Ditulis, 26 April 2021.
🌇🌇🌇
Suasana temaram di ruangan itu menjadikannya tempat yang cocok untuk melakukan transaksi ilegal. Juga tempatnya yang berada di sekitar hutan membuatnya tidak terjangkau warga biasa.
Seorang pria muda sedang duduk bersama pria lainnya. Di tengah meja terdapat koper kecil berisikan uang kertas berwarna merah. Lalu di sebelahnya ada sebungkus paket yang dibalut plastik hitam. Besarnya seperti kotak sepatu.
"Selanjutnya di mana?" seorang pria dengan kumis tebal bertanya.
"Jakarta timur. Di babyclub. Gua punya orang dalam di sana," jawab pria muda itu. Dia Martin Mahaganta. Pemuda yang Tarissa temui di minimarket kemarin.
"Club yang juga nyediain jasa itu?" tanya pria di sebelah si kumis tak percaya. "Kudengar pemilik tempat itu berbahaya. Jika dia tidak senang, maka dia tidak segan mengirim orang itu ke penjara. Dan yang mengerikan jika berakhir di penjara buatannya," ujarnya.
Udara tiba-tiba mencekam seolah lelaki yang dimaksud sedang mengawasi mereka.
"Kita hanya akan bertransaki di sana. Bukan merusuh di tempat itu. Selagi tidak menyinggungnya, semua bakal baik-baik aja. Karena itu satu-satunya tempat yang aman dari jangkauan polisi," ujar Martin.
Setelah berpikir lama, akhirnya mereka mengangguk setuju.
"Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini. Gimana pun tempat ini gak seaman itu," kata Martin kemudian. Dia bangun lalu mengambil koper tadi, setelah itu pamit menuju pintu depan. Sementara ketiga orang tadi lewat pintu belakang.
Memasuki mobil, dia menyalakan mesin lalu pergi dari tempat itu. Saat sudah mencapai jalan raya, dia berhenti di depan rumah makan modern. Sebelum turun, dia memeriksa isi koper itu, lalu tersenyum puas.
Dia Martin Mahaganta, bandar narkoba paling dicari pihak polisi. Tidak ada yang tahu wajahnya karena berhasil bermain dengan rapi. Namun, tidak selamanya bangkai bisa disembunyikan. Bahkan mayat di dalam tanah saja meninggalkan jejak.
Saat ini dia beruntung. Namun, siapa yang tahu selanjutnya seperti apa.
🌇🌇🌇
Tarissa sedang berada di dalam taksi bersama buk Iros dan kedua anaknya. Dia bosan, jadi selepas solat magrib langsung ke rumah wanita itu dan mengajak mereka makan di luar.
Taksi berhenti di depan rumah makan modern yang terlihat mewah. Lampu-lampu cantik menghiasi halaman depan. Juga bangunan yang besar membuatnya mencolok di antara yang lain.
Mereka turun dari taksi setelah Tarissa membayar ongkos. Mata Dina berbinar saat melihat tempat itu. Gadis itu langsung menarik tangan Tarissa agar segera masuk.
"Mas, ada meja kosong?" tanyanya pada orang pria dengan pakaian rapi di depan meja kasir. Pria itu melihat sekilas, setelah itu memeriksa sesuatu di layar komputer. "Masih ada, Nona. Di meja nomor 52. Di belakang sana." Pria itu menunjuk meja yang dimaksud.
Tarissa merengut. "Di bagian depan gak ada, ya?" tanyanya lagi.
"Bagian depan sudah dipesan sebelumya. Jadi hanya tersisa di belakang saja," jelas pria itu.
"Di belakang juga gak papa, Kak," ujar Tio.
"Ya udah deh." Tarissa mengangguk pasrah. Sebenarnya sama saja. Namun pemandangan di bagian depan lebih bagus dari pada di belakang. Dan juga lebih luas. "Bisa tolong antarkan," katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mantan Nyusahin
AksiTarissa Acasha, perempuan berumur 25 tahun yang suka berpindah tempat tinggal. Dia akan tinggal paling lama setahun pada suatu tempat, setelah itu pindah ke kota lainnya. Menurutnya jika tempat itu sudah berisik, maka lekas pindah. Bukan tanpa alasa...
