Tarissa Acasha, perempuan berumur 25 tahun yang suka berpindah tempat tinggal. Dia akan tinggal paling lama setahun pada suatu tempat, setelah itu pindah ke kota lainnya. Menurutnya jika tempat itu sudah berisik, maka lekas pindah. Bukan tanpa alasa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌇🌇🌇
Rombongan yang tadinya hanya dua belas orang sekarang sudah lebih dari lima puluh orang. Dengan masing-masing mengendarai motor sendiri, membuat padat jalanan di malam hari. Tidak hanya laki-laki, perempuan pun tergabung dalam konvoi itu. Mereka tak lain adalah teman Dhea dulunya. Sebagian besar sudah memiliki kesibukan sendiri. Dan malam ini mereka akhirnya bisa istirahat sejenak.
Dhea memimpin rombongan itu di depan dengan seorang lelaki. Selebihnya mengikuti di belakang dengan rapi. Tarissa yang duduk di boncengannya tidak bisa tidak tersenyum di balik helm miliknya. Saat ini dia merasa seperti remaja lagi.
Jalanan Jakarta tampak masih ramai padahal sudah malam. Beberapa pengendara yang mereka lewati menatap ke arah mereka. Tarissa bersyukur dia memakai helm dengan kaca gelap. Jadi wajahnya tidak kelihatan.
Dhea memberi kode pada lelaki di sampingnya agar berbelok ke kanan, dan langsung diinstruksikan ke rombongan di belakang.
Lucu juga. Mereka bukan anak ABG lagi melainkan sudah dewasa. Bahkan sebagian sudah ada yang berkeluarga. Tapi sekarang seperti anak remaja lagi.
"Kafe Dion!" Dhea berteriak agar yang lain mendengar. Dan suaranya dilanjutkan ke belakang oleh yang lain.
Sekarang mereka berhenti di parkiran sebuah kafe. Kafe ini cukup luas untuk menampung semua teman Dhea. Saat gadis itu memerintahkan semua masuk, seseorang menghadang mereka di depan pintu.
Lelaki itu berdiri sambil bertolak pinggang. "Kalo mau tawuran jangan di kafe gua, Bangsat!" ketusnya.
"Siapa yang mau tawuran goblok! Orang mau ngadem! Abis muter-muter, capek!" celetuk Nisa---teman Dhea yang berprofesi sebagai HRD di salah satu perusahaan milik teman mereka. Saat bekerja mungkin dia kalem, tapi beda jika sudah berada di jalanan.
"Bayar gak?" Lelaki bernama Dion itu menatap mereka dengan mata menyipit.
"Ngutang!" Hampir semua berseru dan tanpa izin langsung menerobos masuk.
Dion yang tersingkir dari pintu mengumpat keras. Dia beruntung kafenya sedang sepi. Jika tidak, para pengunjung yang lain pasti tidak nyaman karena kedatangan para teman kampretnya ini.
Tanpa memedulikan pelototannya, temannya yang lain memesan yang mereka mau dengan tergesa-gesa. Para karyawannya mau tidak mau melayani mereka. Tentu saja tampang preman seperti mereka membuat karyawannya takut.
Dia tidak bisa mencegah. Sekarang tugasnya mencari sumber masalah. Sudah jelas ini karena Dhea!
"Dhea!" Teriakannya membuat orang yang dimaksud terjengkang. Untung saja gadis itu duduk di dekat tembok jadi tidak jatuh ke lantai.
"Apa sih? Selow napa dih!" Dhea membenarkan letak duduknya yang hampir jatuh. "Kenapa?!" tanyanya ngegas.
"Lu, kan, yang bawa mereka ke sini?! Awas kalo lu gak bayar!" Dion melotot pada gadis itu, sementara Dhea hanya memasang wajah tak peduli.