Ditulis, 14 Desember 2022.
🌇🌇🌇
Archlucky keluar dari mobil, berjalan menuju Tarissa duduk. Namun, saat hampir sampai, gadis itu sudah ditarik menjauh oleh Emma. Dia menatap wanita itu dengan tidak senang.
Emma mengabaikan kakinya yang lemah dan berbisik kepada Tarissa, "Ini temen yang lu maksud? Kagak salah?"
"Iya. Dia salah satu temen gue di sini. Tadinya mau ngajakin temen gue yang cewek. Tapi dia lagi jalan ama pacarnya," ujar Tarissa, ikut berbisik.
Anita yang gelisah juga ikut berbisik. "Sejak kapan lu kenal dia? Di sini, lu jangan asal pilih temen. Nanti lu dijual, mampus."
Tarissa berkedip. Yah, soal dijual, sepertinya dia memang pernah dijual kemarin. Namun, dia punya kepercayaan pada diri sendiri dan teman yang dia pilih. Lagipula dia berteman dengan Martin karena pria itu tampan. Melihat keindahan membuat matanya cerah!
"Dia temen lama gue. Um sekitar 6 tahunan mungkin." Tarissa mengingat. Sepertinya memang 6 tahun.
Emma dan Anita kaget. 6 tahun?! Mau tidak mau mereka melihat Tarissa dengan teliti, lalu melirik Archlucky diam-diam.
Hei, apakah mantan bos mereka jatuh cinta pada Tarissa saat itu tetapi ditolak? Lalu dia frustasi dan membangun rumah bordil untuk melepas kesedihannya? Namun, itu juga tidak benar. Sebab, mantan bos mereka ini sama sekali belum pernah menyentuh wanita yang ada di sana.
Ah, mungkin juga mantan bos mereka ingin tetap suci. Lihat saja Tarissa. Gadis ini dilihat dari sisi manapun terlihat seperti gadis baik dan polos. Jika dia tahu Archlucky punya banyak wanita penghibur di gedung belakang, pasti tidak akan mau berteman dengannya lagi.
Yah, sebagai mantan pekerja yang baik, mereka harus melindungi mantan bos mereka. Bagaimanapun, meski Tarissa baik, tetapi Archlucky sudah memberi mereka banyak uang.
Maaf teman. Sepertinya kamu memang harus dijual.
Untungnya Archlucky tidak tahu isi pikiran mereka. Jika iya, dia pasti akan mengurung mereka kembali. Orang gila tidak baik dibiarkan berkeliaran di jalan!
"Udah?" Suara dingin pria itu membawa mereka kembali ke bumi.
Tanpa sadar keduanya mengangguk. "Udah, udah."
Archlucky hanya melihat Tarissa, mengabaikan kedua wanita lainnya. "Ke sini," ujarnya.
Tarissa menggerutu dalam hati karena disuruh-suruh, tetapi kakinya melangkah dengan gembira. "Cepat banget sampainya. Kamu ngebut, ya?" tanyanya dengan mata menuduh.
"Jangan suka nuduh orang. Aku emang lagi di deket sini tadi," ujar Archlucky.
"Jangan-jangan kamu emang ngikutin aku?" Jika tadi hanya bertanya santai, kali ini Tarissa menuduhnya dengan serius.
"Jangan kepedean. Masuk mobil. Di luar panas." Archlucky berkata. Matahari sudah tinggi. Meski tubuhnya tinggi, masih tidak bisa melindungi tubuh Tarissa sepenuhnya dari panas.
Tarissa mendengkus pelan, terlihat seolah-olah kesal. Namun, senyum di matanya tidak bisa berbohong. Dia berusaha keras menekan bibirnya agar tidak tersenyum, lalu berbalik ke arah Emma dan Anita. "Masuk dulu. Di luar panas," katanya. Terdengar seperti tidak ada beban saat mengatakan itu.
Emma dan Anita tidak menjawab apalagi bergerak, hanya melirik Archlucky takut-takut. Ingin sekali berkata, "Aira, tolong sadar diri. Itu bukan mobil elu!"
Tarissa yang sudah di depan pintu mobil menoleh, karena tidak mendengar pergerakan apapun dari mereka. "Ngapain diem aja? Masuk. Panas ini. Gosong ntar," katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mantan Nyusahin
ActionTarissa Acasha, perempuan berumur 25 tahun yang suka berpindah tempat tinggal. Dia akan tinggal paling lama setahun pada suatu tempat, setelah itu pindah ke kota lainnya. Menurutnya jika tempat itu sudah berisik, maka lekas pindah. Bukan tanpa alasa...
