1. Kak Rean

104 33 28
                                        

Happy reading! Jangan lupa vote nya!


"Kak Rean."

~Hafasha
_
_

____________________________________________
“Astaghfirullah… mau ngomong kasar dosa, tapi kalau nggak ngomong kasar rasanya kurang. Ya Allah panas banget! Oh my God! Muka gue gosong!”
Seorang gadis berponi dan berambut kuncir kuda heboh sendiri. Ia terus misuh-misuh karena kepala sekolah di atas sana masih berpidato hal-hal yang sudah ribuan kali ia dengar.

“Hafasha!” seru gadis itu sambil menarik lengan temannya.

“Apa sih, Ai? Berisik tau,” sahut gadis yang dipanggil Hafasha—nama lengkapnya Hafasha Deandra. Sejak tadi ia sibuk memandangi seseorang di barisan depan.

Aini mendengus panjang. “Subhanallah… punya temen kagak ada kasihan-kasihannya sama gue. Udah tau gue kebakar matahari, dia malah asik liatin ketua OSIS.”
Ia celotehan sendiri. “Zahra mana ya? Tau ah, gue mau izin ke UKS. Asha!”

Dengan malas, Hafasha menoleh. “Apa?”

“Ayok ke UKS. Sekalian liat Zahra. Dia lagi di UKS, ngurus orang. Ayooook!” Aini langsung menyeret lengan Hafasha. Baru beberapa langkah, mereka dihadang seorang kakak kelas bertubuh tegap.

“Ets, mau ke mana cewek-cewek?” tanya salah satu anggota OSIS, berkacak pinggang.

“Eh, Kak Fathan. Hehe… kita mau izin ke UKS yak, Kak. Pala Aini pusing,” kata Aini sambil cengengesan.

Fathan menaikkan kedua alis, menatap curiga. Belum sempat ia bicara 'ya' atau 'tidak', Aini sudah memotong:

“Ah lama lo, Kak!” sentaknya, lalu kembali menarik Hafasha.

Fathan melongo. “HEH! WOI! GUA BELUM IZININ LO BERDUA! AINI! HAFASHA!”
Suara menggelegar nya membuat semua kepala menoleh.

Mereka tidak peduli. Hafasha dan Aini terus berlari menuju UKS.

Sesampainya di sana, mereka melihat Zahra sedang memeriksa seorang kakak kelas. Setelah pasien itu tertidur dan Zahra keluar, ia kaget melihat dua sahabatnya masuk terburu-buru.

“Ada apa?” tanya Zahra. Di antara mereka bertiga, Zahra memang yang paling kalem. Dia juga kakak tingkat mereka, beda satu tahun.

“Gak tahu, tanya Aini aja,” kata Hafasha.

“Lah anjir—” Aini protes, merasa disalahin.

“Udah-udah… duduk dulu,” kata Zahra menengahi.
Afifa Humairah Az-Zahra—gadis manis, sedikit tomboi, tapi pintar.

Mereka duduk. Aini membagi permen. “Nih, gue bagi satu-satu. Kurang baik apa gue?”

“Halah,” ujar Hafasha malas.

“Sirik aje!”

Zahra bertanya, “Kalian ke sini gak dimarahin OSIS?”

“Kagak lah. Kan gue cantik, jadi OSIS-nya iyain aja.”
Zahra mengangguk polos. Hafasha makan permen dengan santai.

Tiba-tiba pintu UKS terbuka. Seorang anggota OSIS berseragam lengkap masuk, berkacak pinggang, menatap mereka.

Hafasha dan Aini refleks berdiri sambil melebar matanya.
Zahra bingung. “Ada apa, Than?”

“Tuh dua anak setan kabur aja, belum gue izinin!”
Fathan kesal. “Ikut gue ke ruang OSIS! Biar kakak-kakak lo yang lain kasih hukuman!”

Aini mengerjapkan mata. Lalu, sebelum keluar, ia berbalik dan menatap Fathan dengan mata menyipit.

“KAK FATHAN GALAK!”
Setelah itu ia kabur sambil menyeret Hafasha.

Fathan melongo. “Anjir… si Aini berani banget. Awas aja, gue gorok tuh leher.”
Ia menatap Zahra. “Zah, gue cabut, ya. Mau ngurus dua bocah itu. Thanks.”

Zahra mengangguk.

---

Hafasha dan Aini kini berdiri di depan ruang OSIS dengan jantung berdebar.

“Sha, lo ketuk gih. Gue males,” bisik Aini.

Hafasha mengangguk.

Tok tok.

Ceklek.

Keluar seorang anggota OSIS yang terkenal paling ditakuti. Wajahnya datar. Tubuhnya tinggi—dua gadis itu hanya sampai dadanya.

Miris, kalau kata Aini.

“Ada apa?” tanyanya dingin.

“I-itu, anu… kita disuruh Kak Dug—eh enggak! Maksudnya Kak Fathan!” ujar Aini gugup.

“Oh.”
Ia membuka pintu. “Masuk.”

Keduanya masuk. Dan seketika Hafasha terpaku melihat sosok di dalam ruangan.

Aini berbisik, “Perasaan tadi Kak Re ada di lapangan… kok udah di sini?”

Hafasha menelan ludah.

"Kak Rean."

TBC...

Revisi : Minggu, 23 November 2025

REANOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang