This my first story! Belum ada niat untuk merevisi, jadi kalau Kata-katanya berantakan dan alurnya tidak tertata. I'm so sorry:)
...
Hidup Bulan penuh kepahitan, entah karena keluarga maupun percintaan. Tidak ada yang berpihak, kecuali teman-teman...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seragam putih kini berubah kehitaman. Rambut pun lepek dan berbau. Ini bukan tubuh manusia, lebih seperti sampah yang berjalan.
Sepanjang perjalananku menuju toilet, suara tawa menemaniku. Raut jijik dan langkah menjauh aku terima.
Sampai di toilet ternyata penderitaan ini belum usai. Tiga orang gadis menyambutku, mereka bukan orang yang membuatku seperti ini di gudang, tapi mungkin memperburuk keadaanku di toilet.
Aku tidak tahu mengapa jadi seperti ini. Sebelumnya aku hanya dikenal sebagai salah satu siswi biasa. Namun, semuanya berubah dalam satu malam.
Semua mengejekku, memandang rendah diriku. Sampai-sampai tak takut menindas dan membuatku seperti ini.
Aku di dorong keluar dari toilet, pintu kayu dibanting dan dikunci. Sabar, kata yang berkali-kali kupaksa ada di hati.
Berbalik, berjalan lagi di koridor yang berarti ditertawakan dan menelan caci maki kembali. Begitulah perjalananku menuju toilet lain yang lebih jauh keberadaannya.
Kemeja sekolah milik seseorang menutupi buruknya keadaan kemejaku. Orang itu tersenyum menenangkan sambil menatapku.
"Ayo gue anter!"
Mulutku tidak menjawab, tapi kulangkahkan kaki. Semua mata tertuju pada kami. Aku tidak menunduk, menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar.
"Nih seragam, tadi gue beli di koperasi siswa." Aku menerima sodoran seragam dari laki-laki itu.
"Makasih."
Aku berjalan memasuki toilet, tapi mengapa aku merasa ada yang mengikuti. Berbalik, wajahku menubruk dada bidang laki-laki itu.
Aku mematung sesaat sebelum mundur beberapa langkah.
"Kenapa ikut ke dalam kak Aska?"
Aska mengidikkan bahu, "Waspada aja. Ntar ada yang mau bully Lo lagi."
"Di sini saja!"
Aska mengangguk, "Oke calon."
Calon apa maksudnya? Aku tidak mencalonkan diri sebagai menteri, apalagi presiden. Apa calon istri? Percaya diri sekali aku ini.
...
"Gue bingung, kenapa mereka bisa berubah gini." Gena menggaruk keningnya.
Lauren mengangguk setuju, "Padahal kemarin masih oke oke aja."
"Kalian kenapa enggak ikut bully gue?" Aku menatap satu persatu dari mereka.
"Heh yang bener Lo kalau nanya! Mau ada orang yang jelek-jelek in Lo kek, kita mah bodoh amat. Kita udah temenan setahun, gila aja." Sandra menggebrak meja. Gena menganguk setuju.
Aku menganggukkan kepala saja. Melanjutkan menyalin tulisan dari papan ke buku.
"Uh so sweet." Lauren mengedip-ngedipkan matanya, menatap Sandra.
"Jangan bucin depan gue, jijik."
Aku tersenyum menatap mereka. Mereka obat dari segala lara. Kebahagiaan yang tidak kutemukan dari orang lain.
Amel berlari dengan wajah paniknya, menghampiriku. Ia tak sendiri kedua temannya mengikuti.
"Kak kamu gapapa?"
"Tadi katanya kakak di bully."
Aku menghela nafas sebelum menggeleng. Malas meladeni lebih, tapi jika tidak orang-orang akan bertanya-tanya dan mulai menggali lebih dalam tentangku.
Kasihan dan peduli memang beda tipis. Kasihan hadir meski dari orang yang tak dikenal. Peduli akan selalu ada di diri orang tulus menyayangi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.