Tarissa Acasha, perempuan berumur 25 tahun yang suka berpindah tempat tinggal. Dia akan tinggal paling lama setahun pada suatu tempat, setelah itu pindah ke kota lainnya. Menurutnya jika tempat itu sudah berisik, maka lekas pindah. Bukan tanpa alasa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Gue mau ketemuan sama orang ntar siang." Tarissa berkata sembari membenarkan jilbabnya yang berantakan.
"Sama siapa? Baru juga ke sini udah punya temen aja lu," tanya Dhea. Dia sedang menyetir dengan khusyuk. Tujuan mereka sekarang kafe Dhea. Gadis itu ingin mengecek kondisi di sana sambil mengajak Tarissa jalan-jalan.
Sekampret apapun Tarissa, gadis itu tetap saja temannya yang polos. Polos di sini dalam artian menganggap semua orang baik. Lima tahun ini masih belum cukup untuk dia menghilangkan kebiasaan itu. Jadi, mari tunjukkan seberapa keras hidup yang sesungguhnya.
"Gue ketemu dia waktu masih di Kalimantan. Ternyata dia juga ke sini. Jakarta Timur sih tepatnya. Trus tadi pagi dia ngajak ketemuan. Dari pada gabut, gue iyain aja," papar Tarissa.
"Gabut mata lu! Dijual mampus lu! Lu kira ini kampung lu?" dumel Dhea. Tidak habis pikir dengan temannya ini karena begitu mudah menerima ajakan orang yang baru dikenal.
"Siapa juga yang mau beli cewek kek gue. Makannya banyak, ngabisin duit doang," celetuk Tarissa.
"Ginjal lu bisa beli iPhone keluaran terbaru."
Tarissa berdecak kesal. "Iya iya. Orang gue ngajak ketemuan di kafe elu, kok. Selow aja selow," ujarnya.
"Hilih. Ntar gua liat yang mana manusianya. Gua yakin pasti penjahat yang lu pungut," katanya penuh keyakinan.
"Keliatan dari tampang lu. Sekelas Archlucky aja dipacarin. Mending juga Ryan ke mana-mana."
"Bukan salah gue karena pernah pacaran sama dia. Abisnya dia gemes sih. Imut-imut gimana gitu," ucap Tarissa sambil tersenyum.
Dhea langsung melotot, menoleh ke arahnya dengan wajah tak percaya. "Imut kata lu?! Imut palalu patah?!" teriaknya.
"Ha-ha-ha! Bercanda elah. Tapi dia manis, sih. Dulu maksudnya."
"Bodo amat!"
Keduanya terus melempar kalimat penuh emosi sepanjang perjalanan. Jarak rumah Dhea dan kafe yang dituju lumayan jauh, jadi akan terasa bosan jika hanya diam seperti patung.
Begitu Dhea selesai memarkirkan mobilnya, Tarissa mengikuti gadis itu dari belakang.
Kafe milik Dhea cukup besar, lebih besar dari milik temannya yang mereka datangi tadi malam. Dengan konsep Eropa tapi menu asli Indonesia. Macam-macam kue tradisional tersedia di sini. Hal itu terasa aneh, tapi itulah ciri khasnya. Yeah, Dhea memang suka hal yang unik seperti itu.
"Siang, Bos Dhea." Begitu masuk para karyawan langsung menyapa gadis itu dan hanya dibalas senyum tipis olehnya.