Ditulis, 28 November 2022.
🌇🌇🌇
Archlucky menyandarkan punggungnya di kursi dengan nyaman, sambil melihat dua wanita cantik berdiri di depannya. Yang satu berambut pendek di bawah bahu, satunya lagi berambut panjang ikal sepunggung.
Ditatap seperti itu, membuat ke dua wanita itu takut. Tiba-tiba nyali mereka menciut. Namun, kesempatan tidak datang dua kali. Meski takut, mereka hanya bisa menahannya.
"Jadi, kalian benar-benar mau pergi?" Suara dingin Archlucky seperti air es yang mengguyur tubuh, membuat orang menggigil.
"I–Iya." Ke dua wanita itu menjawab dengan suara pelan, takut.
Archlucky mengangguk. "Baik," katanya. "Kembalikan data diri mereka," ujarnya kepada pria yang berdiri di pintu. Pria itu ialah yang diakui Tarissa sebagai pacarnya.
Ke dua wanita itu tercengang, tidak menyangka akan semudah ini. Tadinya mereka kira harus membayar biaya jika ingin keluar dari tempat ini. Meski sudah mendapatkan kembali data diri mereka, ke duanya masih linglung.
Archlucky sendiri tersenyum tipis. Matanya melirik layar ponsel yang menampilkan wajah Tarissa lima tahun lalu. Muda dan naif. Dia bisa melihat pikirannya melalui mata gadis itu. Namun sekarang, mata polos itu dipenuhi kewaspadaan. Meski terlihat menyerahkan diri, dia tahu juga Tarissa sangat waspada terhadapnya.
Meski dia tidak menyukai itu, tetapi dia tahu itu yang terbaik. Terlalu percaya pada orang lain hanya akan membuat diri sendiri terluka.
"Yang gua suruh udah lu lakuin?" Dia tiba-tiba bertanya pada pria di pintu tadi.
"Sudah." Pria itu menyerahkan amplop cokelat yang sudah dia persiapkan sejak tadi. "Pria itu memang pernah menjadi bos Nona saat di Kalimantan. Tetapi, dia punya bisnis lain," katanya.
Archlucky melihat informasi yang ada di kertas itu. Semakin dia membaca, semakin berkerut alisnya. Dia sengaja menjauh agak gadis itu tidak terkena bau gelapnya. Tetapi ada bajingan lain yang datang menariknya ke kegelapan.
Baginya, Tarissa itu seperti matahari kecil. Hangat dan bersinar. Tidak pantas berada di kegelapan. Dia takut sinarnya menghilang.
"Permudah urusannya di sini. Lalu, beri sedikit masalah di Kalimantan," ujarnya. Dia tidak akan mengatakan apa-apa jika di tempat lain. Namun, di sini, tidak berlebihan jika dia mengatakan bahwa daerah ini kekuasaannya. Tidak ada masalah dengan pejabat rendah. Kecuali jika yang atas bertindak, akan merepotkan.
🌇🌇🌇
Sementara itu, matahari kecil yang dimaksud Archlucky sedang duduk dengan menyedihkan di aspal. Telapak tangan kanannya berdarah karena tergores aspal kasar. Matanya menatap pesepeda motor dengan tajam.
Tadi dia pergi ke minimarket karena makanan si putih sudah habis. Sekalian biar tidak gabut karena sendirian. Dhea sedang apel sama pacarnya, Alvian dan ayahnya sedang bekerja, sementara Sofia ada acara bersama teman sosialitanya. Jadilah dia ditinggal sendiri.
Namun, di tengah jalan, tiba-tiba ada motor yang melaju kencang dan menyerempetnya. Padahal dia sudah berjalan di tepi jalan. Ingin rasanya mengutuk.
Saat meratapi nasib, dari belakang terdengar suara teriakan jambret. Ternyata pemotor kurang ajar tadi adalah jambret. Diberi kesempatan balas dendam, dia mengambil batu seukuran kepalan tangan lalu melemparnya ke kepala pemotor itu. Untungnya masih belum jauh.
Meski sedang memakai helm, tetapi lemparan Tarissa cukup kuat untuk membuat kepalanya berdengung dan tidak bisa menyeimbangkan motornya. Setelah jatuh, ke dua korbannya langsung menghadiahi jambret itu dengan tendangan berkali-kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mantan Nyusahin
AcciónTarissa Acasha, perempuan berumur 25 tahun yang suka berpindah tempat tinggal. Dia akan tinggal paling lama setahun pada suatu tempat, setelah itu pindah ke kota lainnya. Menurutnya jika tempat itu sudah berisik, maka lekas pindah. Bukan tanpa alasa...
