Archlucky Luciano Lorenzo

180 19 0
                                        

Ditulis, 7 September 2021.

Ditulis, 7 September 2021

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌇🌇🌇

Di salah satu kamar di Babyclub, seorang lelaki menatap jijik pada wanita yang tergeletak di lantai tidak jauh darinya. Tubuh wanita itu telanj*ng tanpa sehelai benang pun. Tangan kanannya tampak bengkok tidak normal, seolah tulangnya berpindah tempat.

"Udah gua bilang jangan biarin cewek manapun masuk!" ucapnya dingin.

Keempat pria yang ada di kamar itu bergetar ketakutan. Ini salah mereka karena membiarkan wanita dari tempat itu masuk ke kamar bos dan mencoba untuk merangkak ke tempat tidurnya. Mereka kira bos mereka akan menerima wanita cantik. Namun tampaknya dia akan membunuh perempuan manapun yang berada dalam jarak 1 meter dengannya.

"Buang dan bersihkan tempat ini! Gua gak mau ada bau menjijikkan yang nempel di sini!" perintahnya.

"Baik, Bos!"

Keempat pria itu bergerak cepat untuk membersihkan tempat itu. Takut jika bos mereka tidak puas dan akan menjadi orang yang akhirnya mati.

Sementara mereka membersihkannya, lelaki itu pergi ke ruangan lain. Di sana sudah ada pria yang menunggunya. Pria itu memegang amplop cokelat di tangannya sambil membungkuk hormat.

"Nama pria itu Martin Mahaganta. Dia bandar narkoba yang sedang dicari polisi. Tujuannya ke sini karena akan ada pertemuan dalam dua hari. Di bar ini. Pukul 8 malam." Pria itu mengucapkan poin penting, sementara lelaki tadi membuka satu persatu berkas di depannya.

"Apa perlu saya periksa perempuan itu juga?"

Lelaki tadi menghentikan gerakan tangannya. Dahinya berkerut, membuat alis tebalnya hampir bertemu. "Gak perlu. Jangan sentuh dia," katanya.

"Ya."

"Keluar." Satu kata darinya langsung membuat pria tadi pergi dengan patuh.

Setelah tempat itu sunyi, dia mengetuk jarinya di atas meja. Memikirkan perempuan yang ia temui di minimarket tadi malam. Mata dan suara itu .... Jantungnya berdebar saat memikirkannya.

Ya. Dia lelaki tadi malam. Lelaki yang menyelamatkan Tarissa di pertemuan pertama mereka. Dan, dia juga orang yang dicari perempuan itu hingga sampai ke kota ini.

Archlucky Luciano Lorenzo.

Bukannya dia tidak ingin mencari tahu tentang perempuan itu. Hanya saja dia takut apa yang dia temukan membuatnya tidak tahan. Menurutnya lebih baik tidak tahu apa-apa, ketimbang tahu segalanya dan terluka.

Dia kembali melihat kertas di tangannya. Matanya menyipit berbahaya melihat informasi Martin. Lelaki ini tidak cocok untuk perempuan itu. Bahkan bayangannya pun tidak pantas dekat dengannya.

"Kenapa dia suka mencari masalah?" gumamnya.

Jika Tarissa mendengar itu dia akan mengamuk dan berkata, "Bukan aku yang mencari masalah! Tapi masalah yang suka nyamperin aku!"

Memikirkan itu, sudut mulutnya melengkung saat mengingat bagaimana perempuan itu saat marah tadi malam. Meski tertutup masker, api di matanya masih kelihatan. Seperti kucing yang ekornya terinjak dan mengamuk.

"Aira?" Dia terkekeh geli. Jika merasa terancam, perempuan itu akan segera mengganti identitasnya seolah dirinya yang dulu tidak pernah lahir. Seandainya wajah bisa diubah dengan mudah, dia pasti akan melakukan itu juga.

"I miss you, Tarissa."

🌇🌇🌇

Saat ini Tarissa sedang duduk di balik meja, di depan seorang pria berseragam polisi lengkap. Di samping pria berseragam itu, pria lain dengan kaos hitam sedang membongkar tas dan bukti ke atas meja.

"Oke, Tarissa. Kami hanya bertanya sederhana. Jangan takut. Ini hanya sebagai penguat saja," ucap pria berseragam itu.

Tarissa mengangguk. "Tentu."

Sekitar 30 menit kemudian, pemeriksaan selesai. Tarissa berjalan menghampiri Vian yang sedang menunggu di luar ruangan. "Gimana?" tanya pemuda itu.

"Berjalan dengan lancar."

"Bentar lagi istirahat. Mau makan siang bareng gue? Gue yang bayarin deh," ajak Vian.

Tarissa melihat wajah penuh harap Vian, lalu mengangguk. Menolak rezeki itu tidak baik. Selagi ada yang gratis, tunggu apa lagi!

Vian dengan semangat mengajaknya masuk mobil dan membawanya menuju rumah makan. Dia melirik lelaki itu yang terlihat sangat bersemangat. Mau tak mau dia tertawa dalam hati. Yeah, keluarga Dhea lucu. Dia jadi merindukan keluarganya. Setelah ini selesai, dia pasti akan pulang.

Tunggu sebentar lagi.

Kurang dari 15 menit mereka tiba di rumah makan yang Vian maksud. Lelaki itu buru-buru keluar dan membukakan pintu untuknya sambil berkata, "Silakan, Ratuku."

Tarissa terkekeh pelan. "Terimakasih, pengawal," sahutnya.

"Lah, kok pengawal? Raja dong," ralat Vian. Keduanya berjalan bersisian menuju ke dalam.

"Kalau tidur, jangan sambil jalan. Nanti jatoh," ujar Tarissa. Dia tersenyum lebar saat melihat ke samping. Abang Dhea ini tidak diragukan lagi tampan dan bikin pangling. Dan dia tidak buta untuk tidak melihat itu.

"Lama-lama lo gue masukin penjara. Bisa-bisanya maling hati gue," ucap Vian merayu.

"Ampun, Pak Polisi. Jangan tangkap saya!"

Keduanya terus tertawa hingga masuk ke rumah makan. Di seberang jalan, Archlucky memperhatikan keduanya dengan wajah dingin. Sebelum benar-benar masuk, perempuan itu sempat menoleh ke arahnya. Namun hanya sekilas.

"Bos, besok Martin akan melakukan pertukaran di bar kita. Apa kita harus mencegahnya?" Pria berpakaian formal di sebelahnya bertanya.

"Kita lihat dulu." Archlucky menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari tempat Tarissa berdiri tadi. "Cari informasi lelaki itu," ucapnya.

"Baik!"

🌇🌇🌇

Oke. Pendek dan lama. Sekian dan terimakasih. Jari kalian mager memberi vote. Jari saya juga bisa mager buat mengetik. Mwehehe. Canda. Tapi emang mager sih.

Harap pembaca yg baik hati tidak kabur.

Harap pembaca yg baik hati tidak kabur

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mantan NyusahinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang