°Hidrolisis°

451 85 138
                                        

JANGAN LUPA FOLLOW IG
@official_asambasa
.
๑˙❥˙๑♡‿♡๑˙❥˙๑

"Kamu benar-benar ga berguna!"

David menahan nafas tanpa berpindah pandangan dengan lantai putih khas rumah sakit,

"Pah Aira--"

"Belum puas kamu! Belum puas kamu mencelakai kakak kamu! Belum puas!?!" Anuar mengangkat dagu sang putera, "Jawab Papa David!"

Helaan nafas panjang dari David menjadi titik acu bahwa ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi.

"Udah David larang." pemuda malang itu mengangkat kepala, menatap sayu sang Ayah "Aira keras kepala, anak itu--"

Badan David terhuyung ke samping, ruam merah langsung memenuhi pipi putihnya. Ia memejam sesaat menyampaikan amarahnya pada kepalan tangan.

"Benar-benar tidak bisa dipercaya." Anuar menatap dingin sang putera, "Papa semakin yakin bahwa meninggalkan kamu adalah pilihan terbaik."

Sial. Suara tamparan itu membuat perhatian penuh mengarah pada David.

Ia benci itu! Atau lebih tepatnya, ia benci kalimat Anuar. David benci fakta yang keluar dari bibir Anuar. David sangat membenci kalimat itu.

Sangat-sangat membencinya!

"Jadi karena sifat keras kepala Aira, kamu sampai tidak berani memberi tahu kami? Jangan bilang kamu diancam sesuatu? atau... memang ini sengaja dilakukan!?"

Penekanan suara Anuar masih begitu tinggi, pria itu tidak peduli bagaimana banyak pasang mata melihat semuanya, entah sekedar menatap iba atau mungkin telah merekam sesuatu untuk disebarkan pada sosial media.

"Untuk mengurus hal-hal seperti ini saja tidak becus, bagaimana dengan perusahaan. Oma-mu sepertinya bercanda tentang penerus Prameswari.corp dengan spesifikasi abal-abal." kali ini suara tegas dari wanita yang paling David sayang, Merta sang Mama.

"Mama kecewa, jujur. David, kamu tau kepulangan Aira untuk memperbaiki hubungan kalian, memperbaiki masalah keluarga kita, tapi kenapa kamu membuat semuanya kacau?"

Tidak ada lagi sapaan hangat dari setiap katanya, tidak ada lagi senyuman manis di akhir kalimatnya, tidak ada lagi usapan lembut dan kecupan singkat di dahi David ketika bertemu sang Ibu.

Kesalahan ini... terlalu fatal!

"David! Liat Mama!" Merta mendekati sang putera, "Kenapa kamu jadi egois seperti ini. Siapa yang memengaruhi kamu !?!"

Wanita pertengahan empat puluh tahun itu memegang lengan David, sedang sang empu masih setia membisu dengan tatapan nanar pada lantai putih rumah sakit.

"David look at me!"

Tangan David semakin mengepal, gigi-giginya menggertak kuat, sungguh ia benar-benar muak sekarang.

"David jawab!"

"KALIAN!"

Satu pukulan keras mendarat pada dinding rumah sakit.

"Dav--"

Sangat keras, hingga buku-buku tangan sang pemilik mengeluarkan darah segar.

Anuar baru saja melangkah maju untuk kembali melayangkan sebuah pukulan pada David, namun dengan cepat Merta mengahalau.

"Biar saya yang menanganinya." Ibu dua anak itu mendekati pemuda yang kini menatap tajam dirinya, "Mama ga salah denger kan Dav? Omong kosong apa lagi ini?"

"Omong kosong...?"

David terkekeh sembari menggeleng pelan, "Mama seorang psikiater, setiap hari Mama berurusan dengan banyak masalah hidup manusia. And yeah you do it, semua masalah orang lain Mama bisa ngerti. Tapi kenapa...." David semakin menajamkan penglihatan membuat sang lawan sedikit gugup karena tatapan dingin itu, "Kenapa Mah... kenapa Mama ga sadar kalau keluarga Mama punya masalah yang ga pernah diselesaikan. Kenapa Ma? David bahkan perlu minum pil tidur setiap harinya Mama ga pernah peduli? Kenapa?!"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 19 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Asam&BasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang