"Aku takut pada banyak hal dan itu hal yang paling menakutkan untukku" - Aoi Kanzaki
.
.
.
.
.
Hari ini Aoi tak berangkat sekolah dengan alasan sakit, memang benar. Kondisi tubuh gadis kucir dua itu sedikit menurun. Suhu tubuhnya cukup hangat dan wajahnya yang sembab.
Aoi tak banyak bercerita soal kehidupannya pada kedua orang tuanya, ia hanya menceritakan apa yang perlu dan menyimpan cerita yang tak perlu mereka dengar.
Termasuk alasan kepindahan Aoi yang di rahasiakan, memang benar. PAda awalnya kedua orang tua Aoi kaget mendengarnya, tapi mereka tetap mengiyakan permintaannya.
"Sayang, apa barangmu sudah dikemas semua?" tanya sang Mama memastikan kembali.
Setelah menyelesaikan surat kepindahan, pekerja yang disewa kedua orang tuanya mulai mengangkut barang-barang yang hendak dibawa ke dalam mobil.
"Udah Ma, Aoi udah selesai," sahut Aoi pelan.
Gadis itu kembali menyeka sudut matanya yang berair, entah mengapa hari ini ia merasa hatinya sangat sakit. Sakit sekali, sampai membuatnya ingin menghilang.
"Yakin berangkat sekarang nak? Apa gak mau pamit dulu sama Kanao?"
Sang Papa pun ikut menoleh, mendapati anak semata wayangnya hanya diam ketika ditanya oleh Mamanya.
"Udah pamit ko Mah, Pah, kemarin kita vc-nan,"
"Bener? Ko tadi pagi Kanao gak kesini buat jenguk kamu, atau salam perpisahan. Kan kamu pindah hari ini,"
Ini kenapa Mama banyak nanya sih :(
Tak kehabisan kata-kata, Aoi kembali menyahut seolah semua yang dikatakannya memang terjadi.
"Ish, Mah Dia tuh ngambek makanya gak kesini. Semalem juga aku larang dia main kesini, jadi yah kita itu banyak ribut sampai aku nangis-nangis dan gitu lah Mah, intinya aku udah bilang ko!"
Bohong, jelas ia bohong.
Semalam, ia memang menangis sampai ia tertidur dengan sendirinya. Tak ada vc Kanao, ataupun chattan dengan Inosuke.
Ia sudah menggantinya dengan nomor baru malam itu.
"Ya udah, kalo gitu kita berangkat," ucap sang Mama lembut.
Satu langkah, hari ini Aoi tak akan tinggal di rumah ini lagi. Tak akan berangkat ataupun pulang bersama lagi, tak akan menghabiskan malam untuk belajar bersama ataupun berbagi dapur untuk membuat suatu masakan lagi.
Hari-harinya, tak akan sama lagi. Aoi tahu itu dan tetap melangkah pergi.
***
Jalanan kota cukup ramai di jam istirahat, Kyoujuro mendapat tugas untuk mengantar Kanao pulang dan kini keduanya berada di dalam mobil, saling diam menunggu traffic lights.
Saling diam itu bukanlah hal yang menyenangkan. Kyoujuro tau itu, setelah kehabisan topik guru itu berinisiatif menyalakan radio mobilnya.
Setidaknya, setelah percakapan menyenangkan tadi suasananya akan tetap menyenangkan saat mereka saling diam.
"Saya nyalakan radionya ya? Hari ini akan sangat menyenangkan bila musik yang kita dengar menggambarkan suasananya kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
For my Dear || END
Fanfiction~Sekuel Kanao Love Story . . . . . . Siapa yang tahu tentang diriku? Tanjirou bukanlah pemuda yang bisa berterus terang ketika sedang terlibat masalah. Sebisa mungkin pemuda itu menyelesaikan semuanya sendiri. Bergerak, jatuh dan bangkit sendiri. S...
