawaban dari Vexana. Ingin langsung menyampaikan maksud dan tujuannya ke Celestial, Vexana memanfaatkan jeda tersebut untuk berbicara.

KAMU SEDANG MEMBACA
Soulmate
FanfictionCerita ini merupakan kelanjutan dari novel 'Roommate'. Disarankan untuk membaca Roommate terlebih dahulu agar tidak bingung dalam mengikuti alur ceritanya 😊💘 Silvanna sudah mantap menambatkan hatinya pada sosok mantan roommate menyebalkannya, Gra...