Abang-Adik sama saja

244 22 10
                                        

Ditulis, 27 Oktober 2021.

🌇🌇🌇

Tarissa berjalan dengan sedikit terhuyung. Dia tidak bohong saat berkata jika kepalanya sakit. Oleh sebab itu dia harus segera keluar dari tempat ini secepatnya.

Bukan, bukan berarti dia tidak percaya pada Archlucky. Namun, lelaki ini pernah meninggalkannya 5 tahun lalu. Jadi, apalagi yang bisa dipercaya?

Setibanya di luar, mereka disuguhi pemandangannya menyilaukan mata. Iya, karena cahaya motor yang berjajar langsung mengarah ke mereka. Jika hanya satu atau dua masih biasa. Tapi yang ada di sana puluhan motor.

Di barisan paling depan ada perempuan yang ia kenal sedang duduk santai di atas motor dengan eum pedang di punggungnya.

Tarissa ingat Vian yang masih di dalam. Mau tidak mau dia meringis pelan. Hah! Abang dan adik sama saja.

Dia memang mengirim pesan tadi. Tapi maksudnya itu agar Dhea datang dan membawanya pergi saat situasi mendesak. Bukan malah membawa rombongan seperti anak SMA tawuran!

"Udah kelar reuni mantannya?" tanya Dhea dengan suara keras. Membuat Tarissa mengutuk pelan.

"Bacot! Ayo pulang. Pala gue bocor!" balasnya, ngegas.

Dhea beranjak turun dari motornya, hal itu membuat temannya yang lain ikut bergerak. Namun, dia memberi kode agar mereka tetap diam. Saat dia berjalan mendekat, Tarissa bisa melihat jika pedang di punggung Dhea lebih panjang dari yang ia lihat.

Tiba di depannya, Dhea langsung berdecak kesal. "Bonyok kayak gini ntar dikira Mama gua yang ngajak lu tawuran. Nasib gua dianak tirikan," gerutunya.

"Terima nasib." Tarissa hendak pergi bersama Dhea tapi Archlucky menahan tangannya. Dia menatap wajah lelaki itu dengan tanda tanya.

"Biar aku yang antar," ucap Archlucky.

Dhea mencibir dan berkata dengan sinis, "Dih siapa elu? Mantan gak ada hak ngatur-ngatur. Minggir sana!" Namun lelaki itu tetap tidak melepaskan genggamannya.

Tarissa menghela napas panjang. Jika ini berlanjut, entah kapan mereka akan pulang. "Gue sama dia, lu ikut dari belakang," ujarnya pada Dhea.

Dhea berdecih tidak puas, tapi tetap memberi jalan.

Sebelum mereka pergi, para polisi tadi juga keluar dengan tiga tahanan. Mereka sedikit kaget dan menoleh pada perempuan di sebelah Archlucky. Dia sudah mendapat perlindungan si iblis itu, tapi di luar dia juga memiliki pendukung!

Sementara teman-temannya sedang berpikir, Vian menghampiri adiknya. Tanpa rasa bersalah dia menepuk pundak kanan perempuan itu kuat. "Ngapain lu di sini? Bawa pasukan segala. Mau tawuran lagi? Gue tangkep nih!" katanya.

Dhea membersihkan pundak kanannya seolah ada kuman yang menempel. "Anda siapa, ya? Jangan sok kenal," ucapnya sinis. Kemudian beranjak pergi menuju motornya.

"Si anjir. Gue aduin Mama, biar gak dibolehin ngapel!" celetuk Vian.

Dhea menghentikan langkahnya, lalu berbalik. Tangan kanannya menarik pedang dari sarungnya dan mengarahkan ujung benda tajam itu ke leher Vian. Teman-teman Dhea bersorak heboh, sementara para polisi segera menodongkan pistol padanya.

"Ganti Abang bisa gak sih?" Dhea melirik para polisi itu, dia tidak mengenal mereka. "Main keroyokan gak baik," cibirnya.

Vian berdecih, lalu menyuruh rekannya untuk menurunkan senjata. Jika mereka tanpa sengaja menekan pelatuk, kepalanya bisa hilang dipenggal ibunya. "Gue juga mau ganti adek. Yang cantik kayak Tarissa!" balasnya.

Mantan NyusahinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang