Ditulis, 23 Juli 2022.
🌇🌇🌇
Tarissa akhirnya keluar dari rumah sakit siang hari. Itupun setelah berdebat tidak penting dengan Archlucky. Pada akhirnya dia pulang bersama Dhea karena lelaki itu memiliki urusan penting.
Dia mencibir. Baru bertemu sehari sudah pergi lagi. Awas saja tidak muncul lagi!
"Napa muka lu sinis gitu?" Dhea bertanya saat melihat wajah menyedihkan Tarissa.
"Kagak!" sahut Tarissa.
"Karena ditinggal Lorenzo, kan? Haha! Makan tuh!" Dhea tertawa keras usai mengatakan itu.
"Cih! Bacot lo! Buruan pulang. Kucing gue belum dikasi makan," ujar Tarissa. "Semoga aja dia pup di kasur lo. Bersyukur gue!"
Dhea memakai helmnya, lalu memukul kepala Tarissa yang juga terlindung helm. "Si Putih gak segoblok elu, ampe pup di kasur segala!" celetuknya. "Buruan naik. Mama bilang udah masak banyak," ujarnya.
Mata Tarissa berbinar mendengarnya. Dia buru-buru naik ke boncengan, lalu berpegangan pada pundak Dhea. Dhea masih memakai jaket kulit tadi malam, hanya saja pedangnya sudah dititipkan pada yang lain. Bahaya membawa benda tajam sembarangan, takutnya dikira mau tawuran. Meski tadi malam niatnya begitu.
Setelah menyusuri jalan dan menerobos macet yang amat panjang, akhirnya mereka tiba di rumah. Saat pertama kali datang, Tarissa sempat kaget ketika terjebak macet. Namun, dia cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
"Mama! Dhea yang cantik ini pulang!" Dhea langsung berteriak setelah masuk rumah. Kepalanya celingukan mencari Sofia. Kemudian, hidungnya kembang kempis sebelum berlari ke dapur. Sementara Tarissa hanya mengikutinya dari belakang.
Tiba di dapur, Sofia sedang merapikan makanan di meja makan. Saat melihat Tarissa pulang, dia segera menariknya untuk duduk. "Sini Mama liat mama yang luka," katanya. Setelah melihat kiri dan kanan, dia meringis. "Kok bisa jatuh? Kepalanya sampai diperban gitu. Masih pusing? Abis makan, langsung istirahat aja."
Mendapat perhatian yang bertubi-tubi, Tarissa hanya bisa tersenyum pasrah. "Udah gak pusing lagi kok. Semalam kurang hati-hati aja makanya jatuh. Tapi udah gak papa," jelasnya.
Sofia menghela napas lega. "Bagus deh. Lain kali jangan ikut Dhea keluar lagi. Nanti kenapa-kenapa. Untung gak parah," katanya.
Dhea yang disebut-sebut segera menoleh. "Dih. Kok aku? Orang dia jatuh sendiri," ujarnya tak terima.
"Kalau kamu gak ngajak Aira keluar, dia gak akan jatuh. Berarti salah kamu," kata Sofia menyalahkan.
"Bukan salah Dhea kok, Ma. Aku aja yang jalan sambil ngelamun. Namanya juga kecelakaan," ujar Tarissa. Duo ibu dan anak ini jika tidak dipisah akan terus beradu argumen. Lebih baik diselesaikan lebih awal.
"Tuh, dengerin," celetuk Dhea.
Sofia mengetuk kepala Dhea dengan sendok yang ia pegang. "Diam kamu!"
🌇🌇🌇
Malamnya Tarissa sedang duduk di ruang TV. Dhea sedang berbaring di pangkuan Sofia sambil makan keripik singkong. Di samping Sofia ada Sofian yang juga bersantai. Sementara Alvian duduk sendirian di ruang tamu. Tarissa bisa melihat kepala pria itu karena ruangan hanya dipisah dengan meja putih.
Pesan dengan dering khusus masuk ke ponselnya beberapa kali. Tanpa perlu dilihat, dia tahu siapa pengirimnya. Hanya saja, orang itu jarang menghubunginya baru-baru kecuali ada yang mendesak.
Cicit CPU
Help!
Kakak!
Kak Chasa yang cuantik!
Darurat!
Ada kelompok yang nyariin kakak!
Heh! Balas!
Anda
Siapa?
KAMU SEDANG MEMBACA
Mantan Nyusahin
AcciónTarissa Acasha, perempuan berumur 25 tahun yang suka berpindah tempat tinggal. Dia akan tinggal paling lama setahun pada suatu tempat, setelah itu pindah ke kota lainnya. Menurutnya jika tempat itu sudah berisik, maka lekas pindah. Bukan tanpa alasa...
