This my first story! Belum ada niat untuk merevisi, jadi kalau Kata-katanya berantakan dan alurnya tidak tertata. I'm so sorry:)
...
Hidup Bulan penuh kepahitan, entah karena keluarga maupun percintaan. Tidak ada yang berpihak, kecuali teman-teman...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sabtu pagi. Mendung sudah menghitamkan suasana, matahari tak dapat menyinari bumi dengan bebas. Meski begitu orang-orang tetap gigih beraktivitas.
Masih terlalu dini untuk menahan amarah akibat macet. Kenzi merasakan itu. Berkali-kali ia memukul setir mobilnya.
Shezan hanya dapat mengelus dada dan ber-istighfar dalam hati. Cara ampuh menahan amarah baginya.
Kenzi membelokkan setir. Mobil hitam itu melewati jalanan yang jauh lebih sepi. Keduanya dapat bernapas lega.
Mobil mereka kembali ke jalan raya, namun sedikit lenggang. Kenzi menginjak rem kala mobilnya berada di depan salah satu apotik besar.
Tanpa mengindahkan antrian panjang, Kenzi menerobos saja. Ia langsung berdiri di depan pegawai.
"Kenzi antre dulu! Kasian yang udah nunggu dari tadi." Shezan memperingatkan, ia menarik kerah belakang kaos Kenzi.
"Suka-suka gue woi. Bodoh amat sama orang orang." Kenzi kesal, terlihat dari nada bicaranya.
"Oke, meninggal gelinding sendiri ya sampai liang lahat!" Shezan tersenyum misterius sambil mengelus rambut Kenzi yang selalu digulung asal.
"Ck." Mendengar decakan Kenzi, Shezan terkikik.
Saatnya mereka dilayani. Keduanya segera berjalan mendekati pegawai. Lebih tepatnya, pemilik apotik yang kebetulan sedang berada di sana.
"Keponakan bandel. Lupa kalau punya tante?" Wanita berkepala tiga itu menonyor kening Kenzi.
"Sibuk tante." Kenzi menunjukkan gigi ratanya.
"Cih, sok banget ni anak." Wanita itu bergidik.
"Mau apa?" Kini Kenzi dan Shezan mulai menampilkan wajah serius mereka. Ina, tante Kenzi juga terbawa keseriusan mereka.
Kenzi mengeluarkan botol kecil itu. Memberikannya kepada Ina. Entah mengapa Ina langsung terkejut.
"I-ni ka-mu dapat dari mana?" Ina berucap terbata-bata.
"Memang itu apa ya tan?" Shezan yang sedari tadi diam, akhirnya berbicara.
Ina melihat sekitar. Mewanti-wanti bila ada seseorang didekat mereka dan mendengar ucapannya.
"Tante enggak tahu pasti. Tapi tante pernah dengar ini dari teman tante yang dokter. One drink your life is over, sambil nunjukin foto kayak ini."
Kenzi dan Shezan sangat tahu arti dari kalimat itu. Namun, mereka malah menunjukkan wajah bingung.
"Gini aja, kamu datang ke alamat ini dan temui orang ini!" Ina menyodorkan note kecil yang baru ia beri tulisan.
"Kok rumah sakit? Malas tante," keluh Kenzi setelah ia membaca note itu.
Shezan menepuk keras pantat Kenzi, "Malas? Bulan lebih penting dari pada malasmu itu." Shezan tersenyum menatap Kenzi.
"Ya ya ya ya." Kenzi memutar bola matanya.
"Ya sudah tante, terima kasih," Shezan tersenyum manis kepada Ina.
"Iya, kapan-kapan main ke rumah tante ya She!" Shezan mengangkat jempolnya, "Siap tante."
"Makasih tante cantik." Kenzi berjalan mundur sambil melambaikan tangan.
Mobil mereka kembali melaju. Jalanan sudah sedikit lenggang. Hingga mereka hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai rumah sakit.
Shezan berjalan cepat menuju resepsionis. Ia melihat note yang diberikan Ina sekali lagi. Membaca nama yang akan ia temui.
"Maaf sus, apakah dokter Alex sibuk?"
"Sudah membuat janji?" Suster itu tersenyum ramah. Shezan menggeleng.
"Sebentar! Saya akan menelpon beliau." Shezan mengangguk menanggapi.
"Beliau bisa ditemui di ruangannya. Di lantai tiga," ucap suster itu setelah selesai menelpon.
"Terima kasih."
Shezan menarik tangan Kenzi yang sedari tadi berjalan dengan tak semangat. Langkahnya melangkah cepat, padahal ia sedang mengenakan rok panjang.
Lorong demi lorong telah mereka lewati, bahkan mereka sudah berjalan di lorong lantai tiga. Sepanjang lorong Kenzi dan Shezan melihat setiap tulisan yang terpasang di depan pintu.
Langkah keduanya terhenti di depan pintu milik dokter Alex. Selepas mengetuk tiga kali, mereka melangkah masuk setelah dipersilahkan.
"Ada kepentingan apa?" Dokter Alex berbicara saat Kenzi dan Shezan telah duduk.
"Maaf sebelumnya telah mengganggu Anda." Shezan tersenyum sungkan.
Dokter Alex mengangguk pelan, "Begini, kami ingin menanyakan sesuatu."
Dokter Alex terlihat masih muda. Wajahnya selalu menampakkan ekspresi serius. Bicara pun harus langsung pada intinya.
Shezan mengeluarkan botol itu. Kenzi yang sedari tadi memperhatikan dokter Alex dengan intens merasa ada perubahan pada ekspresinya.
"Saya tidak tahu. Bagaimana jika kalian bertemu apoteker di sini? Saya ada pekerjaan mendadak."
Kenzi menaikkan satu alisnya, "Tapi anda tidak menerima telepon atau apa pun yang memberitahu anda tentang pekerjaan dadakan."
"Saya baru mengingat ada pekerjaan yang belum diselesaikan. Saya akan menelpon apoteker itu untuk kalian." Dokter Alex sudah memegang ganggang telepon.
"Tidak perlu, kami akan mencari tahu sendiri tentang racun mematikan ini." Kenzi masih menatap intens dokter itu.
"Emm, anda pernah mendengar tentang bangkai yang bau? Padahal berada di tempat yang tersembunyi? Andakan seorang dokter yang pasti berpendidikan, boleh beri tahu saya apa arti kalimat itu?" Mata Shezan berbinar.
"Begini, seorang penipu pasti bersembunyi namun sepandai apapun ia bersembunyi, pasti akan ketahuan." Dokter itu terdiam setelah menjelaskan.
"Permisi."
Kenzi dan Shezan berdiri, mereka mulai berjalan keluar ruangan.
"Tunggu!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.